
Di ruangan Frans...
Setelah interview selesai, Frans kembali ke kantornya dengan diikuti oleh Riko, asistennya. Frans duduk di kursinya, sedangkan Riko berdiri didepannya.
"Katakan! Apa yang direncanakan Mama?" Tanya Frans tiba tiba dengan nada dingin. Membuat Riko menjadi gugup.
Frans mencurigai Mamanya akan melakukan sesuatu hal yang tidak diketahuinya.
"Aku bersumpah demi nyawaku. Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu hal darimu. Apalagi berpikir untuk mengkhianatimu. Aku tidak pernah bermaksud menghasilkan uang atau semacamnya dari hal ini. Aku bersumpah bahwa aku tidak tau apa yang direncanakan Tante Johan untukmu." Ucap Riko menjelaskan kepada Frans dengan rasa takut didalam dirinya.
Frans hanya diam tak menjawab. Dia hanya berpikir tentang rencana Mamanya.
Kedua siku Frans berada di atas mejanya dan tangannya menyangga dagunya.
"Kamu jangan salah paham kepadaku." Ucap Riko meyakinkan Frans.
Frans menatap tajam Riko dan tetap diam.
"Percayalah kepadaku! Aku berkata jujur." Ucap Riko lagi untuk meyakinkan Frans.
"Seperti biasa. Laporkan apa saja yang Mama rencanakan untukku." Ucap Frans.
"Baiklah." Balas Riko.
Frans kembali diam dan berpikir.
"Oh iya! Soal Mahasiswa magang itu ..." Ucap Riko belum selesai sudah dipenggal oleh Frans.
"Kamu yang urus." Jawab Frans.
"Aku?" Tanya Riko tak mengerti.
"Kenapa? Kamu menolak?" Tanya Frans marah.
"Tidak! Tidak! Baiklah aku akan mengurus semuanya." Jawab Riko.
Frans kembali terdiam.
"Baiklah! Kalau tidak ada hal lain lagi saya permisi." Pamit Riko tiba tiba berbicara formal.
Riko membalikkan badannya dan hendak pergi.
"Tunggu!" Cegah Frans.
Riko menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Frans dan dengan segera mengangkat ketiga jarinya.
"Aku bersumpah!" Ucap Riko frustasi.
"Apakah menurutmu aku menyebalkan? Apakah penampilanku merusak pemandangan?" Tanya Frans tiba tiba menatap tajam Riko. Pertanyaan tersebut mengagetkan Riko.
__ADS_1
Selama dia menjadi teman kuliah Frans dan bekerja dengannya, baru kali ini dia mendengar pertanyaan semacam ini dari mulut Frans.
"Menurutku telingaku terbentur. Telingaku terinfeksi." Ucap Riko sambil mengibaskan tangannya didepan wajahnya sendiri.
Frans terlihat mulai kesal dengan Riko dan hanya diam menatap tajam Riko.
"Aku tidak bisa mendengar apapun." Ucap Riko lagi. Kali ini dia memegang telinganya kanan kiri.
"Pergi!" Teriak Frans marah.
"Baiklah." Balas Riko bergegas meninggalkan Frans.
Keluar dari ruangan Frans, timbul banyak pertanyaan didalam benak Riko.
"Ada apa dengannya? Tak biasanya dia bertanya seperti ini. Apalagi tentang penampilannya. Dia orangnya paling narsis diantara semua orang. Siapa yang mampu membuat dia seperti ini. Wahh pantas diberi piala oscar." Batin Riko merasa bingung.
"Apakah dia salah makan? Atau kepalanya tadi terbentur sesuatu. Ahh tidak mungkin, dia terlihat baik baik saja. Tidak ada bekas luka atau semacamnya. Apa otaknya sudah mulai rusak?" Batin Riko lagi.
***
Setelah Riko keluar dari ruangan Frans, didepan pintu ada 4 Direktur yang saling berdebat siapa yang akan masuk kedalam ruangan CEO Frans.
"Lebih baik kamu dulu." Ucap salah satu direktur.
"Lebih baik kamu dulu saja. Aku takut." Ucap Direktur yang lainnya.
Rimo tang mendengar perdebatan mereka langsung mendekat.
keempat Direktur tersebut langsung berpencar dan menghindari Riko.
"Ada apa?" Tanya Riko menatap tajam satu satu dari mereka.
"Bagaimana suasana hati CEO?" Tanya salah satu dari mereka.
"Suasananya sedang tidak baik. Dan lebih tidak baik lagi kalau kalian mengulur waktu lagi untuk melapor kepadanya." Teriak Riko menakuti mereka.
Mereka merasa semakin takut karena suasana hati CEO sedang tidak baik. Pasti setiap kata yang mereka ucapkan akan salah dan membuat mereka terpojok.
"Bagaimana ini?" Tanya salah satu Direktur.
"Lebih baik kamu dulu deh. Kan kamu yang menjalankan proyek lebih awal." Ucap salah satu Direktur yang lain.
Salah satu Direktur memutuskan untuk pergi dan yang lain masih menunggu dengan penuh rasa takut.
Benar yang mereka katakan, dengan suasana hati yang tidak baik tidak akan ada laporan yang benar. Pasto salah dan membuat mereka terpojok.
Dengan frustasi mereka masuk dan keluar dari ruangan Frans satu per satu. Semua sama tak ada laporan yang memuaskan CEO Frans.
Riko yang melihat mereka keluar dari ruangan Frans dengan tampang frustasi merasa tak tega tapi mau bagaimana lagi memang begitulah Frans. Yang bertindak sesuai suasana hatinya. Jika suasana hatinya baik semua akan baik baik saja meski jalannya tidak mudah. Tetapi jika suasana hatinya buruk, jangan berharap lolos darinya. Jangankan manusia, nyamuk saja tidak akan bisa lolos dari genggamannya.
__ADS_1
***
Kkkrrriiiinnngggg
Ponsel Riko berbunyi. Mama Johan yang meneleponnya.
"Hallo Tante!" Sapa Riko.
"Kamu dimana?" Tanya Mama Johan tanpa membalas sapaan Riko.
"Saya masih di kantor Tan. Ada apa?" Tanya Riko.
"Kamu cepat datang ke restoran dekat kantor. Saya tunggu kamu di sana." Ucap Mama Johan tanpa basa basi.
"Tapi Tan....(Ttuutt.. Ttuutt.. Tttutt..) Hallo Tan.. Tante.." Panggil Riko sesekali melihat layar ponselnya.
"Ya seenaknya sendiri dimatiin. Untung orang tua. Huft!" Keluh Riko.
Mau tidak mau Riko harus diam diam pergi menemui Mama Johan tanpa sepengetahuan Frans. Jika sampai Frans tau mungkin nyawanya tidak akan bisa tertolong lagi.
Riko berjalan keluar dan pergi menuju restoran terdekat dari kantor yang dikatakan Mama Johan. Setelah sampai di restoran, mata Riko melihat sekeliling untuk mencari Mama Johan.
Mama Johan yang melihat Riko mencarinya langsung melambaikan tangannya. Riko menundukkan badannya dan berjalan mendekat.
"Selamat sore Tante." Sapa Riko penuh was was.
"Duduklah!" Suruh Mama Johan.
Riko duduk dan meminum minuman yang sudah dipesankan oleh Mama Johan karena rasa takutnya.
"Ada apa Tante menyuruh saya kesini?" Tanya Riko.
"Kamu harus menjalankan tugasmu yang kemarin. Cari Tasya dan temui dia. Bilang kalau aku mau bertemu dengannya dan berbicara serius kepadanya." Ucap Mama Johan seperti biasa tanpa basa basi.
"Tapi Tante, kalau sampai Frans tau bisa tamat riwayatku." Ucap Riko ketakutan.
"Tenang saja. Masalah Frans biar aku yang urus." Ucap Mama Johan.
"Baiklah Tante. Saya akan temui Tasya besok." Ucap Riko.
"Bagus. Lebih cepat, lebih baik. Awas saja kalau kamu sampai gagal membawanya. Aku akan lebih kejam daripada apa yang dilakukan Frans ke kamu." Ancam Mama Johan.
Riko semaki takut dan merasakan bulu kuduknya berdiri. Memang bagi Riko, Mama Johan lebih kejam daripada Frans. Mama Johan tak segan segan melakukan sesuatu.
"Baik Tante. Saya akan meminta Tasya sampai dia bersedia untuk mau menemui Tante." Ucap Riko.
"Bagus! Lebih baik kamu lakukan yang terbaik untuk melindungi dirimu sendiri." Ucap Mama Johan.
"Kamu boleh pergi sekarang." Ucap Mama Johan menyuruh Riko segera pergi.
__ADS_1
Karena takut akan ketahuan oleh Frans, Riko bergegas kembali ke kantor agar Frans tak mencurigainya.