
Anak laki-laki itu merasa terganggu dengan kehadiran Bima, karena mereka sedang asyik bermain. Sedangkan Bima hanya tersenyum menanggapi perkataan bocah laki-laki itu. Ia segera duduk di bangku yang anak-anak itu tempati. Bima mencoba untuk berkenalan dengan kedua anak kecil itu.
Walaupun Bima sering mendapatkan penolakan ataupun kata-kata yang agak judes dan bernada marah, tetapi ia tetap tidak putus asa. Bima Sakti entahlah kenapa tertantang untuk semakin mendekat ke anak laki-laki itu.
"Siapa namanya cantik?" tanya Bima sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Michelle Ziudith Husain uncle," Jawab Michelle.
"Sungguh nama yang cantik secantik orangnya dan seindah wajahnya juga," pujinya Bima.
"Emangnya penting yah Uncle tahu nama kami??" tanya Nakula dengan wajahnya yang garang.
"Enggak juga sih, cuma Uncle mau punya teman di sini kan uncle baru datang dan belum punya teman satupun," kilahnya Bima Sakti.
"Kalau gitu jadi temannya Michelle saja Uncle, kebetulan rumah Michelle gak jauh kok dari sini, itu sana," timpalnya Michelle sambil menunjuk arah rumahnya yang hanya terpaut jarak 12 rumah saja dari taman.
Bima Sakti langsung tahu lokasi rumah Michelle karena dekat dari taman," Kakak Nakula jangan gitu ngomongnya sama uncle, kata papa harus sopan kalau berbicara sama orang yang lebih tua, gak baik loh kalau bicaranya kasar," sanggahnya Michelle.
"Nama bocah laki-laki itu adalah Nakula, nama yang bagus," gumam Bima Sakti.
"Jadi nama kamu Andreas yah?" tanyanya Bima Sakti yang ingin memastikan.
"Iya uncle nama kakak aku Nakula Sak...." ucapan Michelle terpotong karena Nakula segera menutup mulut adiknya dengan rapat.
Bima heran melihat tingkah Nakula yang tiba-tiba menutup mulut adiknya dengan memakai tangannya, "Kakak Andreas kok mulut Michelle ditutup sih kan jadi sesak nafas nih," keluhnya Michelle Yeoh berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya Nakula.
"Maafkan Kakak yah," ucapnya Nakula dengan penuhi penyesalan.
Bima hanya menatap penuh tanya ke arah ke dua anak ini. Wajarlah mereka bersikap seperti itu kepada orang yang baru mereka jumpai dan kenal.
__ADS_1
"Maafkan kami uncle, Kak Nakula tidak bisa menjawab pertanyaan dari Uncle soalnya mami kak sudah berpesan untuk tidak membuka nama panjangnya di depan orang yang baru dikenal," jelasnya Michelle panjang lebar.
Bima anya mengernyitkan dahinya hal itu dilihat oleh Michelle. Raut wajahnya Bima penuh dengan tanda-tanda tanya Michelle pun mengerti.
"Kami harus mematuhi perintah dan larangan maminya Nakula Uncle!" Pungkasnya Michelle.
Bima tidak ingin banyak tanya lagi, hanya jadi penonton saja untuk melihat anak-anak itu bermain. Saking asyiknya memperhatikan ke dua anak itu sampai-sampai ia tidak menyadari kalau kalau hndphonenya berbunyi nyaring dan bergetar sedari tadi.
"Angkat dong telponnya Uncle, ribut tahu!" Nyinyir Anak laki-laki itu dalam bahasa Inggris.
Bima seolah-olah tersihir oleh kata-kata bocah kecil itu dan langsung mengambil handphonenya di saku jasnya, "Maaf uncle angkat teleponnya dulu," tuturnya Bima kepada Sakula dan Michelle Ziudith.
"Silahkan uncle" jawab bocah perempuan itu yang tidak lain adalah Michelle.
Michele menatap ke Nakula, "Kok Kakak judes amat sama uncle Bima? kan uncle dia baik gak pain kak sama Michelle?" tanya Michelle penuh selidik.
Perkataannya yang masih sempat di dengar oleh telinganya Bima walaupun ia berjalan sudah menjauh sudah agak dari posisi bangku panjang taman. Dia hanya tersenyum menanggapi perkataan kedua bocah kecil itu. Ia meninggalkan tempat duduknya dan berjalan agak menjauh untuk mengangkat teleponnya.
"Alhamdulillah, aku sudah sampai di sini," balasnya Bima.
"Alhamdulillah kalau gitu Abang, hati-hati dan tolong laporkan secepatnya hasil temuannya," pinta Dewa.
"Sudah dulu soalnya aku mau makan siang, lapar soalnya," tampik Bima.
"Ok, ingat pesanku hancurkan siapapun orangnya yang telah menganggu dan merugikan perusahaan!" Kesalnya Dewa.
"Siap bos, perintah siap di laksanakan," ucap Adrian.
Percakapan mereka pun terhenti dan Bima kembali berjalan ke arah bangku taman yang tadi sempat diduduki. Tetapi ke dia bocah kecil itu tidak lagi berada disana. Bima pun berusaha untuk mencoba mencari keberadaan kedua anak itu, tapi tetap tidak ditemukan keberadaannya.
__ADS_1
Bima mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, "Ke mana yah kedua bocah kecil itu, mungkin mereka sudah dijemput oleh ke dua orang tuanya," gumam Bima Sakti.
Bima segera kembali ke tempat duduknya setelah selesai mengangkat teleponnya Bima. Tapi ia kembali dibuat heran karena kedua Blbocah yang diajaknya berbincang-bincang tadi sudah tidak berada lagi di posisi mereka sebelumnya.
Bima terus berusaha untuk mencari keberadaan mereka, tapi tetap nihil saja tidak menemukan keberadaan kedua bocah itu. Bima berniat ingin mendatangi rumah yang ditunjukkan oleh Michelle, tapi tiba-tiba Handphonenya kembali berdering lagi yang mengehentikan langkah kakinya.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…...
__ADS_1