
Karena kondisi dari Dewi sudah membaik tapi belum sadarkan diri. Dewa segera ke ruang perawatan sang istri berada. Dewa menyuruh Paman Park dan Kim beserta keluarganya yang lain untuk pulang istirahat terlebih dahulu.
"Uncle! Pulanglah dulu istirahat, nanti besok baru balik ke sini lagi dan jangan lupa masakan khas Korea Selatan khusus untuk Dewi Istriku," terangnya Dewa.
Yang lain pun memilih untuk pulang sesuai perintah dari Dewa sendiri yang tidak tega melihat mereka yang sudah menemaninya begadang menjaga Dewi.
Dewa duduk di dekat ranjang Istrinya lalu ia memegang tangan Dewinta, "Maafkan Mas! Aku tidak tahu kalau kamu sedang jamil, andai saja aku tahu lebih duluan pasti aku menunda rencana kita ini, aku yakin ini semua gara-gara Mas sehingga kita harus kehilangan salah satu bayi kita," ratapnya Dewa sambil menangis tersedu-sedu di depan Dewi.
Dewa segera menghentikan Isak tangisnya, karena teringat dengan kata-kata Dokter yang tidak boleh memberikan beban fikiran kepada Dewi walau pun keadaan Dewi yang belum sadarkan diri.
"Aku tidak boleh sedih di depan istriku, aku harus kuat demi anak dan istriku," gumamnya Dewa sembari menyeka air matanya.
Dewa tak henti-hentinya mencium jemari tangan Dewi, "Sayang jangan lama-lama tidurnya, apa kamu tidak ingin melihat Mas?? oiya kamu kan suka dan bahagia banget ingin melihat keindahan Korea kan, jadi Mas mohon bangun yah!" Lirihnya Dewa sambil berusaha untuk menahan tangisnya yang hanya menunggu waktu saja akan menetes lagi.
Mungkin karena pengaruh obat bius sudah tidak bereaksi lagi di tubuh Dewi dan karena mendengar perkataan Dewa sehingga Dewinta membuka kelopak matanya. Orang yang pertama dia lihat adalah suaminya Dewa Wijaya.
Dewi spontan tersenyum melihat wajah damai sang suami yang sudah terlelap dalam tidurnya sambil tangannya terus menggenggam tangannya Dewi. Dewa ketiduran setelah mengeluarkan segala gunda gulananya yang ada di dalam hati dan fikirannya. Ia terlelap dan tertidur pulas di sampingnya Dewi.
Dewa tertidur di dekat tangan sang istri, Dewi tidak ingin membangunkan suaminya, si hanya menatap intens wajah suaminya yang terlihat begitu tampan di matanya, dia mengelus puncak surau Dewa.
"Maafkan Dewi Mas yang tidak bisa menjaga calon bayi kita," sesalnya Dewi sambil meraba bagian perutnya.
Dewi terisak ketika mengingat ketidak mampuan dan ketidakberdayaannya untuk menjaga calon bayinya. Dia segera menghapus jejak air matanya di wajahnya karena Dewa sudah bangun. Dewi segera tersenyum ke arah suaminya. Senyum itu langsung disambut dan dibalas oleh Dewa lebih manis lagi.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang, maafkan aku ketiduran jadi tidak mengetahui kalau kamu sudah sadar," dengusnya Dewa sambil tetap memegang tangan Dewi dengan erat.
__ADS_1
"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok Mas, aku senang melihat Mas, wajahnya Mas mampu memberikan ketenangan tersendiri untukku," sahutnya Dewi.
"Apa yang kamu rasakan, apa ada yang sakit atau kamu butuh sesuatu??" Tanya Dewa dengan penuh selidik.
"Alhamdulillah aku sangat baik-baik saja Kak, aku hanya ingin minum," balasnya sambil memegang lehernya.
Dewi berusaha untuk menyembunyikan perasaan sedihnya karena Dewi tidak ingin membuat suaminya terbebani dengan pemikirannya kalau gara-gara mereka bulan madu sehingga mereka harus kehilangan bayi mereka dan khawatir dengan keadaannya.
Dewi pun seperti itu, yang tidak ingin menanyakan atau pun membahas tentang kondisi Dewi yang kehilangan salah satu bayi kembar mereka, Dewa Ingin kalau Dewi sendiri yang mulai menanyakan perihal itu.
"Kak, jangan tanya Mama Elisha yah, dengan yang lain juga kalau aku sakit, aku tidak ingin membuat mereka khawatir," Ungkap Dewi sambil memegang tangannya Dewa.
"Tapi sayang...." ucapan Dewa terpotong.
Walaupun dalam hati Dewi sangat sedih dan menyesal karena telah menyembunyikan berita besar tentang kehamilannya dari suaminya karena Dewi Ingin memberikan kejutan kepada Dewa. Tapi Dewi berusaha untuk menyembunyikan hal itu.
"Kalau itu keinginanmu, Mas akan diam," imbuhnya Dewa.
"Apa kamu lapar atau ada yang ingin kamu makan?" Tanya Dewa.
Dewi diam dan berfikir sejenak untuk mencari cara untuk menyampaikan keinginannya.
"Kok diam saja sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Dewa yang kebingungan melihat Dewi yang tiba-tiba terdiam..
"Aku baik-baik saja kok Mas, aku hanya ingin makan masakan Mas," jawabnya Dewi yang malu-malu.
__ADS_1
Dewia heran dengan keinginannya yang ingin makan masakan buatan suaminya, Karena menurutnya, dia sudah keguguran dan tidak mungkin merasakan ngidam lagi. Dewa belum menyampaikan kebenarannya kepada Dewi, Dewa menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenarannya
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…..
__ADS_1