
"Ya Allah Apa Aku tidak boleh mencintainya, apa aku tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayang dari pria lain!" bathinnya Sinta.
Arjun sama sekali tak bosan memandang wajah calon istrinya yang begitu cantik dan ayu dipandangnya. Arjun tidak ingin melepaskan pegangannya di pinggang Sinta yang seolah akan pergi jauh saja.
"Kenapa Dia rela dan ikhlas menikahiku padahal jelas-jelas Dia bukan Ayah dari bayi yang aku kandung," batinnya Sinta Ismayanti Rajab yang hanya bisa tertahan di bibirnya.
"Semakin aku dekat dengannya jantung ini semakin berdetak kencang pula, Aku takut jika Sinta mengetahui kalau sebenarnya Aku lah yang menghancurkan masa depan dan menjadi penghancur pernikahannya," gumam Arjuna Arsenio Prasetya Kusuma dalam hatinya.
Mereka saling berpandangan dan masing-masing menyelami makna yang tersirat dari raut wajah dan mata mereka. Mereka berpandangan satu sama lain dalam keadaan yang saling berpelukan. Andai saja Gauri Candra Kirana Larasati dan Dewinta Arinda Farhana Wijaya tidak datang mungkin mereka masih menikmati suasana yang tercipta diantara mereka.
"Heeemmm!!" Dewa berdehem untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Sedangkan Dewinta dan Gauri hanya tertawa melihat reaksi dari Sinta dan Arjuna. Wajah mereka memerah seperti buah Apel masak untuk menahan malunya yang kedapatan saling bertatapan satu sama lainnya.
"Sin, gimana keadaannya Paman?" tanya Dewinta.
"Aaaaku belum tahu Dewi, kami juga baru sampai soalnya," jawabnya Sinta yang malu-malu dan tergagap dalam berbicara.
"Kok kamu gagap sih Sinta, kami gak lakuin apa-apa loh sama kamu atau pun marah gitu jadi selow saja lah," gurau Gauri sambil tersenyum melihat reaksi dari keduanya.
Dewi dan suaminya yang sudah berjalan bersama Dewa Aryasatya Abimanyu Wijaya meninggalkan mereka yang masih berdiri di tempatnya. Mereka berjalan menuju ruang ICU tempat perawatan bapaknya Sinta. Sesampainya di sana Rina langsung histeris melihat kondisi ayahnya.
"Bibi, yang sabar yah kami turut prihatin dengan apa yang telah menimpa Paman Samsul," ucap Dewinta sambil memeluk tubuh ibunya Shinta Bu Rimah.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Paman, setahuku paman kan gak punya riwayat jantung sebelumnya?" tanya Gauri yang keheranan melihat kondisi pamannya.
Ibunya Sinta hanya bisa menangis dalam pelukan Dewinta. Sedangkan Sinta pun tidak bisa menahan tangisnya dan tersedu-sedu melihat kondisi ayahnya.
Arjun berusaha untuk menenangkan Sinta tetapi, Dia tidak ingin memeluk tubuhnya Sinta nanti dikira dirinya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tetapi ternyata Sinta sendiri yang langsung mulai memeluk tubuhnya, Arjuna spontan tersenyum penuh arti.
"Tadi Bapak baik-baik saja sewaktu keluarga besar dari kampung datang ke rumah, Kami sangat bahagia menyambut kedatangan mereka, tapi tiba-tiba Ibu Anne Mariah datang dan berteriak di depan rumah dan memaki-maki Sintaa bahkan ibu Anne sudah menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Sinta kepada keluarga besar kami padahal mereka satu pun tidak ada yang tahu," jelasnya Ibunya Sinta.
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
__ADS_1
"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."