Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 23


__ADS_3

Setelah Dewi minum air putih dan tak lupa membantu Dewi untuk minum obat. Dan meminta izin untuk ke luar karena ingin memanggil dokter.


"Mas keluar dulu yah, mau panggil dokter untuk ngecek keadaan kamu, ga apa-apa kan aku tinggal sebentar?" Pamit Dewa di hadapan istrinya itu.


"Ga apa-apa kok Mas, pergi saja insya Allah aku masih bisa walaupun sendirian, " kilah Dewi.


Sebenarnya Dewi ingin menangis tapi sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan tangisnya tersebut. Ia tidak ingin memberikan beban dan tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain terutama suaminya sendiri.


Setelah mendengar informasi dan kabar dari dokter bahwa hanya satu calon bayinya yang meninggal sedangkan dua lainnya selamat membuatnya Dewi tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT.


"Syukur Alhamdulillah… Makasih banyak yah Allah… Engkau masih memberiku kesempatan untuk menjadi seorang Mama untuk kedua kalinya dalam hidupku, Engkau menitipkan buah cinta kami lagi di dalam rahimku," cicitnya Dewi dengan berlinangan air mata.


Dewi sangat bahagia dan berjanji tidak ceroboh lagi dalam bersikap dan bertindak, ini semua Dewi lakukan demi keselamatan calon anaknya. Ia tidak ingin kesalahan di masa lalunya yang membuat salah satu calon anaknya harus keguguran.


"Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan merawat anak-anakku dengan baik dan penuh kehati-hatian," batinnya Dewi.


Sesuai dengan permintaan Dewi yang ingin makan masakan hasil tangan suaminya, ahirnya Dewa pamit untuk pulang ke rumah Eyang Ester di Seoul Korea Selatan.


"Alhamdulillah… aku akan menggunakan kesempatan ini menjadi suami siaga yang selalu setia mendampingi istriku ketika sedang mengandung bayi kembar kami, cukup dulu aku pergi jauh dari sisinya ketika ia hamil anak pertama kami yang Alhamdulillah juga kembar," gumam Dewa dengan penuh rasa haru, bahagia dan antusias sekaligus bercampur menjadi satu bagian di dalam hatinya.


Dewa sebelum pulang ke rumahnya yang di Seoul, ia singgah terlebih dahulu untuk membeli semua bahan-bahan makanan yang dia perlukan untuk memasak makanan. Makanan request sesuai dengan keinginan istrinya yang ngidam yang diinginkan oleh Dewinta dan ternyata makanan itu semua sangat baik dan cocok untuk ibu hamil.


Beberapa saat kemudian, Dewa sudah sampai di rumahnya. Ia segera ke dapur untuk memasak makanan. Karena Dewi tidak ingin menyentuh makanan lain selain yang dibuat oleh dari khusus tangannya Dewa suaminya langsung sendiri.


Arya dibantu oleh asisten rumah tangganya yang bertugas di bagian dapur. Dewa hanya meminta tolong untuk membersihkan dan memotong daging menjadi beberapa bagian sesuai dengan seleranya. Tapi untuk urusan bumbu dialah yang meracik bumbu itu.


"Aku tidak boleh membuat istriku marah jika, mereka yang memasakkan makanan tersebut untuk Dewi," lirihnya Dewa.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan serta kesabaran dalam memasak dan meracik berbagai bumbu dan bahan makanan semua masakan yang sesuai dengan keinginannya Dewi sudah masak.


Semua makanan yang dimasak olehnya Dewa sudah siap. Dewa tersenyum ramah lalu menyerahkan kepada artnya untuk mengemas makanan itu ke dalam wadah tertutup.


"Tolong semua masakan ini, di masukin ke dalam tempat supaya rasa hangat nya terjaga, dan tolong jangan sampai ada yang tumpah atau berantakan serta terlupakan dalam masukkan kedalam tempat itu," pintanya Dewa sembari melepaskan apron dari tubuhnya yang terpasang dengan sangat pas di tubuh atletisnya.


"Baik Tuan Muda Dewa sesuai dengan yang Anda harapkan dan perintahkan!" Balasnya Meina asisten rumah tangganya yang paling dipercayainya.


Dengan senyuman tipis Dewa kemudian melangkahkan kakinya lalu berjalan ke arah kamarnya karena ingin membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya sebelum ke rumah sakit.


"Aku yakin Dewi istriku akan lahap makan makanan masakanku tersebut," cicitnya Dewa lalu membuka seluruh pakaiannya dan bersiap untuk mandi.


Setelah mengganti pakaiannya, tiba-tiba handphone berdering. Ternyata yang menelponnya adalah Kim adik sepupunya.


"Assalamu alaikum Kim," salam Dewa.


Dewa berfikir sejenak, karena rencana awalnya adalah ingin ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan siang untuk Dewi, "Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke sana!" Imbuhnya Dewa dengan berat hati.


Dewa menuruni undakan tangga dan berjalan ke arah dapur untuk mencari keberadaan uncle Park. Tapi tidak menemukan keberadaan Uncle Park. Arya berjalan ke arah taman belakang, akhirnya Dewa melihat uncle Park sedang duduk menyendiri di bawah pohon gingko.


"Assalamu alaikum uncle…" sapanya Dewa yang mengucapkan salam..


Uncle Park kaget dengan kedatangan Dewa, Uncle Park segera menghapus sisa air matanya sebelum Dewa melihat wajah uncle Park yang dipenuhi tetesan air mata.


"Waalaikum salam…" ucap uncle Park dengan suara sedikit bergetar.


Dewa tahu dan menyadari kalau Uncle Park sedang menangis tapi, dia berpura-pura tidak melihatnya. Karena Dewa tidak ingin mencampuri urusan pribadinya Uncle Park lagian karakternya Dewa memang seperti itu.

__ADS_1


Dewa meminta tolong kepada Uncle Park untuk membawakan makanan sekalian menjaga Dewi untuk sementara waktu selama Dewa berada di kantornya untuk mengerjakan pekerjaannya yang tidak bisa diwakilkan kepada asisten ataupun orang lain.


"Uncle bisa kah aku minta tolong??" Tanya Dewa dengan hati-hati karena tidak ingin kehadirannya menggangu aktifitas dan kenyamanannya.


****************


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


I love you all Readers…..

__ADS_1


__ADS_2