
Suatu hari, CEO Frans mampir ke sebuah kedai kopi. Tanpa sengaja dia melihat Tasya sedang duduk menikmati kopi dan matanya fokus kearah laptopnya. CEO Frans memesan es kopi dan menghampiri Tasya setelah mendapatkan es kopinya.
Tanpa bersuara, CEO Frans duduk didepan Tasya. Tasya terkejut dan hanya diam melihat CEO Frans. Dengan tenang Tasya kembali fokus ke laptopnya tanpa memperdulikan CEO Frans yang duduk didepannya.
Beberapa saat CEO Frans hanya duduk diam dan memperhatikan Tasya.
"Tasya!" Ucap CEO Frans memanggil Tasya.
"Hem!" Jawab Tasya yang tetap fokus ke layar laptop.
"Maafkan aku! Semua tak seperti yang kamu pikirkan." Ucap CEO Frans.
"Memang apa yang aku pikirkan?" Tanya Tasya cuek.
"Aku tidak bermaksud tidak menghargaimu. Aku pikir yang aku lakukan demi kebaikan kamu. Ternyata aku salah. Tolong beri aku kesempatan untuk belajar mengerti jalan pikiranmu." Ucap CEO Frans memegang tangan Tasya.
Tasya hanya diam menatap CEO Frans dan tiba tiba dia tersenyum tipis.
"Kapan aku tidak memaafkan kamu setelah kamu minta maaf ke aku? Aku hanya ingin kamu mengerti apa keinginan aku." Balas Tasya tersenyum.
"Aku benar benar minta maaf. Aku tak berpikir tentang pendapat kamu bagaimana. Maaf!" Ucap CEO Frans menyesali perbuatannya.
"Iya aku maafin. Tapi jangan pernah diulangi lagi. Kalau ada apa apa diskusikan dulu sama aku. Jangan hanya bertindak menurut naluri kamu saja." Ucap Tasya.
"Baiklah!" Balas CEO Frans tersenyum.
Tasya membalas senyum CEO Frans dan meletakkan tangan satunya di atas tangan CEO Frans yang sedang memegang tangannya.
"Kamu sedang mengerjakan apa?" Tanya CEO Frans tentang kesibukan Tasya.
"Aku tidak mengerjakan apa apa. Hanya menyibukkan diri saja. Aku tak tau harus ngapain." Jawab Tasya tertawa kecil.
"Ayo kita pulang." Ucap CEO Frans beranjak dari tempat duduknya fan menarik tangan Tasya yang dipegangnnya.
"Kamu tidak sibuk di kantor?" Tanya Tasya.
"Kamu lebih penting dari apapun." Jawab CEO Frans menarik tangan Tasya lebih keras.
Selama didalam mobil CEO Frans tak melepaskan pegangan tangannya. Sesekali dia melihat kearah Tasya dan tersenyum. Tasya pun juga sebaliknya.
__ADS_1
Sesampainya didepan rumah, mereka masuk tanpa melepaskan pegangan tangan mereka.
"Kamu duduk dulu, aku buatkan kamu minum." Ucap Tasya setelah sampai didalam rumah.
"Baiklah." Ucap CEO Frans duduk di sofa.
Belum lama duduk, CEO Frans kembali berdiri dan menghampiri Tasya.
"Duduklah minumannya sudah jadi." Ucap Tasya membawa 2 gelas orange jus.
Tanpa ada perlawanan CEO Frans kembali duduk. Baru saja duduk, belum juga ngobrol CEO Frans mendengar bunyi dari perut Tasya yang kelaparan.
"Kamu belum makan?" Tanya CEO Frans menatap Tasya yang memegang perutnya.
Tasya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah aku masakin buat kamu." CEO Frans berdiri dan berjalan menuju dapur.
CEO Frans terlebih dahulu mencuci semua piring kotor. Tiba tiba dari arah belakang CEO Frans merasakan ada pelukan. Tangan Tasya melingkar diperut CEO Frans. CEO Frans membiarkan tangan Tasya memeluknya.
"Jangan jangan kamu sengaja tidak mencuci piring dan menunggu aku yang melakukannya?" Tanya CEO Frans langsung melontarkan tuduhan.
CEO Frans merasa sedikit geram dengan jawaban Tasya langsung membalikkan badannya berhadapan dengan Tasya setelah selesai mencuci semua piring yang kotor.
CEO Frans menatap Tasya dan balik melingkarkan tangannya di pinggang Tasya. Tasya menatap CEO Frans dan tersenyum manis untuknya. CEO Frans yang sedikit kesal menjadi luluh dan balik tersenyum menatap Tasya.
Tiba tiba CEO Frans mendaratkan ciumannya di kening Tasya. Ingin memberi Tasya pelajaran CEO Frans mengangkat tubuh Tasya dan mendudukkannya di meja dapur. CEO Frans berdiri di depannya dan tangannya masih melingkar di pinggangnya.
Tangan Tasya beralih melingkar dileher CEO Frans. Dengan cepat bibir CEO Frans menyambar bibir Tasya dan **********. Menikmati aksi CEO Frans, Tasya membalas ******* bibir CEO Frans. 15 menit saling *******, tangan kanan CEO Frans mulai meraba paha Tasya yang hanya menggunakan rok sebatas lutut.
"Kamu nggak jadi masak?" Tanya Tasya memegang tangan kanan CEO Frans.
"Tidak! Aku berubah pikiran." Jawab CEO Frans kembali mencium bibir Tasya dan Tasya kembali membalasnya.
Tasya tak lagi memperdulikan apapun. Dia hanya pasrah dan menikmati apapun yang dilakukan CEO Frans.
Masih saling ******* CEO Frans melanjutkan aksinya. Tangan kanannya kembali masuk kedalam rok dan meraba raba paha Tasya. Tasya membiarkannya. Tangan kirinya kini mulai aktif di dada Tasya. CEO Frans tiba tiba mengangkat tubuh Tasya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dan mereka melakukan apa yang tak seharusnya mereka lakukan.
Setelah selesai melakukannya, mereka tertidur tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Tasya terbangun. Dia tak melihat CEO Frans berada disampingnya. Tasya terdiam sesaat. Tasya mengangkat selimutnya dan melihat tubuhnya tanpa pakaian. Dia malu kepada dirinya sendiri. Tasya menarik Selimutnya hingga menutupi wajahnya.
ttookk.. ttookk.. ttookk...
"Tasya aku masuk." Ucap CEO Frans dari balik kamar mengetuk pintu kamar Tasya.
CEO Frans masuk kedalam kamar dan Tasya pura pura masih tertidur pulas. CEO Frans duduk di kasur sebelah Tasya.
"Tasya bangun! Aku sudah buatin kamu coklat hangat." Ucap CEO Frans mengelus rambut Tasya.
Tasya sedikit mengerutkan dahinya dan CEO Frans menyadari bahwa Tasya hanya pura pura tidur dan tak mendengar
"Aku tau kamu sudah bangun. Bangunlah! Atau aku akan mengerjaimu lagi." Ucap CEO Frans tersenyum.
"Baiklah. Aku akan bangun. Kamu keluar dulu, aku mau mengenakan pakaian terlebih dahulu." Ucap Tasya mendorong badan CEO Frans.
"Kenapa aku harus keluar. Lagian aku sudah melihat semua bagian tubuh kamu tanpa pakaian. Kenapa harus malu?" Ucap CEO Frans menggoda.
"Jangan bercanda kamu." Ucap Tasya sedikit kesal.
"Iya! Iya! Tapi cepat keluar." Ucap CEO Frans beranjak dan keluar dari kamar Tasya.
Tasya masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Tasya keluar dari kamar dan menuju sofa. Di sana CEO Frans sudah duduk menunggu Tasya. Tasya duduk di samping CEO Frans.
"Minumlah." Ucap CEO Frans memberikan segelas cokelat hangat kepada Tasya.
Tasya menerima dan meminumnya. CEO Frans tak henti hentinya memandang Tasya. Tasya yang sadar akan tatapan CEO Frans merasa malu untuk menatap CEO Frans.
"Aku mau istirahat. Kamu kembalilah ke kantor." Ucap Tasya memberanikan diri.
"Kamu nggak mau ronde kedua?" Tanya CEO Frans menggoda Tasya.
"Enggak!" Jawab Tasya tanpa berpikir panjang
"Ya sudah aku pulang. Aku juga ada rapat sore ini dengan klien." Ucap CEO Frans beranjak dan berpamitan kepada Tasya.
"Kamu hati hati." Ucap Tasya.
CEO Frans mendaratkan ciuman di kening Tasya, lalu kembali ke kantor. Tasya menarik nafas dan mengeluarkannya lega setelah CEO Frans benar benar pergi.
__ADS_1