
Dewi tertawa disaat mendengar permintaan suaminya, "Jangan yang itulah aah entar ada yang bangkit lagi kan aku belum bisa kakak," ucap Dewi sambil menutup mulutnya.
"Iiisshh gak asyik, siapa coba yang duluan menggoda Mas!" ketusnya Dewa yang sudah ingin mendekati arah istrinya.
Dewi langsung mundur dan bersandar ke ranjangnya, tapi Arya semakin memajukan bibirnya. Tersisa sekitar 1 centi saja jarak mereka, tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar dari luar. Mereka berdua spontan menolehkan wajahnya ke arah pintu.
Dewa sudah tersenyum penuh arti dan bersiap Ingin mengecup bibir Istrinya, tapi pintu kamar ruang rawat inap Dewi tiba-tiba terbuka. Keduanya segera menghentikan kegiatannya dan spontan bersamaan menolehkan kepalanya ke arah pintu.
Dewa mengusap wajahnya dengan cukup kasar dan perlahan menghembuskan nafasnya dengan kasar," kenapa juga disaat seperti ini ada saja gangguan," ketusnya Dewa.
Dewinta hanya tersenyum melihat suaminya yang kesal dan geram dengan orang yang membuka pintu itu tanpa permisi dan ijin sebelumnya. Dewi mengelus punggung tangan Dewa agar lebih bijak dan tenang.
"Semua ini terjadi juga gara-gara Mas sih yang melupakan untuk mengunci rapat pintunya," gumam Dewi saat suaminya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Ternyata pelaku yang membuat Dewa marah dan jengkel adalah Paman Park Kim Jung yang sudah membuka pintu kamarnya. Tanpa aba-aba atau pun meminta ijin terlebih dahulu. Sebenarnya ini kesalahannya sendiri Dewa yang tidak mengunci kenop pintu terlebih dahulu.
Dewa sangat jengkel karena apa yang dilakukan mendapatkan gangguan. Uncle Park pun merasa tidak enak hati karena mengganggu aktivitas Tuan Muda dan Nyonya Mudanya itu. Pak Jung jadi salah tingkah karena menyadari bahwa ia datang pada waktu yang tidak tepat.
"Maafkan Paman yang lupa mengetuk pintu terlebih dahulu," tuturnya Pak Jung dengan sendu seraya menundukkan kepalanya dan membungkukkan sedikit badannya.
Dewa tidak tahu harus berbuat apa, mau marah juga tidak mungkin. Mengingat Uncle Jung adalah orang yang telah berjasa dalam hidupnya selama ini.
__ADS_1
"Maafkan Paman, Nak," ucap Uncle Park merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa kok Paman, hal ini biasa terjadi, ini juga kami lupa mengunci pintu itu," ujarnya Dewi yang sembari tersenyum melihat tingkah Dewa yang seperti saja anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Pak Jung masih merasa menyesal tapi karena ada sesuatu hal yang sangat penting dan ia tidak ingin menuna apa yang ingin dia lakukan dan sampaikan di depannya Dewi.
"Silahkan duduk Paman, pasti Paman kelelahan berjalan," pintanya Dewi seulas senyumannya.
Pak Jung segera berjalan ke arah sofa dan mendudukkan bokongnya ke atas sofa berwarna cokelat itu.
"Nyonya Muda, bolehkah saya mengetahui siapa nama Ibu Nyonya!" Pinta Pak Jung dengan penuh harap.
"Tolong dibaca dengan baik, mungkin Nyonya mengetahui salah satu isi dari berkas ini," ujarnya sambil menyodorkan sebuah berkas ke depannya Dewi dan Dewa.
Pak Jung membawa CV dari adik angkatnya bahkan beberapa lembar fotonya yang sempat dia miliki selama adiknya itu berada di Seoul Korea Selatan.
Sebenarnya Pak Jung sudah mengetahui dan membaca dengan seksama isinya tapi,ia ingin lebih jelas dan tidak ada lagi keraguan setelahnya. Isi yang ada di dalam CV itu awalnya membuatnya sangat terkejut dan tidak percaya sekaligus bahagia dalam waktu yang bersamaan.
"Mudah-mudahan dugaanku dan perkiraanku benar adanya dan tidak salah lagi," batinnya Pak Jung.
****************
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…..
__ADS_1