
Tapi tanpa sengaja Dewa melihat wajah seseorang yang membuatnya kaget dan Ingin mengejar mobil orang itu. Tapi Tiba-tiba lampu merah sehingga ia, terpaksa menghentikan laju mobilnya dan kehilangan jejak orang itu. Padahal niatnya ingin mengikuti langkah orang tersebut.
"Ini tidak mungkin!! Aku kira dia sudah meninggal!" Batinnya Dewa dengan tangannya yang masih setia di atas kemudi.
Setelah dari rumah sakit serta makam mendiang Nyonya Ester. Dewa dan Dewinta segera pulang ke rumahnya karena berencana untuk packing barang-barang yang akan mereka bawa nantinya ke Korea Selatan.
Tapi di dalam perjalanan, Dewa melihat seseorang yang membuatnya kaget dan ingin mengejar orang itu untuk memastikan apa penglihatannya tidak salah atau bukan sekedar ilusi atau fatamorgana.
"Ini tidak mungkin!! Apa aku tidak salah melihatnya atau mataku yang bermasalah!" Gumam Dewa sembari sesekali mengucek matanya itu.
Tapi karena suasana jalan yang cukup macet dan juga lampu merah menyala sehingga semua pengendara mobil dan lainnya harus berhenti. Langkahnya Dewa terpaksa terhenti karena kondisi dijalan yang memaksanya untuk segera mengehentikan usahanya tersebut.
Saking kesalnya Dewa marah, mengumpat dan juga memukul setir mobilnya," sial!! kenapa juga harus sekarang lampu merahnya menyala," kesalnya Dewa.
Apa yang diperbuat oleh Dewa membuat Dewi keheranan dan bingung melihat tingkah laku suaminya tersebut, "Ada apa Kakak?" Tanya Dewi yang penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya setelah Dewa memukul kuat setir mobilnya.
Dewa segera menetralkan perasannya yang sudah diliputi rasa amarahnya lalu menoleh ke arah Dewi sembari berucap, "Tidak apa-apa kok sayang, aku baik-baik saja kok," sanggah Dewa yang menutupi kenyataan yang ada dan juga berusaha menutupi kegugupannya dan kemarahannya.
Dewa terpaksa berbohong menutupi apa yang dilihatnya, karena ia juga belum yakin dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Dewa juga tidak ingin membuat Dewi cemas dan khawatir jika ia mengetahui siapa orang yang dilihatnya tersebut.
"Aku tidak boleh membiarkan Dewi tahu siapa sosok orang yang aku lihat tersebut," batinnya Dewa.
Sebagai istrinya, Dewi tahu dengan sangat kalau telah terjadi sesuatu kepada suaminya. Tetapi, itulah Dewi yang tidak bisa kepo dengan urusan suaminya atau orang lain jika orang tersebut tidak ingin bercerita langsung dan terbuka tanpa ditanya sebelumnya. Dewi akan menunggu Dewa bercerita langsung tanpa dipaksa.
Dewa melajukan laju mobilnya setelah lampu hijau menyala. Beberapa saat kemudian, mobil mereka memasuki pekarangan rumahnya. Petugas keamanan rumahnya segera bertindak untuk membuka pagarnya yang saat itu sudah dimatikan pintu otomatisnya. Pak Rudi yang bekerja sebagai security, segera membukakan pintu pagar rumah mereka.
"Aku sudah tidak sabar untuk berangkat ke Korea," Gumamnya Dewi.
__ADS_1
Setelah mesin mobilnya mati, Dewi tanpa menunggu lama ia segera berjalan ke arah dalam rumahnya. Ia segera ke dalam rumahnya dan naik ke tangga menuju lantai atas rumahnya. Dimana tempat kamar kedua anaknya berada. Posisi kamarnya mereka ada di lantai dua. Dewi mengambil dua koper besar, satu untuk pakaiannya dan satu untuk suaminya.
Dewi membawa banyak pakaian tebal seperti jaket, celana panjang, syal dan kaos tangan dan kaki. Karena kebetulan fi Korea sekarang musim dingin atau salju. Dewi sudah diperingatkan dan diwanti-wanti oleh suaminya untuk tidak membawa terlalu banyak pakaian. Karena menurut suaminya, mereka bisa membeli pakaian setelah sesampainya di Seoul.
"Syukur Alhamdulillah, akhirnya aku juga bisa menginjakkan kakiku ke Korea Selatan," cicitnya Dewi sambil mengemas barang-barangnya.
Dewi membawa berbagai macam jenis makanan ringan dan kerupuk yang tidak ada di Korea dan makanan asli Indonesia. Karena semua itu adalah makanan yang paling disukai oleh suaminya ini yang paling penting.
Sore harinya, mereka berdua bertolak dari rumahnya menuju kediaman utama keluarga Wijaya untuk menjemput anak-anaknya dan sekalian pamitan kepada Mama mertuanya Bu Elisha.
Mobil Dewa sudah memasuki pekarangan rumah kedua orang tuanya yang terbilang luas. Ia selalu disambut hangat oleh security rumah kediaman utama Wijaya. Dewa baru mengayunkan tangannya ke arah pintu utama untuk memutar kenop pintu, tapi tangannya belum menyentuh pintu itu sudah terbuka dengan lebar dari arah dalam.
Pelakunya tidak lain adalah si kembar yang super aktif. Si kembar langsung berlarian ke arah ayahnya dan si kembar langsung memeluk tubuh ayahnya.
"Papa!!" Pekiknya Zacky.
"Assalamu alaikum anaknya papa yang paling cakep se dunia," sapanya Dewa sambil menghujani ciuman wajah putranya itu.
"Waalaikum salam Papa nya Zack yang paling super duper tampan dan gantengnya paripurna," balasnya Zacky kepada papanya.
"Kalau puterinya papa gimana, apa baik-baik saja atau gimana kok gak mau mendekat ke arah?" Tanyanya Dewa yang melihat putrinya yang tiba-tiba terdiam.
"Zahra kan gak mau ganggu apa yang kakak dan Papa lakukan jadi, aku hanya diam saja," kilahnya Zahrah.
"Ooh gitu yah Nak, anaknya Papa sangat perhatian dan pengertian banget yah, buat Papa bahagia melihat kalian semua," timpalnya Dewa.
Nyonya Elisah datang dan menyuruh mereka masuk ke dalam, "Kita lanjutkan ceritanya di dalam saja yah Nak," ujarnya Mama Elisah.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan menuju ruang tengah. Serta tak lupa membahas tentang rencana keberangkatan mereka ke Korea Selatan hari ini.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…..
__ADS_1