
CEO Frans mengantarkan Tasya pulang menggunakan mobil Asisten Riko. Sedangkan Asisten Riko menggunakan taksi online untuk pulang.
Diperjalanan pulang, berulang kali Tasya menarik nafasnya dan membuangnya kasar. CEO Frans hanya tersenyum senyum sendiri melihat tingkah Tasya.
CEO Frans melirik Tasya dan tersenyum. Dan membuang muka setiap Tasya menatapnya tajam.
"Anda mengemudi dengan mulus. Anda berbohong mengalami kecelakaan? Anda dan Asisten Riko bersekongkol untuk membohongi saya?" Tanya Tasya kesal.
"Aku tidak berbohong. Aku benar benar mengalami kecelakaan." Jawab CEO Frans.
"Saya tidak akan mempercayai Anda lagi." Ucap Tasya kesal dan membuang muka.
"auwh jidatku sakit." Keluh CEO Frans.
"Dimana yang yang sakit?" Tanya Tasya memegang jidat CEO Frans yang dibalut perban.
CEO Frans tersenyum licik.
"Apa perbannya dipasang dengan tidak benar? Apakah kita perlu kembali ke rumah sakit?" Tanya Tasya khawatir.
CEO Frans tertawa puas. Tasya menatapnya. CEO Frans meraih tangan Tasya dan menggenggamnya.
"Sekarang sudah tidak sakit lagi." Ucap CEO Frans tersenyum.
Tasya menjadi tersipu malu.
"Kita mau kemana?" Tanya Tasya.
"Pulang!" Jawab CEO Frans.
"Pulang?" Tanya Tasya lagi.
"Iya! Sekarang sudah malam." Jawab CEO Frans.
"Baiklah!" Jawab Tasya tersenyum.
"Jangan bilang kamu berpikir aku akan membawamu ke suatu tempat." Ucap CEO Frans menggoda.
"Tidak! Tidak! Saya tidak berpikir seperti itu." Ucap Tasya mengelak.
CEO Frans hanya tertawa melihat ekspresi Tasya saat tersipu.
***
Pagi harinya dengan bersemangat Tasya berangkat ke kantor bersama dengan teman temannya.
"Kamu kenapa Sya? Kenapa kamu tersenyum senyum sendiri?" Tanya Intan .
"Aku tidak apa apa." Jawab Tasya tersenyum.
Sesampainya di kantor, Tasya langsung menuju ruangannya. Ternyata sudah ada CEO Frans yang duduk di sofa menunggu Tasya.
"Selamat pagi sayang! Akhirnya kamu datang juga." Ucap CEO Frans tersenyum dan beranjak menghampiri Tasya.
Tasya terkejut dengan panggilan CEO Frans kepadanya.
__ADS_1
"Jangan memanggil sembarangan di kantor." Ucap Tasya menolak.
"Baiklah! Baiklah!" Jawab CEO Frans tersenyum.
"Tumben Anda jam segini sudah berada di kantor?" Tanya Tasya heran.
"Aku ingin melihatmu lebih cepat." Jawab CEO Frans tersenyum.
Tasya tersipu malu mendengar ucapan CEO Frans. Pipinya mulai merona. Melihat Tasya tersipu, CEO Frans tersenyum dan memegang kedua tangan Tasya. CEO Frans mencium bibir Tasya. Tasya langsung menghindar ketika menyadari mereka berada di kantor.
"Duduklah! Ayo kita sarapan. Aku sudah siapkan sarapan. Tunggu aku, aku akan membuatkan kamu susu." Ucap CEO Frans.
Tasya menuruti perintah CEO Frans. Dia menggigit kuku jarinya dan tersenyum senang. CEO Frans keluar mengambilkan minum.
Beberapa saat kemudian CEO datang dengan membawa 2 gelas susu ditangannya dan meletakkan 1 gelas didepan Tasya.
"Ayo makan. Aku sudah memasakkannya untukmu." Ucap CEO Frans.
"Anda yang masak?" Tanya Tasya tak percaya.
"Iya!" Jawab CEO Frans tersenyum.
Dengan membalas senyum CEO Frans, Tasya membuka kotak makanan yang ada dimeja.
"Segera makanlah!" Ucap CEO Frans.
"Aromanya menggugah!" Ucap Tasya tersenyum.
"Ini... Panekuk telur wijen hitam, kan?" Tanya Tasya tersenyum heran melihat warna telurnya hitam.
"Ha? Telur goreng?" Tasya terkejut menatap CEO Frans dan kembali menatap telur goreng yang masih didalam kotak makanan.
"Ini cuma sedikit hitam, aku hanya salah mengatur suhu panas pada kompornya. Tapi isinya masih lembut. Cobalah!" Ucap CEO Frans.
"Tidak!" Jawab Tasya mengalihkan pandangannya dengan gugup.
"Cobalah!" Ucap CEO Frans memaksa.
"Aku minum susu dulu." Ucap Tasya dan mengambil segelas susu dan meminumnya dengan menatap CEO Frans.
CEO Frans membalas menatap Tasya. Tasya menyudahi meminum susunya dan meletakkan kembali gelas di atas meja.
"Hem?" Gumam Tasya memegang tangan CEO Frans.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans mengernyitkan dahinya.
"Tanganmu sudah pulih?" Tanya Tasya.
"Sudah! Kemarin hanya terkilir dan sekarang sudah tidak begitu sakit. Ini tqk mempengaruhiku untuk mengganggumu." Ucap CEO Frans mencubit pipi Tasya gemas.
"Siapa yang mengganggu?" Teriak Tasya melepaskan cubitan CEO Frans.
CEO Frans hanya tersenyum melihat tingkah Tasya. Tasya hanya tersipu malu dan memegang bekas cubitan CEO Frans di pipinya.
"Apa rencana kita hari ini?" Tanya CEO Frans.
__ADS_1
Tasya menatap CEO Frans heran.
"Seperti biasa, bekerja menyelesaikan laporan project kemarin." Jawab Tasya menghela nafas.
"Bagaimana kalau bolos saja hari ini?" Tanya CEO Frans memberikan idenya.
"Kenapa?" Tanya Tasya tek mengerti.
"Agar kita bisa berkencan hari ini." Jawab CEO Frans tersenyum dan memegang kedua tangan Tasya.
"Kencan?" Tanya Tasya menatap heran CEO Frans.
"Iya! Hari ini adalah hari pertama kita resmi pacaran." Jawab CEO Frans mencium tangan Tasya lembut.
"Jadi kau harus pergi bersamaku." Lanjut CEO Frans menarik tangan Tasya sehingga wajah Tasya sedikit maju kehadapan CEO Frans. Kini wajah mereka saling berdekatan.
"Siapa yang sudah resmi..." Ucap Tasya memundurkan wajahnya kebelakang. Dia tak berani menatap mata CEO Frans. Tetapi dengan cepat CEO Frans kembali menarik tangan Tasya lagi dan membuat wajah Tasya kembali mendekat ke wajah CEO Frans.
"... berpacaran denganmu?" Ucap Tasya melanjutkan ucapannya.
Bagaimana kalau begini? Kau yang merencanakan kencan untuk siang hari. Dan aku yang merencanakan kencan untuk malam hari?" Tanya CEO Frans memberikan ide konyolnya.
CEO Frans kembali memegang kedua tangan Tasya.
"Kenapa?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Kalau begitu, kau yang merencanakan untuk malam hari." Ucap CEO Frans tersenyum..
Tasya hanya terdiam tak bisa menjawab. Dia melepaskan tangannya dari genggaman CEO Frans. Tasya mulai gugup. Dia memainkan jari jarinya dan tak tau harus berkata apa.
Karena bingung, Tasya dengan gugup mengambil kotak makanan yang berisi telur goreng gosong dan mengambil sendok untuk memotongnya. Tasya tersenyum malu dan melirik CEO Frans.
"Apakah kau mau makan?" Tanya Tasya menyodorkan ke arah mulut CEO Frans telur goreng yang sudah dipotongnya menggunakan sendok.
CEO Frans tersenyum dan menerima suapan Tasya. CEO Frans menutup matanya dan merasakan sensasi telur gorengannya dan mengunyahnya.
"Kau juga makan! Lembut. Tapi jika tidak enak jangan memakannya." Ucap CEO Frans.
Tasya ikut makan telur goreng tersebut.
"Enak kok!" Ucap Tasya tak ingin mengecewakan CEO Frans.
Mereka tertawa bersama merasakan sensasi rasa dari telur goreng buatan CEO Frans.
Tasya menyuapi CEO Frans bergantian dengan dirinya.
"Besok lagi kalau masak, jangan lupa mengatur suhu panasnya." Ucap Tasya tersenyum
"Aku hanya mengaturnya terlalu tinggi saja." Jawab CEO Frans.
Tasya dan CEO Frans menghabiskan makanan mereka. Meskipun gosong, Tasya ingin menghargai kerja keras CEO Frans.
"Lain kali akan aku buatkan makanan yang lebih baik dari ini." Ucap CEO Frans tersenyum.
Tasya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1