
"Aku di sini Pak," jawab Arjuna Aryasetio Permana Kusuma Wijaya.
"Nak waktu Bapak tidak lama lagi, bapak mohon dengan sangat untuk menikahi Sinta hari ini juga, tolong penuhi permintaan Bapak! Nak," ucap Pak Ahmad.
Kedua calon mempelai pengantin itu saling berpandangan satu sama lain dengan raut wajahnya yang keheranan dan kebingungan.
Keesokan harinya, Pak Rahmat Wijaya sudah sadar dari masa komanya, tetapi keadaannya masih belum stabil. Sinta Ismayanti Rajaba dan yang lainnya segera ke ruangan ICU setelah mendengar kabar kalau Pak Rahmat sudah sadar.
Gauri Candra Kirana Larasati merasa heran, karena semalam waktu ia tidur seingatnya, ia menyandarkan kepalanya ke tembok rumah sakit tetapi ketika dia bangun malahan dirinya sedangkan Barata hanya memperlihatkan lesung pipinya saja tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Gauri merasa malu dengan kejadian ini, ia ingin meminta maaf karena telah lancang bersandar di pundaknya Barata, tetapi keadaan bapaknya Sintaa Pak Ahmad yang sudah mengkhawatirkan sehingga Gauri mengurungkan niatnya.
Sedangkan Sinta dan ibunya tidak henti-hentinya menangisi keadaan Bapaknya yang sudah kritis. Air matanya Bu Rimah seakan tak ada habisnya menangisi penyakit suaminya.
Arjuna memegang tangannya pak Rahmat, "Waktu bapak tidak lama lagi, bapak mohon dengan sangat kepadamu untuk segera menikahi putri bapak, bapak ingin melihat Sinta menikah," ucap Pak Rahmat yang terbata-bata.
"Sinta mohon jangan bicara seperti itu Pak, bapak pasti baik-baik saja." ucap Rina yang menahan laju air matanya karena Sinta tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan ayahnya.
"Bapak mohon nikahi putriku Sinta sekarang yah Nak, bapak mohon kepadamu." permohonan pak Rahmat kepada calon anak menantunya itu.
__ADS_1
Arjuna Arsenio Prasetya Kusuma Wijaya menatap Ke arah Rina untuk meminta jawaban, ia sebenarnya ingin memenuhi permintaan terakhir Bapaknya Sintaa tetap, Arjuna juga tidak ingin dicap sebagai pria yang memanfaatkan keadaan.
Sinta juga dibuat kelimpungan dia pusing tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dari arah pintu masuklah ibu-ibu yang seumuran dengan ibunya Sinta Bu Rimah.
"Kalian tidak perlu memikirkan banyak hal lagi, nikah saja lah dari pada perutmu semakin membesar, apa kamu tidak malu harus hamil diluar nikah tanpa suami!" Sarkasnya Bibi Risna adik dari Bapaknya Sinta.
"Cukup Bi, aku mohon jangan tambah beban pikirannya bapak, kenapa Bibi selalu saja mencari-cari kesalahan kami!" Gerutu Sinta yang tidak tahan dengan sikap bibinya itu.
"Kami mohon Bibi keluar dulu, Kasihan Bapaknya Rina bi, kami mohon jangan tambah beban fikiran Paman Ahmad," tuturnya Dewinta Aulia Ramadhani.
Tetapi tangannya Dewi ditepis oleh Bibi Risna dengan cukup kasar.
Bi Risna sambil meninggalkan kamar perawatan Pak Rahmat dan membanting pintu saat ia keluar. Kedatangan Bibi Risma membuat keadaan Pak Rahmat semakin parah. Mereka tidak menyangka saudara sendiri yang memperkeruh suasana bahkan menambah beban pikiran saudaranya sendiri.
Bu Rimah hanya menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ibunya Sinta sudah pasrah dengan keadaan yang akan terjadi kepada suaminya.
"Sinta, Ibu mohon kabulkan permintaan terakhir Bapakmu Nak, Ibu tidak kuasa melihat bapak yang terus kesakitan," tuturnya ibu Rimah disela tangisnya.
"Sinta, mungkin memang ini jalan yang paling terbaik yang bisa kalian lakukan kepada Paman dan mungkin juga ini sebagai bakti kalian sebagai anaknya," Bujuknya Dewinta yang memeluk tubuh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tapi Dewi, semua keluarga Mas Arjuna tahunya kami akan menikah hari minggu nanti, apa kata mereka jika kami memajukan pernikahan kami?" Sanggah Sinta.
"Tidak usah kamu hiraukan hal itu, Mas yang akan mengurusnya lagian sudah ada Abang Dewa yang akan membantuku," Ujarnya Arjuna.
"Abang Dewa!, tolong segera panggil pak penghulu ke sini, aku akan menikahi Sinta saat ini juga," pintanya Arjuna dihadapan kakak angkatnya itu.
"Oke," ucap singkat Dewa.
Dewa segera menelpon penghulu yang dia kenal dan tidak lupa menghubungi uncle Hussain Kamel untuk segera ke rumah sakit. Kebetulan uncle Hussain Kamel masih ada di Indonesia.
Beberapa saat kemudian, Pak penghulu, pegawai catatan sipil, pegawai KUA setempat juga sudah datang. Sedangkan Uncle Hussain masih dalam perjalanan.
Mereka terlebih dahulu menyiapkan beberapa berkas dan surat-surat penting sebelum mereka melangsungkan ijab qobul. Sedangkan Sintaa dibantu oleh duo sahabatnya untuk mengganti pakaian dan sedikit memoles wajah ia yang sudah sembab karena tidak henti-hentinya menangis.
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."
__ADS_1
Kedua pasangan pengantin baru itu tersenyum bahagia walaupun papa mertuanya sudah meninggal dunia.