Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 102


__ADS_3

"Aku juga ingin seperti mereka Sinta, semoga kamu setuju menerima pinanganku," batinnya Arjuna.


"Aku tidak berhak untuk menjawab semua pertanyaan dan permintaanmu, kamu seharusnya datang ke rumah orang tua sahabatku itu dan yang paling penting kamu sendiri yang berterus terang kepada Sinta, tetapi bukan sekarang, jangan lupa juga katakanlah semuanya sama mama dan papa di rumah," cibirnya Dewi yang memandang ke arah ranjang king size milik Arjuna.


Berselang beberapa menit kemudian, Sinta sudah terbangun dari tidurnya dan ngos-ngosan seakan-akan dia dari berlari mengelilingi stadion Gelora Bung Karno saja. Dewi cepat tanggap, ia langsung berlari ke arah Sinta teman terbaiknya itu.


Dewinta tanpa aba-aba langsung menampar wajah ganteng Arjuna setelah mendengar kenyataan dari mulut Emre. Dewia sangat prihatin dengan kondisi dan kesehatan Sinta Ismayanti Rajab. Danua takut jika terjadi sesuatu kepada jabang bayi Sinta Ismayanti Rajab.


Dewa berusaha menenangkan istrinya yang emosinya sudah tersulut.


"Arjuna, maafkan atas tindakan kakak iparmu, mungkin karena perempuan itu sahabat terbaiknya," Ungkap Dewa.


"Tidak apa-apa kok Abang, aku sangat mengerti dan wajarlah Dewia marah. Siapapun yang berada di posisi Dania pasti akan marah juga," ujarnya Arjuna sambil mengelus pipinya yang panas dan kemerahan.


"Aku juga tidak membenarkan apa yang kamu lakukan tapi aku tidak bisa ikut emosi, kita harus pikirkan dampaknya terhadap kesehatan Sinta dan bayinya, jika saya marah dan emosi itu sama saja menambah beban dan masalah kalian," jelasnya Dewa Arsyadi Sameer Wijaya Daniel.


Dewi Khaerani Azizah Wijaya Daniel segera kembali ke kamar Arjuna Wijaya Kusuma karena Dewi mendengar ada suara benda jatuh.

__ADS_1


"Sinta, aku mohon jangan lakukan itu, ingat ada bayi dalam perut kamu, apa kamu gak kasihan sama bayimu?" Bujuk Dewi yang berusaha untuk mencegah apa yang dilakukan oleh Ririn.


"Stop! kalau kamu maju selangkah saja, aku akan mengakhiri hidupku!" ancam Sinta yang ingin mengiris pergelangan tangannya.


Dua bersaudara itu Dewa dan Arjuna yang melihat itu segera bertindak untuk mendekati Sinta secara diam-diam.


"Sinta! istighfar, ingat masih ada Allah dan kami yang akan membantumu, jadi tolong jangan seperti ini, apa kamu tidak kasihan kepada bayimu?" Bujuknya Dewi sambil meneteskan air matanya.


Sinta entah kenapa terpengaruh dengan perkataan Dewi sehingga tidak ada lagi pergerakan dari Rina. Emre segera mengambil pecahan vas bunga dari tangan Sinta..


Dewi spontan langsung memeluk tubuh Sinta. Dan entah kenapa Sinta menurut saja waktu Arjuna memeluk tubuhnya padahal sebelumnya Sinta sempat histeris jika Arjuna mencoba mendekatinya. Sinta mempererat pelukannya dan langsung menangis tersedu-sedu.


Dewi mengerti maksud dari tatapan mata Arya, sehingga dia menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan permintaan Arjuna.


"Aku takut sekali, gimana kalau orang-orang menganggap aku wanita murahan yang hamil di luar nikah," ratapnya Sinta di sela tangisnya.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:

__ADS_1



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.. Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya: Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...

__ADS_1


I love you all Readers…...


__ADS_2