
"Gimana kalau Uncle mencari CV dari adik Uncle waktu pertama kali bekerja dengan uncle di rumah Kakeknya Dewa suamiku," jelasnya Dewi.
"Uncle Park akan mencoba untuk mencarinya di kamar utama Nyonya Ester, kemungkinannya ada di dalam salah satu lemari yang ada di sana," jawabnya Pak Jung.
Setelah mengeluarkan segala gunda gulananya Uncle Park merasakan kelegaan dalam hatinya. Bahkan Uncle Park merasa sangat bahagia karena sudah curhat dengan orang yang tepat.
Dewinta terdiam tak bergeming dan mendengarkan dengan seksama dan diam mendengarkan curhatan uncle Kim Park Jung. Ia sama sekali tidak ingin memotong ataupun menyanggah pembicara Pak Park yang menurutnya menyentuh relung hatinya yang paling dalam.
Entah kenapa apa yang diceritakan oleh Uncle Park seakan-akan ia berada di tempat dan waktu itu. Ada perasaan aneh yang menjalar dan timbul dalam hatinya.
"Oy uncle Park, apa uncle tidak memiliki foto ataupun sesuatu tentang adik angkat uncle??" Tanya Dewi kepada uncle Park.
"Kalau masalah foto alhamdulillah Uncle punya, waktu itu kami sedang makan di resto favorit kami," jawabnya Pak Kim Jung.
"Alhamdulillah kalau uncle punya fotonya berarti kalau uncle rindu dengannya tinggal lihatin foto itu," jelasnya Dewi.
Uncle Park merasa lega dan senang setelah beberapa saat berbincang dengan istri dari Tuan Muda nya itu.
"Tapi waktu mereka menikah paman Daniel dengan Istrinya, apakah Om Daniel memberikan sesuatu sebagai emas kawin??" tanya Dewi yang entah kenapa membuatnya kepo dengan hal yang berhubungan dengan adik angkat uncle Park.
Uncle Park termenung dan terdiam mengingat kenangan saat adik angkatnya menikah, "Aku ingat waktu itu Tuan Daniel memberikan sebuah cincin yang sangat indah kepada istrinya," tuturnya Uncle Park.
"Alhamdulillah kalau om Daniel memberikan mas kawin kepada istrinya," Dewinta tiba-tiba teringat dengan isi kotak yang masih tersimpan rapi di dalam lemari milik ibunya di Desa.
Sewaktu kecil ibunya pernah memperlihatkan Isi dari kotak itu dan isinya adalah sebuah perhiasan cincin emas putih dihiasi dengan bertahtakan berlian. Cincin itu menurutnya sangat indah dan elegan serta cantik.
"Kok aku teringat dengan perhiasan Ibu, waktu itu Ibu sempat memperlihatkan kepadaku isinya yaitu sebuah cincin," batinnya Dewi.
Ibunya dulu sering memakai cincinnya itu. Tapi Sebelum hari kecelakaan naas yang dialami oleh Ibu dan ayahnya, Dewinta tidak pernah lagi melihat ibunya memakai gelang itu. Pak Park semakin mengamati dan memperhatikan wajah Dewi, semakin dia teringat dengan adik angkatnya.
Uncle Park ingin menanyakan tentang perihal yang mengganjal di dalam hatinya, Tapi merasa enggan dan sungkan untuk bertanya kepada Dewi. Uncle Park tidak mau Dewi sampai berpikiran yang macam-macam.
Tetapi karena Uncle Jung tidak mau terbebani dengan pemikirannya akhirnya Uncle Park memberanikan dirinya untuk bertanya, "Oy apa uncle bisa bertanya sesuatu nak??" tanya Pak Park Kim Jung.
__ADS_1
"Silahkan uncle,tapi pertanyaannya jangan yang sulit soalnya otakku gak mampu berfikir kalau jawabannya susah," gurau Dewi sambil tersenyum manis kepada Pak Jung.
Uncle Park pun tersenyum menanggapi candaan Dewi, "Bolehkah Uncle tahu siapa nama ayahmu Nyonya Muda??" Tanya Pak Jung.
"Nama ayahku Arianto Kusuma Rahman," sahut Delwi dengan mantap.
"Kalau Nama ibumu namanya siapa kalau uncle bisa tahu??" Tanyanya lagi.
"Namanya Di..." ucap Dewinta yang tepaksa terpotong karena pintu kamar perawatannya terbuka dari arah luar saat ingin membuka mulutnya.
Ucapan Dewinta terpaksa terpotong karena kedatangan dari suaminya yang memaksanya harus mengakhiri percakapan mereka berdua. Dewa yang membawa rantang makanan untuk menu makan malam Dewi.
Dewa tersenyum simpul ke arah keduanya, "Maafkan Mas yang sudah mengganggu bincang-bincang kalian," sesalnya sambil meletakkan rantang ke atas meja sofa tempat tidur Dewi.
Uncle Park langsung berdiri dari posisi duduknya setelah Tuan Mudanya datang.
"Makasih Uncle sudah menjaga Istriku," ucap Dewa.
"Sama-sama Tuan Muda, Uncle merasa bahagia dan senang bisa meluangkan dan menghabiskan waktu bersama dengan Istrimu," jelas Pak Park.
Diana namanya adik angkat uncle Park yang berasal dari Indonesia. Cewek cantik yang sederhana tapi karena kebaikan hatinya yang membuat seorang penerus dari keluarga David Albert Wijaya jatuh cinta kepadanya.
Uncle Park mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Sedangkan di Rumah Sakit. Dewa membantu Dewi untuk makan malam. Ia menyuapi istrinya makanan, hal ini menjadi pengalaman pertamanya selama Dewi hamil.
"Apa Dede tidak membuat Mama Dewi kesusahan??" tanya Dewi sambil mengelus perut Istrinya yang masih kelihatan rata.
"Alhamdulillah dedenya anteng saja kok Papa," jawab Dewi sambil menirukan gaya bicara anak kecil.
"Alhamdulillah kalau gitu sayang, Mas senang mendengarnya," ungkap Dewi sambil mencium surau Istrinya yang tertutup hijab pink.
Dewinta memantapkan hati dan dirinya untuk memakai hijab selama dia berada di Korea.
"Oiy Mas, Dewi bisa minta tolong gak??" tanya Dewi dengan sedikit ragu.
__ADS_1
"Kamu mau minta tolong apa sayang??" Tanyanya Dewa
.
"Aku ingin menelpon ke kampung, aku rindu sama Paman Irwan dan Bibi Aminah," ujarnya Dewi dengan penuh harap sambil memperlihatkan wajah imutnya.
"Oke, aku akan telpon mereka spesial untuk kamu," ucap Dewa.
"Makasih banyak Mas," balasnya Dewi sambil memeluk tubuh atletis dari suaminya itu.
Beberapa saat kemudian, sambungan Telepon dari Dewa pun terhubung ke nomor handphone Bibi Aminah.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Dewa untuk Dewi judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
__ADS_1
I love you all Readers…..