
"Sebenarnya apa yang Anda lakukan disini?" Tanya Asisten Riko kesal.
CEO Frans tetap diam tak menjawab.
"Anda ingin dia tau perasaan Anda tanpa Anda mengungkapkannya? Hahahahaha Anda sangat luar biasa." Ucap Asisten Riko semakin kesal.
CEO Frans hanya diam dan menatap tajam Asisten Riko.
"Apakah ada hal lain yang bisa Anda lakukan selain dengan tatapan tajam Anda yang dingin itu?" Tanya Asisten Riko.
Tak menjawab, CEO Frans beranjak dan pergi meninggalkan Asisten Riko.
"Lagi lagi dia pergi meninggalkanku." Ucap Asisten Riko kesal.
Dengan kesalnya, Asisten Riko pergi mengikuti langkah CEO Frans.
"Tuan Frans, Anda mau kemana? Anda punya janji temu sekarang." Ucap Asisten Riko yang berusaha mengimbangi langkah cepat CEO Frans.
"Batalkan semua jadwal. Saya mau istirahat." Ucap CEO Frans.
"Tetapi bagaimana bisa dibatalkan ..." Ucap Asisten Riko menghentikan ucapannya lagi lagi karena tatapan tajam CEO Frans.
"Baiklah!" Lanjut Asisten Riko setelah melihat tatapan tajam CEO Frans.
***
Jum'at...
Hari ini adalah hari peluncuran produk. Semua yang bertanggungjawab atas project tersebut berkumpul diruang rapat untuk menantikan hasil dari produk yang telah diluncurkan.
Semua menatap ke layar LCD dan menunggu menit menit terakhir waktu yang telah ditentukan. Semua merasa gelisah dan jantung berdebar debar tak sabar menantikan hasilnya.
Hanya tinggal hitungan detik. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1 ... persentase peluncuran mulai dihitung. Angka dilayar dengan cepat bertambah dan terus bertambah. Dan terhenti diangka 34,7%. Artinya produk dari Perusahaan Start lebih unggul dibandingkan dengan 7 produk dari perusahaan lainnya.
Produk dari perusahaan Start lebih banyak diminati oleh konsumen. Saking senangnya tanpa sadar Tasya memeluk erat Raka. Tasya dan Tasya tertawa senang karena produknya unggul dipasaran. CEO Frans yang melihat tingkah mereka berdua merasa sangat kesal.
"Jangan bangga dulu! Kita lihat sampai besok! Kalau ada komentar negatif lebih banyak daripada komentar positif, itu artinya kuta gagal." Ucap CEO Frans dingin.
Tasya dan Raka tiba tiba terdiam setelah mendengar ucapan CEO Frans. CEO Frans kemudian pergi meninggalkan ruang rapat. Tasya dan Raka hanya saling tatap dengan tatapan penuh tanya.
"Sudah biarkan saja! Yang penting produk kita berjalan dengan lancar dan bisa diterima oleh masyarakat." Ucap Raka menenangkan hati Tasya.
Tasya hanya mengangguk dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Malam ini aku traktir kamu makan malam. Karena kamu sudah banyak membantuku." Ucap Tasya tersenyum kearah Raka.
"Baiklah! Aku yang menentukan tempatnya." Balas Raka.
Tasya hanya mengangguk dan tersenyum. Tetapi wajah kesal Tasya tidak bisa berbohong.
"Sudah tidak usah diambil hati. Kamu kan tau sendiri CEO Frans orangnya seperti apa. Dia kan memang hobi menyakiti hari orang lain. Apalagi kita yang hanya bawahannya." Ucap Raka menenangkan hati Tasya.
Tasya hanya tersenyum lebih ikhlas dari sebelumnya.
"Mending kita pergi ke kedai kopi saja. Dan bersantai di sana." Ucap Raka merangkul bahu Tasya dan mengajaknya pergi.
Tasya hanya menurut saja dan mengikuti Raka. Sesampainya di kedai kopi, mereka duduk dan menikmati kopi. Karena pekerjaannya sudah selesai dan sukses, mereka berdua bisa bersantai.
"Oh iya! Kamu kapan akan kembali ke perusahaanmu?" Tanya Tasya.
"Aku masih harus menunggu tanggapan dari masyarakat tentang produk kita. Kalau semua positif, aku akan kembali." Jawab Raka tersenyum.
"Maaf ya kalau aku banyak menyulitkanmu dalam project ini." Ucap Tasya merasa bersalah
"Tidak apa apa! Semua wajar. Kamu baru pertama kalinya. Lagian kesempatan seperti kamu juga jarang didapat. Jadi hal biasa kamu ingin hasil yang maksimal." Ucap Raka tersenyum.
Mereka mengobrol santai hingga lupa waktu.
***
"Ada apa Anda meminta saya datang kesini malam malam?" Tanya Asisten Riko setelah tiba di rumah CEO Frans.
"Aku ingin membuat pengakuan kepada Tasya. Tapi tidak tau caranya." Jawab CEO Frans malu.
"Bagus! Jangan biarkan Raka mengalahkanmu. Meskipun aku tau sainganmu sulit untuk dikalahkan, aku akan tetap mendukungmu." Ucap Asisten Riko tersenyum dan berjalan mematikan lampu ruang tamu CEO Frans.
Mereka berdua berbicara sebagai sahabat.
"Mari kita mulai!" Lanjut Asisten Riko duduk di kursi depan CEO Frans duduk.
"Ini pertama kalinya aku melakukan ini. Aku tidak punya pengalaman. Pikirkan sesuatu untukku!" Ucap CEO Frans.
"Tapi kamu tidak bisa meminta orang lain untuk melakukannya untukmu begitu saja." Ucap Asisten Riko.
"Tetapi kenapa kita harus mematikan lampunya?" Tanya CEO Frans berbisik.
"Ini menyenangkan!" Jawab Asisten Riki yakin.
__ADS_1
"Nyalakan lampunya!" Ucap CEO Frans dingin.
Asisten Riko berdiri untuk menyalakan lampunya kembali duduk.
"Ini!" Ucap Asisten Riko memberikan sebuah buku untuk CEO Frans.
"Apa ini? Rahasia Untuk Memenangkan Hati?" Tanya CEO Frans membaca judul buku tersebut.
"Kakekku meninggalkan ini untukku. Ini buku bagus." Jawab Asisten Riko.
"Asisten Riko, kamu jangan menggunakan keluargamu untuk mengatasi ini." Ucap CEO Frans.
CEO Frans membuka halaman pertama dan mulai membacanya.
"Berhentilah membacanya." Ucap Asisten Riki menyahut buku tersebut dari tangan CEO Frans.
"Sepertinya buku ini memang ketinggalan jaman. Dan itu tidak akan berhasil." Ucap Asisten Riko.
"Lalu, cara apa yang akan kau berikan kepadaku?" Tanya CEO Frans.
"Tenang saja! Kamu masi memiliki aku yang punya banyak pengalaman. Berdasarkan pengalamanku, cinta yang sukses hanya akan terjadi ketika kau menunjukkan kepadanya sisi terbaik dan paling unik darimu." Jawab Asisten Riko.
"Apa yang paling unik dariku?" Tanya CEO Frans.
"Sikapmu dingin." Jawab Asisten Riko singkat.
"Dingin?" Tanya CEO Frans rak mengerti.
"Iya! Dingin! Tunjukkan sikap dinginmu." Jawab Asisten Riko dengan santai.
CEO Frans menatap Asisten Riko dengan wajah bingungnya. Asisten Riki berdiri menghampiri CEO Frans dan duduk disebelahnya. CEO Frans tetap diam menatap Asisten Riko yang sekarang duduk disebelahnya untuk mendengarkan kelanjutannya.
"Begini saja! Mulai hari ini, blokir kontaknya. Menghilanglah! Berhenti menghubunginya secara pribadi." Ucap Asisten Riko menghentikan ucapannya agar CEO Frans bisa mencernanya.
"Lanjutkan!" Ucap CEO Frans.
"Ini bagian pentingnya! Jangan perdulikan dia dan tunjukkan sikap acuh tak acuh terburukmu. Buat dia yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu." Ucap Asisten Riko melanjutkan arahannya dengan yakin.
"Sebentar! Itu terlalu beresiko. Dengan otak Tasya yang seperti itu, dia akan melupakan aku dengan mudah." Ucap CEO Frans.
"Benar juga yang Anda katakan itu!" Ucap Asisten Riki mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kalau begitu berhentilah memberiku nasihat buruk." Ucap CEO Frans kesal dan mendorong tubuh Asisten Riko kesamping hingga dia tergeletak.
__ADS_1
"Maaf! Maaf!" Ucap Asisten Riko bangun dan membenahi posisinya untuk kembali duduk.
CEO Frans sama sekali tak menghiraukannya.