Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 13


__ADS_3

Dewi bahkan berselfi ria di bawah pohon yang daunnya warna pink itu. Dewa sama sekali tidak melarang Dewi dengan tingkah lakunya yang terbilang norak. Dewa bahkan mengabadikan momen itu yang terbilang langka. Karena selama ini ia tidak pernah melihat tingkah laku Istrinya seperti anak kecil.


Padahal mereka sudah menikah selama sepuluh tahun lamanya. Kim ikut tersenyum melihat tingkah laku Istri dari sepupunya. Kim sejenak teringat dengan kisahnya waktu itu bersama seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Selama hidupnya, ini yang pertama kalinya Dewinta menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di Korea Selatan. Negara yang selama ini menjadi negara impiannya selain ke Tanah suci Arab Saudi.


Delia sangat bahagia karena Dewa bisa mewujudkan impiannya," Alhamdulillah.. makasih banyak ya Allah… akhirnya melalui kemurahan hatiMu ya Allah.. aku bisa mewujudkan impian dan angan-angan aku untuk ke Korea Selatan," batinnya Dewinta sembari menyandarkan kepalanya ke pundaknya Dewa.


Mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke salah satu rumah pribadi milik Neneknya Bu Ester yang sering dikunjungi oleh Dewa dan saudaranya jika berkunjung ke Korsel.


"Alhamdulillah… makasih banyak Engkau memberikan aku kesempatan untuk membahagiakan istriku," gumamnya Dewa yang selalu tersenyum tipis melihat senyuman indah dari bibir istrinya itu.


Rumah itu terbilang rumah yang sangat sederhana dan masih mempertahankan model rumah khas orang Korea Selatan asli yang belum bercampur budaya barat atau pun. budaya dari negara lain dalam bentuk bangunannya maupun segala furniture dan fasilitas lainnya.


Tampilan depan rumah Eyang Ester. Rumah yang menjadi rumah persinggahan keluarga besar Wijaya Hermansyah jika berkunjung ke Korea. Nyonya Ester, sebenarnya memiliki banyak rumah yang lebih dari rumah ini. Tapi, Dewa lebih suka hidup dan tinggal di rumah itu.


Dewa juga pernah membeli rumah yang terbilang sangat mewah dan harganya yang fantastis. Tapi, lagi-lagi Dewa lebih suka dengan rumah ini. Rumah ini banyak menyimpan kenangan indah bersama Nyonya Ester. Karena itu lah Dewa mengutus seseorang untuk menjaga dan merawat rumah itu.


"Mas! Apa ini rumahnya mendiang Nenek Ester?" Tanyanya Dewi yang takjub melihat bentuk bangunan rumahnya keluarganya Dewa Wijaya.


Bentuk rumah Eyang Ester jika dilihat dari belakang. Siapa pun yang pernah datang dan menginap di rumah itu pasti akan bahagia dan rileks setelah keluar dari rumah ini. Rumah yang ditumbuhi berbagai pohon dan jenis tumbuhan yang membuat udaranya sejuk dan nyaman dipandang.


Mobil Kim memasuki pekarangan rumah Bu Ester. Kim membantu membawa barang-barang bawaan Dewa dan Dewi ke dalam kamarnya.


"Selamat datang Tuan Muda," sapanya Pak Kim Jung pelayan kepercayaan keluarga Wijaya yang ditugaskan untuk tinggal dan menjaga rumah itu.


Dewa tersenyum smirk kerahnya Pak Jung, "Makasih Paman Jung, bagaimana kabarnya Paman?" Tanya Dewa.

__ADS_1


"Baik seperti yang tuan Muda lihat," jawab Pak Jung.


"Alhamdulillah kalau gitu Paman, aku ikut bahagia dengarnya," imbuhnya Dewa.


Paman Jung melihat ke arah Dewi, dan Dewa mengerti maksud dari pandangan paman Jung yang menatap intens dan tajam ke arahnya Dewi.


Dewa memperkenalkan Istrinya di depan Pak Jung, "Paman kenalkan ini Dewinta Aulia Rahman istriku!" Ujarnya Dewa sambil memperkenalkan Istrinya kepada Paman Jung.


Dewi dengan perlahan mengulurkan salah satu tangannya kehadapan Pak Jung, "Dewinta, Paman Jung," jawab Dewi.


"Silahkan ikuti saya Nyonya, Paman akan menunjukkan kamar Nyonya Muda!" perintah Paman Jung di hadapan Dewi.


Sedangkan Dewa dan Kim menuju ruangan pribadinya yang ada di rumah itu. Mereka akan membahas hal penting mengenai Perusahaan Bu Ester.


Mereka berjalan beberapa saat dan akhirnya sampai lah di depan pintu kamar pribadi Dewa yang selalu dia pakai jika berkunjung.


"Ohh tidak apa-apa nak, itu sudah menjadi tanggung jawab Paman dan Paman senang bisa melakukannya untuk kalian," timpalnya Uncle Jung.


Dewi masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat sejenak sambil membuka handphonenya dan mulai memeriksa hasil jepretan kamera gawai nya.


Sedangkan di luar kamar, Paman tiba-tiba berhenti berjalan lalu berfikir sesuatu, "Kenapa senyumnya mengingatkan aku pada seseorang, apakah itu anaknya tapi itu tidak mungkin ia, karena aku dengar dari orang kalau dia sudah meninggal dunia," batinnya Paman Jung.


Paman Jung berjalan ke arah dapur karena ingin menyampaikan kepada pelayan yang bertugas di bagian dapur untuk memasak makanan khas Indonesia kesukaan Dewa dan Istrinya.


Pak Jung menatap satu persatu asisten rumah tangga lalu berucap, "Ingat makan malam ini menunya makanan khas Indonesia, karena Tuan Muda dan Nyonya Muda sudah datang dari Indonesia dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun," titah Paman Jung dengan cukup suara yang tegas.


"Baik Paman Jung," ucap Meyna yang ada di bagian dapur.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda. Kepala pelayan dapur menyiapkan beberapa bahan makanan dan bumbu-bumbu asli yang didatangkan dari Indonesia.


****************


 


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


I love you all Readers…..

__ADS_1


__ADS_2