Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 32


__ADS_3

"Jangan kamu sakiti dirimu sendiri, semua ini sudah menjadi garis tanganmu yang harus kamu lalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan," timpal Bu Aminah.


"Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi Kakak, karena aku sudah mengandung bayi calon anak dari Daniel," imbuhnya Diana yang membuatnya semakin menangis.


"Kamu harus kuat untuk menjalani semuanya biarkanlah seperti air yang mengalir,"sahutnya Pak Irwan dengan bijak.


"Gimana kalau orang-orang menanyakan perihal kehamilanku kakak, aku tidak sanggup dan tidak bisa menerima kalau ada orang yang menghina anakku kelak," ratap Diana lagi.


Ketiganya tidak menemukan jalan keluar dari permasalahan pelik Diana. Tiba-tiba pintu rumah Irwan diketuk dari luar. Pak Irwan dengan Bu Aminah saling bertatapan satu sama lainnya.


"Assalamu alaikum," salam seseorang dari luar rumah.


Mereka terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Mereka takut jika orang itu mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan yang nantinya akan membawa fitnah untuk ketiganya.


Pak Irwan menatap ke arah istrinya," Aminah, tolong buka pintunya dan lihat siapa yang datang," ucap Paman Irwan.


Bibi Aminah segera berjalan ke arah pintu depan rumahnya. Dan membuka knop pintu.


"Assalamualaikum," sapanya Gunawan sambil tersenyum ramah.


"Waalaikum salam," ucap Bibi Aminah seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar dan lega.


"Silahkan masuk Dek," ucap Bibi Ainun.


"Oiy kak tadi kalau aku tidak salah lihat, sudah pulang!" Tanya Gunawan.


Gunawan adalah cowok yang sejak dulu menaruh hati kepada Diana saat mereka masih sama-sama sekolah menengah atas. Cowok yang mencintai Diana dalam diam yang selalu menunggu kepulangannya.


Pemuda yang cukup tampan yang wajahnya mirip orang bule. Gunawan adalah adik sepupu Bui Aminah sekaligus teman sekolah Dianaa sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Bibi Aminah kaget dengan kedatangan Gunawan dan mengetahui kalau Diana sudah pulang.


"Kakak Aminah, aku tidak salah lihat kan tadi?" Tanyanya Gunawan yang sedikit mengeraskan suaranya agar Aminah sepupunya itu mau membuka suaranya dan jujur.


"Maksud kamu a-pa, saya tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan?" Kilahnya bibi Aminah yang tergagap.


"Tolong jujur lah kak, aku mohon dengan sangat!" Bujuk Gunawan.


Sebelum Bibi Aminah menjawab pertanyaan dari adik sepupunya itu, datanglah Diana bersama Paman Irwan dari arah dalam dengan berusaha tersenyum walaupun tipis itu dilakukan agar apa yang sedang terjadi bisa ditutupi oleh mereka.

__ADS_1


Gunawan tersenyum melihat Diana dan sangat bahagia setelah melihat cewek yang sudah lama dia rindukan.


Gunawan tersenyum melihat Diana, "Assalamu alaikum Diana," salam Gunawan.


"Waalaikum salam," jawab mereka bertiga.


Gunawan kaget melihat wajah Diana yang sembab dan matanya yang memerah yang merah dan masih ada bekas tetesan air mata di wajah cantiknya Diana yang kelewat saat tadi dia buru-buru untuk menghapusnya.


Gunawan ingin sekali menghapus jejak air matanya tapi, itu tidak mungkin ai lakukan karena ia sangat sadar posisinya sebagai apa di dalam keluarga besar itu.


"Silahkan duduk dek," ucap Irwan.


"Makasih Kak" balasnya Gunawan sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi kayu yang beralaskan buludru.


Karena Gunawan malu ditatap terus oleh ketiganya dan membuat keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Mau tidak mau Gunawan harus berani mengutarakan keinginan dan niat baiknya tersebut.


"Gunawan ke sini bermaksud ingin melamar Diana, Mas," tuturnya Gunawan.


Yang membuat mereka kaget dan saling berpandangan dan mengerti maksud dari perkataan Gunawa, walaupun niatnya itu baik dan tulus.


"Maafkan kelangcangan ku yang ingin melamar Diana," ucap sendu Gunawan.


Diana hanya terdiam dan tidak mampu berkata-kata lagi, hanya air matanya yang mewakili dari semua perasaan yang dialaminya saat itu juga.


"Aku tidak mungkin menikah dengan Mas Gunawan tapi, kalau aku tidak menerima lamarannya maka aku akan diperguncingkan oleh masyarakat setempat," batinnya Diana yang menundukkan kepalanya.


Gunawan menangadahkan wajahnya ke atas, "Aku sangat serius dan menyadari semua yang aku katakan dan jika Diana menerima lamaran ku insya Allah.. oang tuaku akan datang ke sini untuk berbicara selanjutnya rencana baikku ini," jelas Arianto.


Diana, Irwan dan Aminah saling berpandangan untuk meminta persetujuan dari saudaranya untuk berkata jujur kepada Gunawan.


"Maafkan aku kak, tapi itu tidak mungkin soalnya aku sudah menikah dan bahkan aku sudah hamil," ungkapnya Diana yang tidak hentinya menangis.


"Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu aku akan menerima semua ini," tampik Gunawan.


Singkat cerita akhirnya Diana dan Gunawan pun melangsungkan pernikahan dan tidak ada satupun keluarga ataupun tetangga yang mengetahui kebenaran keadaan Diana yang sebenarnya.


Diana meminta maaf kepada Gunawan karena tidak menjadi istrinya yang seutuhnya. Mereka telah sepakat untuk membina hubungan rumah tangga hanya di atas kertas saja dan hak itu hanya mereka berdua yang tahu.

__ADS_1


Alhamdulillah Gunawan dengan senang hati menerima dan mengabulkan permintaan dari Diana. Gunawan beberapa bulan kemudian, Diana akhirnya melahirkan bayi yang sangat cantik. Dan bayi mereka kembar.


Tapi sayangnya salah satu diantara mereka tidak bisa diselamatkan. Bayi itu berjenis kelamin perempuan juga adik dari Dewi.


Kehidupan rumah tangga yang dijalani oleh Diana dan Gunawan layaknya seperti keluarga yang normal seperti keluarga di luar sana. Bahkan tidak satu pun yang curiga dengan kenyataan ini.


Tapi satu bulan sebelum kecelakaan maut itu, Diana mulai terbuka dan jujur untuk bercerita tentang kehidupan rumah tangganya padaku dan memintaku jika suatu saat nanti kamu bertanya maka Bibi harus menjawabnya dengan jujur.


Flashback off..


"Seperti itulah kisah mereka, Diana sampai akhir hayatnya tidak bisa membuka pintu hatinya untuk mencintai Gunawan hanya ada satu nama di dalam hatinya yaitu Papa kandung kamu yaitu Daniel Wijaya," jelas Bibi Aminah yang sesekali menyeka air matanya.


"Sungguh cinta yang tulus dan suci yang tak meminta imbalan apapun itu, harus hidup dengan sabar tanpa menuntut cintanya harus dijawab ataupun dibalas oleh Diana, apakah di dunia ini masih ada pria yang seperti Pak Gunawan," gumam Dewa.


Dewi, Pak Jung, Bu Aminah, Pak Irwan tidak bisa menahan tangisnya. Mereka sama-sama menangis tersedu-sedu setelah mendengar kisah pilu kehidupan rumah tangga Ibu Delia.


****************


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...

__ADS_1


I love you all Readers…..


__ADS_2