
"Waalaikum salam…" ucap uncle Park dengan suara sedikit bergetar.
Dewa tahu dan menyadari kalau Uncle Park sedang menangis tapi, dia berpura-pura tidak melihatnya. Karena Dewa tidak ingin mencampuri urusan pribadinya Uncle Park lagian karakternya Dewa memang seperti itu.
Dewa meminta tolong kepada Uncle Park untuk membawakan makanan sekalian menjaga Dewi untuk sementara waktu selama Dewa berada di kantornya untuk mengerjakan pekerjaannya yang tidak bisa diwakilkan kepada asisten ataupun orang lain.
"Uncle bisa kah aku minta tolong??" Tanya Dewa dengan hati-hati karena tidak ingin kehadirannya menggangu aktifitas dan kenyamanannya.
Pak Park Kim Jung menatap dengan teduh kearahnya Dewa, "Tuan muda mau minta tolong apa, kalau Uncle bisa insya Allah uncle akan penuhi," ucap Uncle Park.
"Sebenarnya aku yang akan mengantarkan makanan ini kepada Dewi, tapi ada sedikit masalah di kantor yang mengharuskan aku harus hadir tidak bisa diwakilkan, jadi bisa kah uncle yang membawa makanan untuk Dewi??" Jelasnya Dewa sambil mengarahkan pandangannya ke arah tangannya.
Pak Jung tersenyum tipis lalu berucap, "Tidak Masalah Tuan Muda dengan senang hati aku akan melaksanakannya!" ucap Uncle Park sambil mengambil alih rantang makanan itu dari tangan Dewa.
"Kalau bisa uncle menjaga Dewi sementara waktu hingga sampai aku pulang," mohon Dewa yang meminta tolong kepada kepala pelayan yang ada di rumahnya sejak sekitar 30 tahun lalu sudah bekerja di sana.
"Baiklah Tuan Muda, kalau gitu aku pamit dulu," ucap pamit uncle Park.
Uncle Park segera ke garasi mobil untuk mengeluarkan mobil yang ada di sana dan segera bergegas ke rumah sakit.
Dewa pun mengemudikan mobilnya ke arah perusahaan Eyangnya berada. Karena semua aset milik Nyonya Ester yang ada di Korea semuanya di serahkan kepada Dewa sebagai cucu tunggalnya laki-laki. Jadi kepemilikan perusahaan Bu Ester sudah beralih ke tangan Dewa.
Bahkan ada perusahaan eyang Ester yang beralih kepemilikan atas nama Dewi. Mobil yang dipakai Uncle Park sudah memasuki parkiran khusus pemilik rumah Sakit.
__ADS_1
"Masuk saj," sahutnya Dewi dari arah dalam kamar inapnya.
"Assalamu alaikum," ucap salam Uncle Park.
"Waalaikum salam Uncle Park," jawab Dewi
"Maafkan saya Nyonya Muda karena saya yang ditugaskan oleh Tuan Muda untuk membawa makanan ini," ucap uncle Park.
Dewi menatap dengan penuh teduh dan intens ke arah Pak Jung," di mana Uncle Park??" Tanya Dewi.
"Tuan Muda ke kantor katanya ada urusan penting yang tidak bisa ditunda, Nyonya Muda," terang Uncle Jung.
"Ohh gitu yah uncle," imbuhnya Dewi.
Uncle Park segera mengeluarkan makanan yang ada di dalam rantang dan segera menyediakan makanan itu diatas nampang yang tersedia di atas meja. Dewi belum bisa terlalu bergerak karena bekas operasinya belum juga kering. Sehingga ia dibantu makan oleh Uncle Park.
Delia merasa tidak enak hati tapi uncle Park terus memaksanya. Sehingga Uncle Park sekarang menyuapi Delia. Jika ada yang melihat interaksi mereka pasti orang-orang akan menganggap mereka Ayah dan anak. Setelah makan dan hampir keseluruhan semua makanan yang dimasak oleh Dewa khusus Dewi meminum obatnya.
"Aku sama sekali tidak merasa keberatan dan direpotkan Nak, malahan sangat bahagia karena di berikan kesempatan untuk membantu Nyonya Muda," imbuhnya Pak Jung.
Uncle Park tak henti-hentinya menatap wajah dan gestur tubuh Dewi. Uncle Park kembali teringat dengan wajah adik angkatnya. Uncle Park tak sengaja meneteskan air matanya. Hal itu dilihat oleh Dewi. Dengan gerakan refleks Dewi menghapus jejak air mata uncle Park.
"Uncle kok nangis, apa uncle Park sakit?" tanya Dewi dengan raut wajahnya yang keheranan dan sekaligus bingung melihat air matanya Pak Park Kim Jung.
__ADS_1
Uncle Park segera menghapus air matanya dan menggelengkan kepalanya tanda dia baik-baik saja, "Uncle baik-baik saja kok, apa kamu ingin mendengar curhatan uncle?" tanya uncle Park kepada Dewi.
Dewi tersenyum simpul, "Iya uncle Park, saya bersedia dan siap mendengarkan curhatan uncle Park".
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
__ADS_1
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…..