
Sedangkan di dalam mobil milik Bima Sakti Martadinata Aryaduta Martadinata, pasangan suami istri itu masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan hingga pagi hari menjelang. Keesokan harinya, Bima terbangun dari tidur panjangnya.
Karena alarm di handphonenya sudah berbunyi menandakan bahwa hari sudah subuh. Bima segera bangun dan memakai kembali pakaiannya yang teronggok di lantai mobil. Kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya Zameera.
Bima kemudian mengemudikan mobilnya kembali ke rumahnya. Karena ia tidak ingin terlambat melaksanakan shalat subuh.
Satu bulan kemudian setelah kepulangan Dewa, Dewinta, beserta rombongan dari USA. Sudah satu minggu pula Sinta Ismayanti Rajab tidak masuk kerja. Dewa berinisiatif segera menelpon istrinya karena ingin meminta bantuan kepada Dewi agar Dewi segera ke rumahnya Sinta.
Menurutnya Dewa yang lebih cocok untuk menemui Sinta dibandingkan dengan orang lain untuk mengambil dokumen penting itu dari pada orang lain. Entah kenapa Dewa merasakan sesuatu yang aneh semenjak kepulangan mereka dari Amerika serikat.
Bukannya Dewa tidak menghiraukan keadaan Dewinta yang sedang hamil, tetapi Dewa merasa Istrinya yang paling cocok untuk menangani masalah yang terjadi kepada Sinta, jika seandainya ada apa-apa dengan Sinta. Dewi pun tidak berfikir panjang dan langsung otw tanpa pikir panjang ke rumah Sinta bersama beberapa pengawalnya.
Sesampainya di sana, Dewinta heran dengan lampu teras rumah Sinta yang belum dipadamkan dan itu tidak seperti biasanya. Dewa buru-buru berjalan dan segera mengetuk pintu rumah Sinta.
"Assalamu alaikum Sinta," ucapnya Dewi sambil mengetuk pintu rumahnya Sinta.
Tapi tidak ada Jawaban sama sekali dari dalam. Dewi terus mencoba untuk mengetuk pintu rumah Sinta. Tapi lagi-lagi gak ada reaksi dari dalam rumah tersebut.
Dewi keheranan, "Ke mana yah kok jam segini Sinta belum bangun atau ia gak ada di rumahnya? tapi sepertinya Sinta masih ada di dalam deh karena lampunya juga masih nyala," gumamnya Dewi.
Prang… Bruk!!!.
Dewi kemudian memutuskan untuk mendobrak pintu rumah Sinta karena ia mendengar ada suara benda jatuh dari dalam rumahnya yang cukup besar bunyinya.
"Tolong dobrak pintunya!" Teriaknya Dewi.
"Nyonya Muda! tolong minggir sedikit," ucap bodyguard Dewinta.
__ADS_1
Dewinta segera mengjauh dari depan pintu. Pintu rumah Sinta pun akhirnya terbuka juga. Dewi segera ke dalam untuk mencari keberadaannya. Dewi langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya Sinta.
Tetapi hasilnya tetap sama, keberadaan Sinta tidak ditemukan. Dewi segera berjalan ke arah dapur dan ternyata Sinta bberada di dalam dapur rumahnya. Sinta sudah tergeletak tak berdaya di lantai rumahnya. Banyak darah yang mengucur di sekitar pergelangan tangannya.
"Sintaaaaa!" teriaknya Dewi yang sudah shock melihat kondisi dari sahabatnya itu yang sudah tidak sadarkan diri.
Dewi sudah nampak sangat khawatir ia sudah meneteskan air matanya saking sedihnya melihat kondisi dari sahabat baiknya.
"Sinta bangun, ada apa denganmu, ayok bangun, aku mohon sadarlah!" Ratapnya Dewi sambil memerintahkan kepada anak buahnya untuk mencari kotak p3k sebelum Sinta untuk segera di bawah ke rumah sakit.
"Cepat gendong, kita bawa dia ke rumah sakit," perintah Dewi ke bodyguardnya.
Beberapa saat kemudian, Dewi dan rombongannya sudah tiba di rumah sakit milik keluarga besar Yudistira. Seluruh karyawan di rumah sakit sudah tahu siapa Dewinta. Sehingga dokter dan para suster antusias menyambut kedatangan Dewinta.
Sinta segera di bawah masuk ke ruang unit gawat darurat untuk segera mendapatkan pertolongan. Raut cemas jelas sangat nampak dari wajah Dewi. Bahkan pakaian yang dikenakan oleh Dewi penuh dengan noda darah segar milik Sinta. Dewi segera menghubungi nomor hpnya Candra Kirana salah satu temannya juga.
"Waalaikum salam, ada apa kok suaramu seperti orang yang sedang ketakutan?" Tanyanya Candra.
"Tolong cepat datang ke rumah sakit Medistra Center, aku mohon cepatlah datang," Pintanya Dewi.
"Kamu kenapa, apa kamu udah mau lahiran yah?" tanya Candra Kirana Larasati.
"Ngaco yah perutku itu baru jalan empat bulan," tampiknya Dewi yang greget dengan tanggapan dari Chandra Kirana.
"Terus kamu pain di rumah sakit?" Tanya lagi Candra.
"Rina mencoba untuk memotong pergelangan tangannya, aku mohon tolong jangan banyak tanya lagi segera lah datang ke sini," ketusnya Dewi sambil mematikan sambungan teleponnya agar Candra tidak banyak tanya lagi segera bersiap untuk berangkat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Sinta bisa tertolong. Sinta segera dipindahkan ke ruang perawatan terbaik di rumah sakit itu. Dewi tidak kuasa melihat kondisi dari sahabat kecilnya itu.
"Rina, kok kamu sampai tega memotong urat nadimu sih?" Tanya Dewinta yang sudah terisak dalam tangisnya.
Sedangkan di belahan dunia lain, Arjuna sudah mendapatkan kesepakatan perjanjian kerja sama dengan Perusahaan Sinopec Group perusahaan yang selama ini selalu bekerja sama dengan perusahaan kakaknya Dewa. Arjuna pun memutuskan untuk pulang segera ke Indonesia setelah kerja samanya selesai.
Arjuna tidak ingin menunda terlalu lama, ia ingin segera menemui perempuan yang telah dia renggut kehormatannya secara paksa. Arjuna sama sekali tidak mengetahui jika perempuan itu adalah sahabat baik dari kakak iparnya sendiri.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.. Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya: Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
__ADS_1
I love you all Readers…...