Dewa Untuk Dewi

Dewa Untuk Dewi
Bab. 120


__ADS_3

Karena Sintaa sudah lapar akhirnya dia memutuskan untuk duluan makan. Sinta sebenarnya sangat malu dengan suara perutnya sendiri yang tidak bisa dikondisikan. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan. Mereka makan dengan lahap penuh hikmad nya.


Sintaa bahkan makan seakan-akan dirinya belum pernah makan dalam jangka waktu yang lama. Arjuna tertawa melihat cara makan calon istrinya itu yang tidak memakai sendok dan garpu. Sebenarnya Sinta bisa tapi, dipikirannya Sinta lebih suka jika dirinya makan memakai tangan saja tanpa bantuan alat makan.


Beberapa saat kemudian, makanan mereka telah habis. Sinta sangat kenyang dan menyukai makanan yang dipesan oleh Arjun.


"Kok, Aku ngiler mau makan masakan Korea Selatan yah padahal dulu setiap kali diajak makan makanan Korea selalu nolak dan selalu gak minat yah!" Ujarnya Sinta Ismayanti Rajab yang keheranan dengan apa yang terjadi padanya.


"Mungkin karena itu permintaan dari bayi yang ada di dalam perutmu sayang, jadi kamu perlu turuti saja keinginannya," pungkasnya Arjuna Aryasetio Permana Kusuma Wijaya dengan hati-hati agar Sinta tidak tersinggung dengan perkataannya.


"Bisa jadi Mas, tapi selama aku hamil, aku selalu mual jika mencium makanan Indonesia dengan India." jelasnya Sinta.


Arjun hanya tersenyum menanggapi perkataannya Sinta, "Ternyata anakku menyukai masakan asal kakek buyutnya," batinnya Arjuna yang tersenyum tipis.


"Jangan-jangan papa dari bayiku ini orang Korea Selatan lagi Mas," celetuk nya Sinta sambil mengelus perutnya yang masih rata dengan tersenyum simpul.


Apa yang dikatakan oleh Sinta langsung membuat Arjuna tersedak minuman disaat dia mendengar perkataan Sinta yang hanya bergurau itu.


"Huhuuuhuhu!!" Suara batuknya Arjun.


Sinta segera meraih gelas air lalu menyodorkannya ke arahnya Arjuna, "ini minum dulu Kak, kalau makan itu hati-hati jangan buru-buru gak ada yang mau rebut makanan kakak loh," gerutu Sinta sambil menyodorkan segelas air putih kehadapan Arjuna.

__ADS_1


"Makasih banyak," ucapnya Arjuna setelah air itu tandas dalam gelasnya.


Suasana kembali sunyi, Arjun kembali memikirkan bagaimana cara menyampaikan rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat sedangkan Sinta sendiri sibuk memikirkan siapa ayah dari bayinya.


"Ya Allah… siapa sebenarnya pria itu yang telah merenggut kesucianku!" Sinta membatin dan memutar kembali kenangan pahit itu tapi,ia berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya.


Arjuna melihat dengan tajam ke arah Sinta yang tiba-tiba terdiam, "Apa kamu tidak melihat wajah dari pria itu?" Tanyanya Arjuna yang sedikit gelisah.


"Aku cuma sekilas melihat wajahnya saja yang tampan karena waktu itu suasana kamar hotelku sedang gelap, aku lupa menyalakan lampu kamar," jawabnya Sinta sambil mengingat kembali wajah pria yang telah merenggut keperawanannya.


Sinta hanya tersenyum disaat da teringat kalau pria itu benar-benar tampan dan tentunya sangat memuaskannya waktu itu walaupun hati dan pikirannya tidak sejalan waktu itu.


"Kalau kamu tahu siapa pria itu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanyanya penuh selidik Arjun sambil mengaduk minumannya.


Arjuna langsung menelan air ludahnya sendiri dan mulai lagi ragu untuk berkata jujur, "Seandainya Pria itu ada di depan Kamu kira-kira apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Arjuna yang sudah was-was dengan jawaban Sinta.


"Kenapa sih kakak ngomong gini, saya heran loh dengan kakak," gerutu Sinta.


"Tidak ada apa-apa sih, cuma bertanya saja." Balasnya Arjuna yang sudah keringat dingin.


Emre lebih mau menghadapi saingan bisnisnya dari pada berhadapan langsung dengan Rina. Tetapi Emre sudah membulatkan tekadnya untuk berkata jujur, apa pun konsekuensinya Emre siap untuk menghadapinya.

__ADS_1


"Sebenarnya Pria yang ada di malam itu adalah sa......" ucapan Arjuna terpotong karena handphonenya Sinta tiba-tiba berdering.


"Maaf yah Kak, saya angkat telpon dulu," tuturnya Sinta.


"Silahkan," jawab Arjuna lesu.


"Assalamualaikum Ibu," ucap salam Sinta.


"Waalaikum salam, Kamu di mana Nak? Apa kamu bisa pulang secepatnya!" tanya ibu Rimah ibunya Sinta.


"Aku masih di resto nih Bu sama kak Arjun emang ada apa yah Bu?" Tanya Sinta.


"Nak tolong segera ke rumah sakit soalnya Bapak terkena serangan jantun," ratap Bu Rimah seraya menangis tersedu-sedu.


Raut wajahnya Sinta langsung berubah sedih, "Innalilahi wa innailaihi rojiun, Rina akan segera ke rumah sakit, ibu minta tolong sama suster yang ada Jaga untuk share alamat rumah sakit bapak ke nomor hpku," pintanya Sinta yang ikut meneteskan air matanya.


Arjuna yang melihat hal tersebut segera bertanya, "Ada apa Sintaa, apa yang terjadi sama Bapak?


?" Tanyanya Arjuna yang ikut kebingungan.


"Bapak masuk rumah sakit karena serangan jantung," ujarnya Sinta sambil segera mengambil tasnya sesekali menyeka air matanya itu.

__ADS_1


Kedua pasang calon pengantin itu segera ke rumah sakit. Sinta tidak lupa mengabari ke dua sahabatnya yaitu Gauri Candra Kirana Larasati dan Dewinta Aulia Sarah Sechan Wijayanto Daniel.


__ADS_2