DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 63


__ADS_3

Selesai rapat, Tasya dan Raka kembali ke ruangan mereka. Sesampainya di sana, Tasya tak melihat CEO Frans di mejanya. Tanpa sadar Tasya melirik kanan kiri untuk mencari keberadaannya.


"Kemana dia? Apakah dia istirahat di ruang istirahatnya? Atau dia ada pekerjaan diluar? Sepertinya tidak ada jadwal bertemu klien." Batin Tasya bertanya tanya.


Raka melihat Tasya yang tampak bingung.


"Hei kamu kenapa bengong?" Tanya Raka mengagetkan Tasya dengan menepuk bahu kanannya


"Hem? Tidak apa apa." Jawab Tasya tersenyum.


Tasya kembali ke mejanya, begitu juga Raka. Setelah rapat tidak ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan. Jadi mereka bisa bersantai dan mengobrol.


Di sana tidak ada CEO Frans, jadi mereka bisa mengobrol dengan leluasa tanpa ada yang mengawasi. Seperti bom waktu yang hampir meledak setiap kali melihat tatapannya yang sangat mengerikan.


Ttiiinnngggg.... Suara ponsel Tasya.


Tasya mengambil ponselnya dan membuka pesan yang diterimanya.


"Tasya, ayo makan siang." Isi pesan Anggi.


Tasya kembali mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kedalam saku celananya.


"Ayo kita turun untuk makan siang." Ucap Tasya mengajak Raka makan siang.


Tasya dan Raka turun bersama untuk menyusul Anggi dan yang lainnya ke kantin. Baru saja Tasya dan Raka duduk. Tiba tiba seisi kantin dikagetkan dengan kedatangan CEO Frans ditemani oleh Asisten Riko. Semua mata tertuju pada setiap langkah CEO Frans yang terlihat dingin.


"Kalian lanjutkan dengan tenang makan siang kalian." Ucap Asisten Riko agar mereka semua tak menghiraukan kedatangan CEO Frans.


"Tidak biasanya CEO Frans mau menginjakkan kakinya di kantin. Ada apa? Apakah dunia akan kiamat?" Gumam seorang karyawan kepada karyawan lain.


"Aku juga tidak tau. Kita lihat saja. Diamlah!" Jawab karyawan lainnya.


Sebagian ada yang melanjutkan makan siangnya. Sebagian juga ada yang tetap memperhatikan gerak gerik CEO Frans karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan CEO Frans.


CEO Frans duduk di bangku kosong disebelah bangku Tasya dan teman temannya. Tasya hanya diam dan berpura pura tak perduli ketika CEO Frans menatapnya. Karena kesal tak dihiraukan CEO Frans kembali berdiri dan menghampiri Tasya.

__ADS_1


"Kamu ikut saya sebentar. Saya ingin bicara." Ucap CEO Frans dingin.


Tasya merasa malu karena menjadi pusat perhatian karyawan lainnya. Semua mata tertuju kepadanya.


"Jadi CEO Frans datang ke kantin demi mahasiswa magang itu? Aku jadi iri." Gumam salah satu karyawan wanita.


"Aku sudah satu tahun bekerja disini, tetapi belum pernah melihat CEO Frans datang ke kantin. Dan ini benar benar pertunjukan langka, melihat CEO Frans datang ke kantin demi seorang wanita." Imbuh karyawan wanita lainnya.


"Ayo!" Ucap CEO Frans menarik tangan Tasya.


"Wah! CEO Frans memegang tangan wanita pemagang itu." Teriak heboh karyawan yang melihat secara langsung CEO Frans memegang tangan Tasya.


"Sungguh fenomena langka." Imbuh teman sebangku karyawan tersebut.


Banyak karyawan wanita yang merasa iri dengan perlakuan CEO Frans kepada Tasya. Meskipun sering bersikap dingin, CEO Frans mempunyai wajah tampan dan seorang CEO perusahaan. Jadi banyak karyawan wanita mendambakannya.


Tasya memutuskan untuk mengikutinya daripada dia akan semakin dipermalukan. CEO Frans menarik tangan Tasya erat dan membawanya ke tangga darurat yang sepi. Jarang ada orang yang menggunakan tangga darurat tersebut. Karena memilih menggunakan lift.


"Tuan Frans sakit. Lepaskan tangan saya." Ucap Tasya mengerang kesakitan.


"Apakah aku terlalu kasar?" Batin CEO Frans.


"Bangunlah!" Ucap CEO Frans tanpa mencoba membantu Tasya berdiri.


Tasya berdiri dan memegang bokongnya yang masih sakit.


"Anda ini kenapa? Kenapa tiba tiba marah tanpa alasan?" Tanya Tasya kesal.


"Saya sangat kesal. Siapa suruh kamu tidak memperdulikan saya sewaktu di kantin?" Ucap CEO Frans balik bertanya.


"Saya harus gimana? Anda ingin semua orang mencurigai Anda dan saya ada hubungan apa apa?" Tanya Tasya kesal.


"Siapa perduli dengan mereka." Jawab CEO Frans dingin.


"Terserah Anda saja." Ucap Tasya kesal.

__ADS_1


Tasya berniat untuk pergi. Ketika dia memegang gagang pintu dan ingin membukanya, secepat kilat CEO Frans menarik tangan Tasya dan menyandarkannya didinding. Tasya memejamkan mata karena ketakutan dan menahan rasa sakit di punggungnya.


CEO Frans meletakkan telapak tangan kirinya di dinding, di samping telinga Tasya. Dia menatap tajam Tasya. Tasya membuka matanya.


"A.. Ada apa?" Tanya Tasya ketakutan.


"Saya sudah pernah bilang, saya paling tidak suka ada orang yang tidak menghiraukan saya. Saya paling tidak suka ada orang yang meremehkan saya." Ucap CEO Frans marah.


"Ma.. Maafkan saya." Ucap Tasya ketakutan dan dengan mata yang mulai berkaca kaca.


Melihat Tasya hampir menangis, CEO Frans tak tega. Dia hanya diam untuk menenangkan dirinya sejenak. Tiba tiba CEO Frans menempelkan bibirnya ke bibir Tasya. Perlakuan tersebut membuat Tasya tersentak tetapi tak bisa menolaknya. Dia justru memejamkan matanya menerima perlakuan tersebut.


Melihat tak ada perlawanan, CEO Frans mulai ******* bibir Tasya dengan ganasnya. Tasya pun membalas lumatannya. Bibir mereka saling berpagutan. Tangan kanan CEO Frans memegang tangan kiri Tasya dan mengangkatnya sebatas telinga. Tangan kanan Tasya merangkul leher CEO Frans. Sedangkan tangan kiri CEO Frans berpindah merangkul pinggang Tasya dan menekan tubuh Tasya untuk dipeluknya erat.


CEO Frans melepaskan ciumannya. Tasya menatap mata CEO Frans, ada kehangatan di tatapannya saat ini. CEO Frans membalas menatap Tasya, dan kembali menyerang bibir Tasya lebih ganas lagi. Tasya mengimbangi serangannya. Sesekali CEO Frans menggigit lembut bibir bawah Tasya. Tasya pun membalasnya. Mereka saling menikmati pertempuran kedua mereka.


Karena sudah terlalu lam dan nafas mulai memburu karena hampir kehabisan nafas, Tasya mendorong dada CEO Frans agar terlepas dari ciumannya. CEO Frans menatap Tasya dengan penuh tanya. CEO Frans ingin menciumnya kembali, tetapi Tasya menolaknya. Tasya mengelap bekas air liur disekitar bibirnya dan pergi tanpa mengatakan apapun.


CEO Frans tak melarangnya pergi. Dia tetap berdiri di posisinya dan tersenyum senang.


Tasya kembali ke ruangannya. Lagi lagi kepergok oleh Raka. Tasya terkejut melihat Raka sudah kembali ke kantor. Tasya melirik jam didinding.


"Sudah jam 1? Tak terasa kita melakukannya terlalu lama." Batin Tasya.


"Kamu darimana saja? Kamu diapain sama CEO itu?" Tanya Raka kesal.


"Biasalah! Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi." Jawab Tasya.


"Dia mengganggumu lagi? Apa sih maunya? Kenapa selalu ..." Ucap Raka marah dan tiba tiba terhenti karena melihat CEO Frans masuk.


"Kenapa tidak dilanjutin? Ayo lanjutkan saja." Ucap CEO Frans seperti tidak terjadi apa apa.


Tasya dan Raka hanya saling tatap dan kembali ke meja masing masing untuk kembali bekerja.


Tasya sesekali melirik kearah CEO Frans, entah karena rasa malu dan canggung atau rasa takut. Hatinya mulai tumbuh begitu banyak pertanyaan yang susah untuk dijawabnya. Jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2