
Keesokkan harinya...
"Ayo cepetan ada cowok ganteng didepan." Ucap Amy teman seasrama Tasya.
Tasya mendengar bisikan bisikan dari teman teman tetangga kamarnya di asrama saat dia keluar dari kamar dengan teman temannya.
"Aku penasaran sebenarnya siapa cowok itu." Ucap Anggi penasaran setelah mendengar omongan orang orang disekitarnya samar samar.
"Aku juga penasaran! Ayo kita ikut nimbrung." Ucap Intan menarik tangan Anggi.
Anggi dan Intan berlari lebih dulu, dan Vera mengikutinya. Karena tak tertarik dengan siapa cowok yang mereka bicarakan, Tasya memilih berjalan pelan dibelakang.
Setelah melihat cowok tersebut, Anggi, Intan dan Vera langsung berbalik menatap Tasya.
"Ada apa?" Tanya Tasya tanpa mengeluarkan suara. Hanya isyarat mulutnya saja.
Tasya bingung kenapa teman temannya melihat kearahnya. Karena penasaran, Tasya mempercepat langkahnya.
Tasya terkejut dan menghentikan langkahnya, matanya sedikit membelalak tak berkedip.
Tampak didepannya seorang cowok menggunakan setelan jas biru tua dengan sepatu hitam. Dia mengenakan kaca mata hitam. Tasya tersadar bahwa cowok tersebut adalah kekasihnya setelah CEO Frans berbalik kearahnya dan tersenyum. Tangan kirinya berada didalam saku celananya Sedangkan tangan kanannya membawa sebuket bunga.
"Wahhh! Romantis banget sih dia." Ucap salah satu penonton yang mengagumi CEO Frans.
Tasya tersadar dari lamunannya, dan segera berjalan kearah CEO Frans. Karena kesal ada yang memuji kekasihnya, dengan segera Tasya menarik tangan CEO Frans ke tempat yang sepi.
"Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Tasya sedikit kesal.
"Aku cuma mau ketemu kamu. Aku kangen sama kamu." Jawab CEO Frans.
"Tapi nggak perlu tebar pesona juga kan di depan cewek cewek." Balas Tasya cemberut.
"Hem??? Kamu cemburu?" Tanya CEO Frans memegang kedua lengan Tasya.
"Enggak! Siapa yang cemburu? Aku tuh cuma kesal aja liat kamu tebar pesona didepan cewek cewek itu." Jawab Tasya sedikit berteriak.
"Iya! Iya! Maafin aku! Nggak akan aku ulangi lagi." Ucap CEO Frans menarik tubuh Tasya kepelukannya.
Tasya hanya terdiam dan tersenyum tipis.
"Oh iya! Ngapain kamu kesini?" Tanya Tasya penasaran. Tasya melepaskan pelukan CEO Frans.
"Aku kangen sama kamu! Sama aku mau beri bunga ini." Jawab CEO Frans memberikan sebuket bunga yang dibawanya kepada Tasya.
__ADS_1
"Makasih ya sayang!" Ucap Tasya tersenyum senang dan menerima bunga tersebut.
"Ya sudah aku kembali ke kantor dulu ya. Kamu semangat kuliahnya. Aku sayang sama kamu." Ucap CEO Frans berpamitan.
"Iya! Dadah!" Balas Tasya melambaikan tangannya.
"Oh iya! Nanti kamu kuliah sampai jam berapa?" Tanya CEO Frans.
"Jam 2. Tapi kamu nggak usah kesini." Jawab Tasya.
"Kenapa memangnya?" Tanya CEO Frans.
"Kamu nanti tebar pesona lagi." Jawab CEO Frans.
"Iya! Iya! Ya udah aku pergi dulu." Ucap CEO Frans mengelus rambut Tasya.
Tasya hanya tersenyum dan mengangguk.
***
Di perusahaan...
Tasya masuk kedalam perusahaan untuk menemui CEO Frans. Tasya berjalan menuju meja resepsionis.
"Selamat siang! Tuan Frans nya ada?" Tanya Tasya.
"Ada! Tapi Tuan Frans baru saja menghadiri rapat diruang rapat. Mau saya hubungi Sekretaris Tya untuk memberitahu Tuan Frans?" Jawab Jihan.
"Tidak! Tidak! Saya akan menunggu diruang tunggu saja." Ucap Tasya tersenyum ramah.
"Baiklah! Tetapi rapat baru saja mulai. Mungkin akan selesai dalam 1 setengah jam." Ucap Jihan.
"Tidak apa apa." Jawab Tasya.
"Baiklah! Nanti saya akan memberitahu Anda kalau rapat sudah selesai." Ucap Jihan.
Tasya tersenyum dan pergi menuju ruang tunggu perusahaan. Setelah setengah jam menunggu, tak sengaja dia bertemu dengan Asisten Riko.
" Nona Tasya? Kenapa Anda disini?" Tanya Asisten Riko menghampiri Tasya.
"Asisten Riko! Aku menunggu CEO Frans. Katanya dia sedang rapat." Jawab Tasya.
"Anda bisa langsung menunggu di ruangannya." Ucap Asisten Riko.
__ADS_1
"Enggak! Aku menunggu disini saja." Balas Tasya.
"Ayolah! Dia pasti akan marah kepada semua karyawan kalau dia tau Anda menunggu disini." Ucap Asisten Riko berharap Tasya mengerti.
"Baiklah! Nanti aku akan ke ruangannya." Ucap Tasya.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit Asisten Riko dengan sopan dan berlalu meninggalkan Tasya.
Tasya masih duduk diam diruang tunggu dan membaca majalah yang disediakan oleh perusahaan. Tasya membolak balikkan halaman majalah setelah selesai membaca satu per satu halaman majalah tersebut. Merasa bosan membaca, Tasya meletakkan kembali majalah yang dibacanya di atas meja.
Tasya berjalan jalan mengelilingi kantor dan pergi ke ruang rapat. Di depan ruang rapat dia melihat CEO Frans keluar dari ruang rapat dan dikerumuni oleh karyawannya yang bertanya tentang proyek yang mereka kerjakan.
Melihat Tasya berada di sana, CEO Frans menghentikan semua pertanyaan dan tak lagi menghiraukan pertanyaan yang sudah dilontarkan kepadanya. CEO Frans berjalan menghampiri Tasya. Tak ada satu karyawan pun yang berani mengganggunya lagi.
"Kamu disini?" Tanya CEO Frans menghampiri Tasya.
"Iya!" Jawab Tasya.
"Kamu sudah lama?" Tanya CEO Frans lagi.
"Belum! Aku baru saja sampai." Jawab Tasya.
"Ya sudah! Ayo keruangan aku." Ajak CEO Frans menggandeng tangan Tasya dan mengajaknya pergi ke ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, CEO Frans duduk di kursinya dan diikuti Tasya. Tasya langsung duduk dipangkuan CEO Frans tanpa di suruh.
"Sepertinya kamu merindukan aku." Ucap CEO Frans tiba tiba dan tersenyum melihat tingkah Tasya.
Tasya tak menjawab sepatah katapun. Yang membuat CEO Frans terkejut, Tasya tiba tiba memutar pinggangnya dan melingkarkan kedua tangannya dileher CEO Frans. Tasya hanya tersenyum semanis mungkin. Mata mereka saling bertatapan. Tak mau kalah, CEO Frans melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tasya.
"Kenapa kamu tiba tiba semanja gini? Tidak biasanya kamu seperti ini." Bisik CEO Frans ditelinga Tasya.
"Memangnya nggak boleh?" Tanya Tasya sedikit kesal.
"Kenapa nggak boleh?" Tanya balik CEO Frans.
Tak menunggu Tasya menjawab, CEO Frans mendekatkan kepalanya ke kepala Tasya. Bibirnya ia arahkan ke bibir Tasya. Kini bibir mereka saling menempel dan Tasya mulai memejamkan matanya. Menikmati suasana mereka.
"Tuan Frans!" Panggil Asisten Riko masuk ruangan CEO Frans tanpa mengetuk pintu.
Tasya yang terkejut dengan suara Asisten Riko, mendorong tubuh CEO Frans dan langsung berdiri menjauh. CEO Frans menatap tajam Asisten Riko. Asisten Riko pun merasa sungkan dan menghentikan langkahnya didepan pintu.
"Maafkan saya! Mungkin saya datang diwaktu yang tidak tepat. Saya akan datang lagi nanti. Silahkan dilanjutkan bermesraannya." Ucap Asisten Riko tersenyum licik kearah CEO Frans.
__ADS_1
Tasya tak berani melihat kearah Asisten Riko. Dia merasa sungkan karena kepergok bermesraan dengan CEO Frans. Jadi Tasya berdiri membelakangi Asisten Riko dengan tangan kanannya mengusap leher bagian belakang. Tasya hanya berharap Asisten Riko segera keluar dari ruangan tersebut.