Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 63


__ADS_3

"Dasar suami mesum udah hampir punya anak empat, tapi itu nya gak bisa dikontrol," umpatnya Bima sambil membayangkan dirinya bersama Zameera dulu.


Bima memeluk pigura foto wanita yang sangat ia sayangi di atas meja kerjanya, "Aku sangat merindukanmu sayang," gumamnya Bima sambil mengelus wajah Zameera di dalam foto itu.


Karena sibuk dengan pikirannya tentang Zameera, Bima melupakan tugas yang ia berikan untuk anak buahnya yang mencari informasi tentang orang yang telah menolongnya.


Bima Sakti melajukan mobilnya ke arah Hotel tempat pelaksanaan acara ulang tahun perusahaan Ionic Internasional Utama TBK. Bima memakai setelan jas yang baru saja Bima ia ambil dari Butik NS. Bima sangat puas dengan hasil jahitan dan buatan butik tersebut.


Sebelum memasuki area parkiran khusus mobil, hpnya Bima Sakti berdering, ia segera mengangkat teleponnya.


"Halo, ada apa Nic?" tanya Bima sambil memarkirkan mobilnya.


"Saya sudah dapat alamat perempuan yang telah menolong Bos waktu Anda kecelakaan beberapa hari yang lalu," jelasnya Nicolas.


"Terus?" Timpalnya Bima dengan singkat.


Bima mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Nicolas, karena Bima tidak ingin sampai salah alamat atau pun salah orang yang berakibat fatal nantinya.


"Makasih Nic! gaji kamu aku naikkan bulan ini beserta bonusnya," tuturnya Bima sambil tersenyum bahagia.


Bima sumringah karena akhirnya ia bisa menemukan malaikat penolongnya sewaktu ia mengalami kecelakaan.


"Makasih bos," balasnya Nic dari seberang telpon yang bahagia.


Sambungan telpon pun terputus Bima Sakti, ia melangkahkan kakinya ke dalam hotel tersebut. Bima kembali menjadi pusat perhatian dari seluruh tamu undangan yang sudah memadati ballroom hotel.


Seperti biasa Bima akan mengeluarkan aura seseorang yang tidak mudah untuk diraih. Semua mata tertuju kepada penampilan Bima Sakti, tidak hanya kaum muda yang memperhatikan kedatangannya, tapi ibu-ibu sosialita pun terpesona dengan penampilan dan ketampanan Bima.

__ADS_1


Adrian seakan-akan menjadi Idola di Pesta malam itu. Keesokan harinya, Bima Sakti Martadinata Hermansyah bangun dari tidurnya dan tak lupa melaksanakan kewajibannya yaitu sholat subuh terlebih dahulu.


Kemudian Bima menyempatkan dirinya untuk berolahraga. Pagi ini Bima sudah memantapkan dirinya untuk mendatangi rumah wanita yang menolongnya tempo hari. Dia membeli banyak bunga, makanan dan kue. Bima tidak ingin ke rumah sang penolongnya dengan tangan hampa. Bima sangat antusias untuk mendatangi rumah malaikat penolongnya.


"Aku harus berterima kasih kepada ia yang telah ikhlas menolongku tanpa pamrih," gumam Bima Sakti.


Seakan-akan orang yang akan ditemui itu adalah orang yang sudah bertahun-tahun dia tidak jumpai. Senyum manis tak pernah pudar di wajah tampan Bima. Semenjak ia meninggalkan apartemennya menuju rumah cewek itu yang ada di pinggiran kota new York. Perjalanan yang ditempuh oleh Bima cukuplah jauh jaraknya.


Tetapi karena dalam suasana hati yang Bahagia perjalanan yang seharusnya melelahkan dan membosankan menjadi kebahagiaan untuk Bima. Rumah yang akan didatangi oleh Bima ternyata terletak tidak jauh dari pantai.


Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan Bima. Daun kelapa melambai-lambai menyambut kedatangannya di lokasi daerah itu. Bima kembali memeriksa handphonenya untuk mengecek ulang alamat yang dikirim oleh Nicolas ke hpnya. Tidak butuh lama, rumah yang dicari oleh Bima sudah ditemukan.


Bahkan Bima sudah berdiri di depan pintu Rumah yang bercat putih gading. Rumah yang tampak sederhana tapi tetap memperlihatkan bahwa pemilik rumah ini adalah orang yang dari kaum jetset. Bima masih ragu untuk mengetuk pintu rumah itu.


"Aku ketuk atau pulang saja dulu atau…," cicitnya Bima yang mulai ragu padahal sudah di depan pintu rumahnya perempuan yang menolongnya.


"Ini tidak mungkin!" Lirihnya Bima.


Bahkan Bima mematung dan tidak tahu berbuat apa-apa ketika melihat wajah dari pemilik rumah itu. Sang pemilik rumah pun sama halnya yang dialami oleh Bima sendiri kaget dengan kedatangan Pria yang selama ini ia hindari bahkan Pria yang ia coba untuk hapus dari ingatan dan hatinya.


Bruk!!!! Pintu itu terdengar tertutup dengan cukup sangat keras.


Zameera langsung menutup kembali pintu rumahnya, ia juga tak lupa menutup semua horden jendela rumahnya, bertujuan agar Bima tidak melihat keadaan dalam rumahnya.


"Zameera! tolong buka pintunya," ratap sambil mengetuk pintu rumah Zameera.


Zameera tidak bergeming bahkan sudah menutupi kedua telinganya.

__ADS_1


"Za! apa kamu tidak merindukan Abang, sebenci itu kah kamu kepadaku??" Bujuknya Bima sambil tetap dan terus mengetuk pintu rumah Zameera.


"Aku mohon buka pintunya, Zameera ijinkan aku masuk, saya mohon dengarkan aku, please!" Rengeknya Bima Sakti sembari meneteskan air matanya yang sedari tadi berusaha dia tahan.


Ada banyak muncul pertanyaan dari benak Bima, karena tujuan Bima ke rumah itu adalah untuk menemui perempuan yang telah menolongnya. Tapi entah kenapa orang yang ia sayangi dan dia rindukan lah yang muncul di depan pintu bercak putih gading itu.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya: Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...

__ADS_1


I love you all Readers…...


__ADS_2