
Dewi pun larut dalam kesedihannya dikala mengingat kenangan indah bersama oma Ester. Bagi Dewinta ibu Ester adalah orangnya paling humble, humoris, baik hati. Bahkan Dewi menjadikan Eyang Ester sebagai panutan dan contoh dalam kehidupannya.
"Nenek rencananya nanti malam saya dan Dewi akan bertolak ke Korea Selatan, kami Ingin bulan madu oma dan insya Allah kami akan tinggal di rumah oma selama kami berada di Seoul nantinya," ujarnya Dewa yang tak henti-hentinya meneteskan air matanya.
"Oma kami pamit dulu, insya Allah sepulang dari Korea kami akan datang lagi, maafkan Dewa yah Nenek," tuturnya.
Dewa dan kemudian membaca surah ayat pendek alfatihah dan juga membacakan beberapa ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk ketenangan dan keselamatan Oma Estella di dalam kuburnya serta mendoakan Oma Ester.
Suasana haru tercipta sore itu di tempat pemakaman khusus keluarga Wijaya. Setelah menumpahkan segala gunda gulana dan segala keresahan dan kegelisahan serta kerinduannya, ia kemudian berpamitan kepada Nenek Ester.
Dewa kadang jika ke makam dan berziarah ke sana ia seakan-akan sedang berbincang-bincang santai dengan Neneknya itu Mama dari papanya itu. Dewa meninggalkan tempat pemakaman keluarga Wijaya..
Kedua memilih untuk singgah terlebih dahulu ke Masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur sebelum melanjutkan perjalanannya. Mereka lalu singgah ke restoran langganannya sebelum ke rumah sakit untuk membesuk papanya Pak David Hermansyah Wijaya
Dewa membawa dua buket bunga mawar merah dan bunga mawar putih. Mereka berjalan ke arah ruang perawatan ayahnya. Dewa bergantian masuk kedalam kamar perawatan tersebut. Dewa adalah orang yang pertama kali masuk ke dalam untuk menjenguk ayahnya.
"Assalamualaikum Ayah," ucap salamnya Dewa lalu mendudukkan bokongnya ke atas kursi.
Dewa menyimpan buket bunga itu ke dalam pot yang ada di atas meja nakas perawatan ayahnya, "Aku datang Ayah, apa ayah tidak capek harus tidur terus, apa ayah tidak rindu dengan anak-anak dan cucumu?" Kelakar Dewa didepan papanya yang terdiam Tanpa ada reaksi sedikit pun sambil menggenggam tangan ayahnya.
Dewa mengecup puncak genggaman tangan Pak Wijaya lalu, ia kembali meneteskan air matanya melihat kondisi ayahnya yang tidak mengalami perubahan bahkan ayahnya betah tidur yang masih koma akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa bulan yang lalu.
"Maafkan saya, ini semua terjadi gara-gara aku yang terlalu egois, kenapa ayah harus menyusul kami, padahal aku sudah melarang papa tapi, papa tidak mendengar larangan kami yang masih sanggup dan bisa melindungi dan menjaga diri kami sendiri," tuturnya Dewa.
__ADS_1
Dewa sungguh sangat sedih dan menyesal kejadian naas saat itu yang menimpa pada papanya, "Papa jangan marah Jika aku mengajak ke sini Istri Arya yah, ia sangat ingin bertemu dengan Papa," canda Dewa.
Dewa setelah berbicara seperti itu, berjalan ke arah luar untuk segera memanggil istrinya untuk masuk ke dalam ruangan perawatan Papanya Pak Wijaya, "Assalamualaikum… siang papa bagaimana kabarnya, ini Dewi yang datang menjenguk Papa,kami sudah sangat merindukan kepulangan Papa," ungkap Dewi yang sesekali mengelap tetesan air matanya yang membasahi pipinya itu.
Sebenarnya ia setiap hari mengunjungi Papa mertuanya tanpa sepengetahuan dari siapa pun.
"Aku datang lagi Papa, aku berharap papa tidak bosan melihat kedatanganku di sini dan juga aku berharap Papa bahagia dengan kedatangan kami," imbuhnya Dewi sambil membersihkan tubuh dari Pak Wijaya.
Setelah membersihkan tubuh Tuan Besar Wijaya Papa mertuanya, ia kembali duduk di kursi, "Papa cepatlah bangun yah, karena aku hamil cucumu Papa, apa kamu tidak ingin melihatnya lahir dan tumbuh hingga besar seperti Papa," jelas Dewi sambil mengelus perutnya yang masih rata itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Papa senang kan dengarnya kalau kamu akan jadi kakek lagi dan Papa adalah orang yang paling pertama yang tahu, Mas Dewa belum tahu berita gembira ini Pa," ungkap Dewi sambil tersenyum dengan perkataannya di depan Pak Wijaya Smit.
Tanpa sepengetahuan dari Dewi, perlahan tangannya Pak Wijaya bergerak seolah-olah mendengar dan mendapat respon positif dari percakapan Dewi barusan. Delia kemarin Pagi memeriksa Kalender di Handphonenya.
Dewi tidak ingin menyampaikan kabar gembira ini kepada suaminya ataupun orang lain. Dia akan menyampaikan kabar gembira ini kepada suaminya setelah mereka tiba di Korea.
"Saya pamit dulu yah, insya Allah aku akan datang lagi kalau sudah pulang balik dari Korea, tapi ayah jangan tanya orang lain yah, terutama kepada Mas Dewa kalau aku hamil lagi anaknya," canda Dewi sambil tersenyum.
Keduanya pun pamit karena hari semakin sore, mereka pamit kepada ayahnya dan kepada perawat pribadi Ayahnya. Mereka berjalan ke arah parkiran mobil yang ada di rumah sakit.
Tapi tanpa sengaja Dewa melihat wajah seseorang yang membuatnya kaget dan Ingin mengejar mobil orang itu. Tapi Tiba-tiba lampu merah sehingga ia, terpaksa menghentikan laju mobilnya dan kehilangan jejak orang itu. Padahal niatnya ingin mengikuti langkah orang tersebut.
"Ini tidak mungkin!! Aku kira dia sudah meninggal!" Batinnya Dewa dengan tangannya yang masih setia di atas kemudi.
__ADS_1
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
__ADS_1
I love you all Readers…..