
Tasya sibuk mengukus pangsit. Dia memasukkan satu per satu pangsit tersebut kedalam pengukus. Setelah terisi penuh, Tasya menutupnya. Dia duduk didekat kompor dan menunggu pangsit benar benar matang.
Sedangkan CEO Frans duduk sendirian di sofa dan mengitak atik ponsel Tasya. Dia membuka kamera dan bergaya manja dan berselfi. Dia bergaya dengan memiringkan tubuhnya dan memanyunkan bibirkan agar terkesan imut.
CEO Frans sesekali melihat ke dapur, tetapi Tasya tak menghiraukannya karena sibuk mengurusi pangsit yang dikukusnya. Karena Tasya tak menghiraukannya, dia kembali berpose dan memotret dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Tasya datang menghampiri CEO Frans dengan membaca sepiring pangsit.
"Pangsit lezatnya sudah matang. Baunya sangat enak. Ini adalah hasil dari kerja keras kita." Ucap Tasya meletakkan sepiring pangsit didepan CEO Frans.
"Aku akan memfotonya, biar kita selalu mengingatnya. Inilah hasil dari kencan pertama kita." Ucap CEO Frans mengambil ponselnya dan memfotonya.
"Aku juga mau. Pinjam ponselku." Ucap Tasya meminta CEO Frans mengambilkan ponselnya.
CEO Frans mengambilkan ponsel Tasya dan menyerahkannya kepada Tasya. Tasya menekan tombol power di samping ponsel untuk menyalakan layar ponselnya. Matanya tiba tiba sedikit melotot ketika melihat foto yang terpampang di layar kunci ponselnya. Di ponselnya tampak jelas foto CEO Frans yang sedang berpose manja. Tasya menatap heran CEO Frans.
Tasya menutup matanya dan menarik nafas dalam dalam. Kemudian menatap kembali CEO Frans dan kemudian ke ponselnya. Tasya merasa sedikit kesal.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans pura pura bingung.
"Ini... Apa ini?" Tanya Tasya menunjuk ke ponselnya.
"Hem?" Gumam CEO Frans.
"Ini..!" Ucap Tasya menunjukkan layar ponselnya kepada Tasya dan memutar mutarkan jarinya disekitar ponsel.
"Ada apa? Bukankah itu tampak bagus?" Tanya CEO Frans tersenyum menggoda.
"Iya!" Jawab Tasya dengan menggelengkan kepalanya.
Tasya memutar jarinya lagi disekitar ponselnya kemudian tak mampu menahan tawanya.
"Lalu kenapa kau ketawa?" Tanya CEO Frans.
"Ini sangat sangat sangaaaat bagus!" Ucap Tasya penuh keyakinan.
CEO Frans tersenyum kearah Tasya.
"Tapi kenapa kau mengganti screen dilayar ponselku?" Tanya Tasya bingung.
"Karena aku ingin kau melihatku setia hari." Jawab CEO Frans tersenyum manja.
"Tapi aku sudah melihatmu setiap hari? Apa masih kurang?" Teriak Tasya menunjukkan kekesalannya.
"Tapi aku tetap ingin mengubahnya." Balas CEO Frans mendekatkan kepalanya tak mau kalah.
Tasya dan CEO Frans saling menatap dengan tatapan tajam mereka.
"Baik!" Ucap Tasya tiba tiba dan tersenyum masam.
__ADS_1
Tasya menutup matanya dan menghela nafas agar lebih tenang.
"Bagaimana dengan ponselmu? Apa gambar screen layarnya? Coba aku mau lihat!" Ucap Tasya mengulurkan tangannya untuk melihat ponsel CEO Frans.
CEO Frans tak merespon dan tetap menatap Tasya.
"Aku mau lihat!" Ucap Tasya memajukan tangannya untuk mengambil ponsel CEO Frans yang berada di samping kiri CEO Frans. Tetapi sebelum meraih ponselnya, tangan CEO Frans menggenggam pergelangan tangan Tasya untuk menghalanginya agar tak menyentuh ponselnya.
Tasya menatap CEO Frans semakin kesal. Diwajahnya tampak jelas kekesalannya. CEO Frans menatap Tasya dan menarik tangannya agar wajah mereka semakin berdekatan. CEO Frans diam diam mengambil ponselnya. Dia mencium bibir Tasya dan memotretnya. Tasya terkejut dan menatap kearah ponsel CEO Frans dengan bingung. CEO Frans hanya tersenyum licik.
"Aku akan menggunakan ini di screen layar ponselku." Ucap CEO Frans memperlihatkan foto ciuman mereka.
CEO Frans mengubah screen layarnya dengan foto tersebut. Tasya tersenyum lega.
"Ayo makan. Sebelum dingin." Ucap CEO Frans mengajak Tasya makan pangsit hasil jerih payah mereka.
"Kita nggak jadi buat steak?" Tanya Tasya.
"Kita makan ini saja. Steak kita buat kapan kapan lagi." Jawab CEO Frans.
"Baiklah!" Balas Tasya.
CEO Frans mengambil pangsit menggunakan garpu dan menyuapkannya kepada Tasya..
"Cobalah!" Ucap CEO Frans.
Tasya membuka mulutnya dan menerima suapan dari CEO Frans. Setelah selesai makan mereka mengobrol.
"Memang ini jam berapa?" Tanya Tasya.
"Jam 8 malam." Jawab CEO Frans.
"Ya ampun! Bersamamu aku benar benar lupa waktu. Inginnya bersamamu terus." Balas Tasya tersenyum.
CEO Frans hanya tersenyum.
"Haruskah aku tinggal?" Tanya Tasya.
"Jangan macam macam!" Jawab CEO Frans.
"Hahahaha! Aku hanya bercanda." Balas Tasya tertawa.
"Aku mau pulang!" Lanjut Tasya mengambil tasnya dan siap untuk pulang.
"Tunggu disini. Aku ambil jaket dulu." Ucap CEO Frans.
Tasya menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, CEO Frans sudah siap mengantarkan Tasya pulang.
__ADS_1
"Ayo!" Ucap CEO Frans menghampiri Tasya dan menggenggam tangannya.
Tasya hanya tersenyum menatap CEO Frans.
Diperjalanan tangan mereka tetap bergenggaman. Tasya menatap jendela mobil dengan senyum di bibirnya.
"Bagaimana kalau besok kita pergi berkencan lagi? Berkencan yang sesungguhnya." Ucap CEO Frans mengajak Tasya berkencan lagi.
"Tidak! Tidak! Ada banyak berkas yabg harus aku pelajari. Jangan membuat nilaiku jelek hanya karena kita pacaran." Tolak Tasya.
"Aku bisa memberimu nilai A semua." Ucap CEO Frans menatap Tasya.
"Itu sama saja aku berbuat curang dengan nilaiku. Sejak kapan kamu suka berbuat curang?" Tanya Tasya.
"Aku tidak suka dengan kecurangan. Tapi kalau buat kamu, bisa kita bicarakan baik baik." Jawab CEO Frans tersenyum.
"Kamu jangan macam macam." Ucap Tasya kesal.
"Curang sekali nggak apa apa lah." Ucap CEO Frans dengan senyum menggoda.
"Nggak lucu! Berhenti didepan. Aku turun disitu saja." Ucap Tasya kesal dan menunjuk kearah depan.
"Kenapa?" Tanya CEO Frans bingung.
"Aku mau olahraga." Jawab Tasya.
CEO Frans meminggirkan mobilnya dan menghentikannya ditempat yang diminta Tasya.
Tasya menatap tajam CEO Frans.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans bingung.
"Kamu benar benar menghentikan aku disini?" Tanya Tasya dengan nada marah.
"Bukankah kamu sendiri yang minta turun disini?" Tanya CEO Frans.
Tasya semakin kesal setelah mendengar jawaban CEO Frans. Dia hanya diam menatap depan dan menyilangkan tangannya di atas dadanya. CEO Frans hanya tersenyum melihat tingkah Tasya. CEO Frans melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tasya dan mencium bibir Tasya. Dan kembali ke posisi duduknya. Tasya terkejut dan menatap CEO Frans dengan bingung.
CEO Frans hanya tersenyum dan kembali memakai sabuk pengamannya dan lanjut melajukan mobilnya untuk mengantarkan Tasya pulang. Tasya hanya diam dan menyembunyikan senyumnya agar CEO Frans tak menyadarinya. Tapi tetap saja raut wajahnya tak bisa berbohong. CEO Frans hanya tersenyum melihat Tasya menyembunyikan senyumnya. Diperjalanan menuju asrama kampus, suasana hening tanpa sepatah katapun.
"Aku masuk dulu ya. Kamu hati hati kalau pulang. Selamat malam." Ucap Tasya melepas sabuk pengamannya.
CEO Frans dengan sigap meraih tangan Tasya.
"Ada apa?" Tanya Tasya bingung.
CEO Frans mengarahkan tangannya ke pipi untuk mengisyaratkan sesuatu dan tersenyum. Tasya yang memahami maksudnya langsung melayangkan bibirnya ke pipi CEO Frans.
"Nanti aku telepon kalau sudah sampai rumah." Ucap CEO Frans.
__ADS_1
"Baiklah!" Jawab Tasya dan keluar dari mobil.
Tasya melambaikan tangannya saat CEO Frans melajukan mobilnya untuk pulang. Dia masuk kedalam asrama setelah mobil CEO Frans telah berlalu.