Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 123


__ADS_3

Ibunya Sinta hanya bisa menangis dalam pelukan Dewinta. Sedangkan Sinta pun tidak bisa menahan tangisnya dan tersedu-sedu melihat kondisi ayahnya.


Arjun berusaha untuk menenangkan Sinta tetapi, Dia tidak ingin memeluk tubuhnya Sinta nanti dikira dirinya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tetapi ternyata Sinta sendiri yang langsung mulai memeluk tubuhnya, Arjuna spontan tersenyum penuh arti.


"Tadi Bapak baik-baik saja sewaktu keluarga besar dari kampung datang ke rumah, Kami sangat bahagia menyambut kedatangan mereka, tapi tiba-tiba Ibu Anne Mariah datang dan berteriak di depan rumah dan memaki-maki Sintaa bahkan ibu Anne sudah menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Sinta kepada keluarga besar kami padahal mereka satu pun tidak ada yang tahu," jelasnya Ibunya Sinta.


Dewa Arsenio Prasetya Kusuma Wijaya, Dewinta Aulia Ramadhani dan Gauri Candra Kirana Larasati dibuat marah oleh kelakuan dari Ibunya Yudistira, Dewi segera menatap ke arah suaminya.


Untuk meminta melaksanakan rencana mereka selama ini akan ia laksanakan. Dewa pun mengerti dengan tatapan Dewinta dan segera menelpon ke asisten pribadinya untuk segera datang ke rumah sakit.


"Assalamu alaikum, tolong segera datang ke Rumah Sakit Islamiah sekarang juga!" Perintahnya Dewa yang tidak ingin dibantah.


"Waalaikum salam, baik Bos!" ucap Laksmana Arsene Aryaduta Kusuma.


"Sepertinya sudah waktunya Yudis dan Rinjani mendapatkan pelajaran yang berharga yang tidak akan mereka lupakan," geram Dewa dengan amarahnya yang sudah membuncah.


Mereka duduk di luar ruangan ICU sambil menunggu bapaknya Sinta Ismayanti Rajab sadar. Sinta ditemani oleh Arjuna, Dewa berdua dengan Dewinta sedangkan


Gauri Candra Kirana Larasati anya sendiri.

__ADS_1


Gauri merasakan cemburu dengan perlakuan pasangan masing-masing dari kedua sahabatnya. Hal itu membuatnya Gauri jadi tidak bersemangat dan sedih.


"Aku merasa iri melihat mereka ya Allah… aku jygy ingin bahagia seperti mereka," batinnya Gauri.


Gauri merindukan kehadiran sosok suaminya yang dulu sangat perhatian dan penyayang sekarang semuanya tidak lagi sama semenjak anaknya putri tunggal mereka meninggal dunia karena sakit.


Langkah kaki dari Laksmana membuat Gauri tersadar dari lamunannya. Laksamana langsung tersenyum ke arah Dessy. Dessy tanpa sengaja membalas senyuman Dimas yang begitu manis dengan lesung pipinya.


"Gimana dengan yang Aku perintahkan, apa sudah beres??" Tanyanya Dewa ketika melihat kedatangan Laksmana.


"Sudah sesuai dengan yang bos perintahkan!" jawab Laksmana sepupunya Dewa yang berbicara formal.


Dimas ingin duduk sambil menunggu bapaknya Pak Ahmad. Sinta tetapi dia tidak tahu harus duduk di kursi mana karena yang kosong sisa kursi yang ada di dekat Gauri.


"Kenapa perempuan itu semakin aku perhatikan semakin menarik dan cantik saja," Laksmana membatin.


Laksmana tidak ingin terlalu dekat dengan Gauri karena Laksmana sudah mengetahui status Sinta bahkan sudah mengetahui dengan jelas gimana hubungannya Gauri dengan suaminya. Dessy langsung bergeser sedikit dari posisi duduknya semula agar Dimas bisa duduk.


Gauri kasihan melihat laksmana yang sudah berdiri hampir satu jam. Dimas pun duduk di samping Dessy dan tidak ada yang saling bertegur sapa. Mereka sudah tertidur pulas di pundak pasangan mereka masing-masing.

__ADS_1


Sedangkan Gauri mencoba untuk menahan kantuknya karena tidak tahu harus bersandar di mana, akhirnya ia mulai memejamkan matanya dan bersandar di dinding. Setelah beberapa saat, Gauri sudah tertidur pulas dan berkelana dalam dunia mimpinya.


Laksmana pun berinisiatif untuk memindahkan kepalanya Gauri ke pundak nya. Keesokan harinya, bapaknya Sinta sudah sadar dari komanya. Tetapi kondisinya semakin parah saja.


Semua orang terbangun dari tidurnya, dan mereka berlari ke dalam kamar perawatan bapaknya Sinta. Dewa sebenarnya ingin menyewa kamar yang ada di Rumah sakit itu untuk tempat istirahat mereka.


Tetapi Dewinta menolaknya dan baginya tidur di kursi lebih terkesan romantis. Rina dan ibunya tidak henti-hentinya menangisi keadaan Bapaknya Sinta pak Ahmad.


"Sinta!" ucap Bapaknya yang tidak jelas.


Sinta mendekati papanya,"Bapak istirahat saja dan jangan banyak bicara," cegahnya Sinta dihadapan bapaknya.


Pak Ahmad mengedarkan pandangannya,"Nak mana Nak??" Tanya Bapaknya Sinta.


"Aku di sini Pak," jawab Arjuna Aryasetio Permana Kusuma Wijaya.


"Nak waktu Bapak tidak lama lagi, bapak mohon dengan sangat untuk menikahi Sinta hari ini juga, tolong penuhi permintaan Bapak! Nak," ucap Pak Ahmad.


Kedua calon mempelai pengantin itu saling berpandangan satu sama lain dengan raut wajahnya yang keheranan dan kebingungan.

__ADS_1


"Apa aku harus menerima permintaan terakhir dari pak Rahmat?" batinnya Arjuna.


__ADS_2