
Pak Jung menatap satu persatu asisten rumah tangga lalu berucap, "Ingat makan malam ini menunya makanan khas Indonesia, karena Tuan Muda dan Nyonya Muda sudah datang dari Indonesia dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun" titah Paman Jung dengan cukup suara yang tegas.
"Baik Paman Jung," ucap Meyna yang ada di bagian dapur seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda. Kepala pelayan dapur menyiapkan beberapa bahan makanan dan bumbu-bumbu asli yang didatangkan dari Indonesia.
Suara Adzan magrib berkumandang dari handphonenya Dewa, sehingga Dewa menghentikan diskusinya dengan Kim maklumlah mereka sedang berada di luar negri sehingga harus menyalakan dan menghidupkan notifnya waktu jadwal shalat lima wajib.
Dewa melihat ke arah hpnya sekilas, "Baiklah kita akhiri sampai di sini, nanti kita lanjutkan setelah makan malam," ucap Dewa.
"Siap kak," jawab Kim.
Dewa melipat kembali beberapa berkasnya ke dalam map khusus lalu berucap, "Kita shalat magrib dahulu," pintanya Dewa.
Mereka berjalan ke arah mushola rumah Nyonya Ester. Dewa bersyukur karena hampir seluruh keluarga dari ayahnya sudah memeluk agama Islam.
Mereka melaksanakan shalat magrib secara berjamaah. Semua laki-laki yang ada di rumah oma Ester adalah beragama Islam jadi mereka berjamaah bersama. Itulah kebiasaan yang sering Dewa lakukan.
Dewa tidak pernah membeda-bedakan status sosial ekonomi seseorng. Bagi Dewa mereka sama saja. Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah Dewa memanggil orang-orang yang berada di rumahnya untuk makan malam bersama.
Tapi, mereka menolak dengan halus ajakan dari tuan mudanya. Mereka tidak ingin mengganggu bulan madu tuan muda dan Nyonya muda mereka. Dewi memasukkan sesuatu ke dalam kotak kecil kemudian membungkus kotak itu dengan bungkus kado berwarna merah muda. Kemudian Dewa segera meletakkan kotak itu di atas bantal Dewa.
Tok.. tok.. tok…
Pintu kamar Dewa diketuk oleh seseorang.
"Nyonya Muda waktunya makan malam dan tuan muda sudah menunggu nyonya!" ujar Meyla.
"Tunggu aku ganti pakaian dulu yah!" Timpalnya Dewi dari dalam kamarnya.
"Baik Nyonya Muda," jawab Meyla.
__ADS_1
Asisten rumah tangga itu masih berada di depan pintu dan menunggu Dewi keluar kamarnya dan menggiring Dewi sampai ke ruang meja makan. Art dan yang lainnya yang bekerja di sansudah dilatih sebelumnya memakai bahasa Indonesia.
Sehingga mereka tidak lagi kagok dan bisa menjawab semua kata-kata Dewi. Sedangkan dengan Dewa mereka masih menggunakan bahasa Korea Selatan. Beberapa saat kemudian Dewa akhirnya keluar kamarnya juga dan berjalan ke arah dapur.
Tapi kaget melihat dua orang art nya yang berdiri seperti patung saja. Dewa melangkahkan kakinya dan art pun ikut dibelakang Dewi. Baru kali ini Dewi diperlakukan seperti itu.
Dewinta slow dengan hal itu dan merasa bahagia karena orang-orang memperlakukannya dengan sangat istimewa. Di meja makan, Dewa sudah menunggu kedatangan sang istri. Dewi kemudian duduk di depan Dewa.
"Maafkan Dewi yang telah membuat Mas menunggu lama!" Terang Dewi dengan sedikit menyesal.
"Tidak kok sayang, saya juga baru kok duduknya," imbuhnya Dewa.
Dewa memberikan kode kepada asisten rumah tangganya yang ada di sana untuk meninggalkan mereka. Karena Dewa ingin makan berdua saja dengan istrinya tanpa gangguan dari orang lain.
ARTnya perlahan-lahan meninggalkan ruangan makan, lalu segera melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah dapur. Dewi melihat semua jenis makanan yang ada di meja makan dengan tidak bernafsu.
Dewi membuang nafasnya dengan kasar tanda ia tidak suka dengan menu makanan yang tersedia. Dewa mengetahui hal itu kalau Istrinya tidak suka dengan makanan yang ada. Dewa pun berdiri dan mendekati Istrinya.
"Kamu kenapa sayang,vkok tidak mengambil makanan sedikit pun??" Tanya Dewi yang keheranan melihat istrinya itu.
Dewi masih saja bungkam dan takut menyampaikan permintaanya dan ini sebenarnya bukan keinginannya semata tapi keinginan cabang bayi dalam rahimnya. Dewa mengelus puncak rambut panjang isterinya yang tergerai dengan indah dan lagi-lagi kembali merayu istrinya itu.
Dewi merangkul tangannya Dewa, "saya mau makan makanan khas Korea Mas" rayunya Dewi dengan tingkah penuh manja sambil menunduk dan memainkan sendok dan garpu yang ada ditangannya.
Dewa tertawa simpul setelah mendengar permintaan sang istri, "Baiklah kalau itu yang kamu inginkan."
Dewa segera bangkit dari duduknya lalu segera berjalan ke arah dapur tapi, istrinya akan menghentikan langkahnya Dewa.
"Mas! Aku mau yang masak itu Mas sendiri bukan orang lain," rengeknya Dewi sambil menunduk dan takut jika Dewa menolak keinginannya.
"Tapi apa kamu tidak akan kecewa, jika makan makanan yang aku buat nanti hasilnya asing atau apa lah itu sehingga masakanku sayang?" tanyanya Dewa.
__ADS_1
Delwi hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak masalah, "kalau begitu kamu tunggu Mas di sini yah," pintanya Dewa.
"Aku ikut yah Mas, aku Ingin lihat suamiku masak, bisa gak Mas?" Rengekan Dewi seperti anaknya saja Zahrah puteri mereka jika menginginkan sesuatu.
Dewa tersenyum tipis, "Baiklah ikut Mas, kalau gitu," ajaknya Dewa.
Mereka bergandengan tangan ke arah dapur dan membuat mata yang memandang mereka dibuat jeles dengan keromantisan mereka. Dewa menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dia masak sesuai permintaan Dewi.
Dewa mulai membersihkan daging lalu memotong daging itu sesuai seleranya. Dewa Ingin memasak makanan yang semuanya berbahan daging sapi. Ada Bulgogi, Tteok Galbi yang akan rencananya Dewa masak spesial kekasih halalnya.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
__ADS_1
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…..