
Dewa menyendokkan makanan ke piring Dewi. Begitu pun sebaliknya, ia mengambilkan makanan untuk Dewa, mereka makan sambil suap-suapan.
"Jadi kapan kita bisa balik ke Indonesia, aku sudah rindu dengan si kembar Mas," tanya Dewi.
"Insya Allah hari minggu lusa kita balik ke Tltanah air," tuturnya Dewa.
"Alhamdulillah kalau gitu sayang, aku bahagia dengarnya," imbuhnya Dewi.
Kebahagiaan membuncah di dalam dadanya Dewinta karena hari yang telah ditunggu-tunggu olehnya, akhirnya tiba juga. Dewi sudah mengemas packing barang-barangnya yang akan ia bawa pulang ke Indonesia.
Dewi juga sudah memesan kepada uncle Kim Park Jung untuk membelikan Dewi segala sesuatu yang berbau oleh-oleh khas Korea Selatan yang akan Dewi berikan kepada semua anggota keluarganya dan juga maid serta asisten rumah tangganya. Mereka sudah pesan jauh-jauh hari, berbagai macam buah tangan.
Dewi saat itu masih sibuk mengemas barang bawaannya padahal sudah jam sepuluh malam. Sedangkan, Dewa masih di kantornya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang belum rampung. Tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang.
Tok… Tok..
"Assalamualaikum," ucap salam seseorang dari arah balik pintu.
Dewinta segera berdiri untuk membuka knop pintu kamarnya.
"Waalaikum salam," Jawab salam Dewi yang buru-buru bangun dari duduknya.
Dewia tersenyum ramah ke arah orang yang berada dibalik pintu dan orang itu adalah Uncle Jung, "Silahkan masuk uncle Park," imbuhnya Dewi.
"Makasih Nak," timpalnya Pak Jung.
__ADS_1
"Silahkan duduk uncle Park," ujarnya Dewi sambil mempersilahkan Uncle Park untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kamar pribadinya.
"Maafkan uncle Park yang telah mengganggumu," pinta Uncle Jung.
Dewi tersenyum tulus,"Enggak apa-apa kok Uncle, saya tidak merasa terganggu kok," imbuhnya Dewi.
"Nak Dewi, apa keputusanmu yang kemarin sudah kamu pikirkan baik-baik dan tidak bisa kamu ubah lagi Nak?" Tanya selidik uncle Jung.
Dewi tidak menjawab pertanyaan dari Uncle Park, Dewi hanya mampu menatap mata uncle Park.
"Uncle mohon nak, ini demi ibu kamu," ucap Pak Jung.
"Maafkan Dewi, Paman untuk saat ini aku belum bisa memenuhi permintaan Paman," tampik Dewi sambil tetap melanjutkan mengemasi barang-barang bawaannya.
"Tapi Nak, ini semua femi amanah ibumu, apa kamu tidak ingin memenuhi permintaan terakhir ibumu?" Tanyanya Pak Jung yang sangat berharap dihadapan Dewi.
Tapi Dewi tidak ingin menyampaikan hal itu di depan uncle Park Jung. Ia tidak ingin membuat orang tua itu cemas.
"Aku akan pikirkan baik-baik Uncle, insyaallah aku akan berikan jawaban nanti," ujarnya Dewi.
"Paman berharap dan memintamu melakukan ini semua karena Paman ingin melihat kamu dan keluargamu berkumpul dan tidak mendapatkan penolakan lagi dari keluarga papa mertua ku," imbuhnya Pak Jung.
Dewinta langsung mendekati uncle Park dan memegang tangan Uncle Park, "Insya Allah saya akan jalankan amanah dari Ibu, tapi saya mohon beri waktu untukku Paman memikirkan semuanya dan cari waktu yang tepat saja," jelasnya Dewi.
Pak Jung hanya menganggukkan kepalanya dan ada setetes butiran air matanya yang membasahi pipinya. Dewi menghapus jejak air mata di pipi uncle Park.
__ADS_1
"Jangan menangis Paman, saya tidak sanggup melihat air mata Uncle dan itu sama saja saya telah menyakiti hati uncle Park," sungut Dewi yang mulai ikut terharu dan akhir menangis juga.
"Maafkan uncle Park yang meminta sesuatu yang sulit untuk kamu lakukan Nak," ucap Uncle park.
Mereka kembali melanjutkan acara makan-makannya.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
__ADS_1
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…...