DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 97


__ADS_3

Tepat dihari Tasya wisuda, orangtuanya tidak bisa datang karena harus bekerja dan mereka tinggal diluar kota. Semua teman teman seangkatannya membawa keluarga mereka. Tetapi itu tak mengecilkan hati Tasya.


Setelah acara selesai semua teman teman disekitarnya berfoto bersama keluarganya.


"Teman teman ayo kita foto bersama. buat kenangan kita wisuda." Ucap Anggi menarik tangan Tasya.


Vera, Tasya, Anggi dan intan berfoto bersama sesuai gaya mereka masing masing. Setelah beberapa potretan dengan gaya berbeda beda, Anggi meminta kameranya untuk melihat hasil potretannya. Mereka melihat bersama sama.


"Tasya!" Panggil seseorang dari arah belakang.


Tasya mendongakkan wajahnya ke depan karena terkejut dengan suara tidak asing memanggilnya. Sedikit tidak percaya dengan seseorang yang memanggilnya, Tasya langsung menoleh kebelakang diikuti teman temannya.


"Tante Johan?" Tanya Tasya tidak percaya.


Di samping Nyonya Johan berdiri, suaminya dan CEO Frans yang tersenyum kearah Tasya.


"Selamat ya! Akhirnya kamu lulus kuliah." Ucap Nyonya Johan tersenyum.


"Iya! Makasih Tante." Jawab Tasya membalas senyum mereka dan menghampiri mereka untuk bersalaman dengan orang tua CEO Frans.


"Mana keluarga kamu?" Tanya Nyonya Johan.


"Pada nggak bisa dateng Tante. Soalnya pada bekerja semua." Jawab Tasya tersenyum masam.


"Ya sudah! Tante sama Om bisa wakilin mereka jadi wali kamu. Lagian ini Frans datang juga buat kamu." Ucap Nyonya Johan tersenyum dan melirik kearah CEO Frans yang sedari tadi masih terdiam.


CEO Frans yang merasa terpanggil langsung memberikan sebuket bunga untuk Tasya.


"Selamat ya sayang! Kamu akhirnya lulus kuliah." Ucap CEO Frans tersenyum dan mengusap rambut Tasya.


"Makasih!" Jawab Tasya tersenyum manja.


"Oh iya Om, Tante kenalin ini temen temen kuliah aku. Sekaligus dulu yang magang di perusahaan milik Om." Ucap Tasya memperkenalkan teman temannya.


Anggi, Vera dan Intan bersalaman dan memperkenalkan diri kepada Tuan dan Nyonya Johan secara bergantian. Mereka menyebut nama masing masing. Dengan senang hati Tuan dan Nyonya Johan menyambut mereka.


"Tasya, kita pergi duluan ya. Nanti kamu nyusul aja." Ucap Anggi berpamitan dengan Tasya.


"Oke!" Balas Tasya dan mengisyaratkan tangannya tanda setuju.


"Om Tante kita pergi dulu ya!" Pamit Vera.


"Oh iya! Hati hati ya!" Jawab Nyonya Johan.


"Iya Tante!" Balas Vera.


Mereka kemudian pergi setelah berpamitan.


"Ayo kita foto bersama." Ucap Nyonya Johan mengajak semua berfoto.

__ADS_1


Setelah mengambil beberapa potretan dan mengobrol cukup lama, Nyonya Johan mengajak suaminya pulang. Tuan Johan pun menyetujuinya.


"Frans, kamu antar Tasya pulang ya!" Ucap Nyonya Johan memerintahkan CEO Frans untuk mengantar Tasya pulang.


"Iya Ma. Mama tenang saja." Jawab CEO Frans.


"Kalau begitu Mama dan Papa pulang dulu ya. Tasya, Mama dan Papa pulang dulu ya!" Ucap Nyonya Johan pamit.


"Iya Tante, Om! Hati hati." Ucap Tasya tersenyum.


"Kalau hanya keluarga sendiri panggil kita Mama dan Papa saja. Iya kan Pa?" Ucap Nyonya Johan melirik suaminya.


Tasya hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.


Akhirnya Tuan dan Nyonya Johan masuk kedalam mobil dan mesin mobil mulai menyala. Tidak lama kemudian sopir mengemudikan mobilnya dan berlalu begitu saja.


"Aku pergi nyusul temen temen aku dulu ya. Kamu pergi duluan nggak apa apa." Ucap Tasya tersenyum.


"Masuk mobil dulu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Ucap CEO Frans tampak serius.


Tasya yang bingung dengan situasinya tak ingin banyak tanya dan hanya menuruti perintah CEO Frans.


"Ada apa?" Tanya Tasya setelah mereka berdua masuk kedalam mobil.


"Kamu kan udah lulus, jadi kamu mau tinggal dimana sekarang?" Tanya CEO Frans menatap Tasya serius.


"Aku belum tau. Aku belum berpikir sampai disitu." Jawab Tasya membalas tatapan CEO Frans.


Tasya hanya terdiam karena bingung.


"Sekarang kita cari rumah buat kamu." Ucap CEO Frans menyalakan mesin mobilnya.


"Tunggu sebentar!" Cegah Tasya memegang tangan CEO Frans.


"Kenapa?" Tanya CEO Frans bingung.


"Aku belum ada uang buat membayarnya." Jawab Tasya melirihkan suaranya.


"Apa gunanya ada aku disini? Aku bisa menyewakan kamu rumah." Ucap CEO Frans tak mau mengalah.


"Aku nggak mau. Aku nggak mau nyusahin kamu." Jawab Tasya.


"Siapa yang nyusahin? Kita cari rumah dulu." Ucap CEO Frans tetap memaksa.


"Enggak ya enggak!" Ucap Tasya juga tak mau kalah.


"Ya sudah begini saja. Aku sewain kamu rumah, dan kamu bisa nyicil untuk bayar hutang sewa setelah kamu kerja?" Ucap CEO Frans memberi pendapat.


"Tidak! Aku belum dapat pekerjaan. Aku tidak setuju." Ucap Tasya menolak.

__ADS_1


"Hanya ada 2 pilihan buat kamu. Kamu mau cari rumah atau kamu tinggal di rumah aku?" Ucap CEO Frans memberi pilihan.


"Kita cari rumah." Jawab Tasya tanpa ragu dan berpikir.


"Yakin kamu nggak mau tinggal sama aku?" Tanya CEO Frans menggoda Tasya.


Tasya mulai salah tingkah dan pipinya mulai memerah karena tersipu.


"Enggak!" Jawab Tasya tegas dan menatap ke depan.


"Bener?" Goda CEO Frans lagi.


"Bener!" Jawab Tasya.


"Lalu kenapa pipinya memerah? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya CEO Frans terus menggoda Tasya.


"Kita jadi cari rumah nggak?" Tanya Tasya menatap CEO Frans dengan tatapan yang serius. Bertanda dia sedang tidak ingin bercanda.


"Ya udah! Ya udah! Kita berangkat pindah ke rumahku." Ucap CEO Frans tetap menggoda.


Tasya kembali menatap CEO Frans. Hanya saja tatapannya semakin tajam.


"Iya! Iya! Kita cari rumah." Ucap CEO Frans tersenyum.


"Aku pamit dulu ke teman teman aku." Ucap Tasya dan membuka pintu.


"Nggak! Ngabarin bisa lewat pesan singkat." Ucap CEO Frans mencegah Tasya turun dari mobil.


"Baiklah!" Tasya kembali menutup pintu mobil dan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke salah satu temannya.


Setelah mengirim pesan, Tasya memakai sabuk pengaman sedangkan CEO Frans mulai mengemudikan mobilnya.


CEO Frans mengajak Tasya untuk makan siang terlebih dahulu disebuah restoran berbintang. Setelah makan siang selesai barulah Tasya dan CEO Frans mencari rumah untuk Tasya. CEO Frans memberikan Tasya beberapa pilihan agar dia bisa memilih rumah yang paling nyaman untuk dia tempati.


Beberapa pilihan sudah di survei tapi sepertinya Tasya tak berminat satupun dari semua pilihan.


"Nggak ada yang cocok?" Tanya CEO Frans.


Tasya hanya menggelengkan kepalanya.


"Kita cari lagi." Ucap CEO Frans mengajak Tasya mencari rumah yang lain.


CEO Frans menarik tangan Tasya masuk kedalam mobil.


"Enggak usah! Sepertinya akan susah." Ucap Tasya menahan tangan CEO Frans.


"Kenapa?" Tanya CEO Frans bingung.


"Sepertinya akan susah. Aku sudah terlalu nyaman dengan rumahku dulu." Ucap Tasya ragu ragu.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini sebentar." Ucap CEO Frans keluar dari mobil.


CEO Frans meninggalkan Tasya dan pergi agak jauh dari mobilnya.


__ADS_2