
"Sinta Ismayanti Rajab, kok kamu sampai tega memotong urat nadimu sih?" Tanya Dewinta yang sudah terisak dalam tangisnya.
Sedangkan di belahan dunia lain, Arjuna sudah mendapatkan kesepakatan perjanjian kerja sama dengan Perusahaan Sinopec Group perusahaan yang selama ini selalu bekerja sama dengan perusahaan kakaknya Dewa. Arjuna pun memutuskan untuk pulang segera ke Indonesia setelah kerja samanya selesai.
Arjuna tidak ingin menunda terlalu lama, ia ingin segera menemui perempuan yang telah dia renggut kehormatannya secara paksa. Arjuna sama sekali tidak mengetahui jika perempuan itu adalah sahabat baik dari kakak iparnya sendiri.
"Tolong atur kepulangan ku ke Indonesia dan Aku mau sampai di sana tidak ingin Mamaku tahu dengan apa yang aku lakukan jadi tolong cari rumah lagi, Aku Ingin semuanya sudah siap sebelum aku sampai di Jakarta," perintahnya Arjuna lagi.
"Baik Bos," ucap asisten Pribadinya.
Arjuna tersenyum gembira karena akan segera bertemu dengan perempuan yang akhir-akhir ini telah mengganggu kenyamanan tidurnya. Bahkan dia sering membayangkan bagaimana caranya disaat sedang menggauli perempuan itu. Hatinya sering berbunga-bunga jika harus diingatkan kembali dengan gadis malang tersebut.
"Tunggu aku cantik, aku akan segera datang menemuimu bersabarlah dan tunggu aku," Gumamnya Arjuna dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Sedangkan di dalam area rumah sakit, Dewinta tidak segan meneteskan air matanya melihat kondisi sahabatnya yang belum sadarkan diri. Pintu ruangan perawatan Sinta terbuka, masuklah Candra Kirana Larasati. Dewi langsung berdiri dan cupika cipika-cipiki dengan sahabatnya itu.
"Kenapa Sinta bisa seperti ini, apa yang terjadi kepadamu, kenapa kamu tega ingin mengakhiri hidupmu?" Ratapnya Candra di sela tangisnya.
Dewi dan Candra berbincang-bincang santai sambil menunggu Sinta siuman dan sadar dari pingsannya. Berselang beberapa menit kemudian akhirnya terbangun dari pingsannya juga.
"Auhhh, sakit," jeritnya Sinta mengeluh sakit di area tangannya.
Dewi dan Sinta segera menghampiri Sinta yang sudah sadarkan diri tapi mengeluh dan meringis kesakitan.
"Mana yang sakit?" tanya Dewinta.
__ADS_1
Sinta memandangi satu persatu sahabatnya dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Dewi, tetapi Sinta malahan langsung saja menangis meraung-raung meratapi nasibnya.
"Dewi, aku tidak pantas untuk hidup lagi, kenapa kamu menolongku!" Ketusnya Sinta sambil mencoba untuk mencabut selang infusnya.
"Apa yang kamu lakukan haaa, kamu sudah bodoh apa!!" Gertaknya Candra Kirana yang kaget melihat Sinta yang ingin mencabut selang infus dari tangannya.
"Sinta!! istighfar sayang, apa kamu sudah lupa kalau minggu ini mamu akan menikah dengan Yudi?" Tanyanya Dewi yang berusaha mencegah tangannya Sinta.
Sinta langsung teringat kepada calon tunangannya, bukannya bisa berfikir tenang malah semakin mengencangkan suara tangisannya hingga suaranya memenuhi segala penjuru kamarnya. Hal itu membuat Dewi dan Candra keheranan dan saling bertatapan satu sama lainnya. Mereka kemudian saling berpandangan tidak mengerti.
"Kok tambah nangis, bukannya bahagia ini calon manten satu ini semakin menangis saja, kalau aku pasti bahagia lah," pungkasnya Candra sambil memeluk tubuh sahabatnya yang berusaha menenangkan dan membujuk Sinta Ismayanti Rajab.
"Dewi tolong telpon Yudi, dan tolong batalkan pernikahan aku dengannya," harapnya Sinta.
"Apa yang terjadi dengan kamu! kenapa sampai kamu ingin membatalkan pernikahan kalian yang sudah di depan mata dan sisa menghitung hari? apa kamu sudah gila?" ketusnya Dewi.
"Maksud kamu tidak pantas untuk bersanding dengan Yudi Setiawan Djodi? Apa alasan kamu sehingga dengan mudahnya berbicara seperti??" tanya Gauri Candra yang semakin dibuat kebingungan.
"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Candra, kalian itu sudah pacaran enam tahun lebih loh,dan itu bukan waktu yang singkat pula," tuturnya Dewi.
Sinta belum menghentikan tangisannya, bahkan ia sudah semakin histeris, "Aku sudah tidak perawan lagi, tidak mungkin mas Yudi menikahi cewek yang tidak bisa menjaga kehormatannya," teriaknya Sinta di sela isak tangisnya.
Delia dan Dessy dibuat kaget dengan perkataan Rina.
"Maksud kamu apa sih sebenarnya Sinta?, tolong jangan ngaco deh," kilahnya Dewinta.
__ADS_1
"Tolong jelaskan dengan baik maksud dari perkataan kamu Sinta!" pintanya Candra.
Sinta akhirnya menceritakan tentang semua yang terjadi pada dirinya saat ia berada di Amerika. Dewi dan Candra yang mendengar perkataan temannya itu shock dan kasihan kepada sahabatnya itu. Mereka kemudian berpelukan untuk saling memberikan dukungannya.
"Ya Allah... Sinta kamu harus sabar sayang, kami selalu ada untuk kamu," imbuhnya Dewi.
Tapi mereka tidak menyangka kalau apa yang mereka bicarakan ternyata terdengar sampai ke telinganya Yudi calon suaminya Sinta dan Dewa yang kebetulan berada di depan pintu kamar perawatan Sinta yang pintunya tidak rapat.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.. Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya: Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
I love you all Readers…...