
"Asisten Riko, ini daftar yang telah dikonfirmasi coba lihatlah! Saya akan merevisinya jika ada masalah." Ucap Direktur Elsa menyerahkan sebuah dokumen kepada Asisten Riko.
"Baiklah!" Ucap Asisten Riko menerima dokumen tersebut.
"Tuan Frans!" Sapa Direktur Elsa menyapa CEO Frans dan membungkukkan badannya kearahnya saat berpapasan dengan CEO Frans dari arah berlawanan.
"Tuan Frans!" Panggil Asisten Riko tetapi tak dihiraukan oleh CEO Frans. Dia tetap berjalan tanpa memperdulikan Asisten Riko memanggilnya.
"Pergilah! Kembalilah bekerja." Ucap Asisten Riko menyuruh Direktur Elsa kembali bekerja.
"Baiklah!" Jawab Direktur Elsa pergi.
"Tuan Frans!" Panggil Asisten Riko dan meraih tangan CEO Frans untuk menghentikan langkahnya.
CEO Frans menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Asisten Riko dan berusaha melepaskan pegangan tangannya dari genggaman Asisten Riko.
"Kenapa Anda sendirian disini? Dimana Nona Tasya?" Tanya Asisten Riko melepaskan genggamannya dan mencari Tasya disekitar mereka.
Tanpa menjawab pertanyaan Asisten Riko, CEO Frans hanya memalingkan wajahnya kearah lain untuk menghindari pertanyaan Asisten Riko.
"Anda gagal lagi menyatakan cinta Anda?" Tanya Asisten Riko memojokkan CEO Frans.
CEO Frans tetap diam menatap arah lain.
"Pantas saja... Saingan anda adalah Raka. Teman lamanya yang sudah sangat akrab sejak dulu. Dengan Anda yang seperti ini mungkin tak akan bisa memenangkan hatinya." Ucap Asisten Riko menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak perduli siapa sainganku. Aku tahu perasaanku kepadanya. Dan aku juga tau perasaannya kepadaku." Ucap CEO Frans menatap tajam Asisten Riko.
"Apakah aku tidak salah dengar? Akhirnya kau paham. Kau benar benar paham?" Tanya Asisten Riko memastikan semua bagian kanan kiri tubuh CEO Frans utuh.
"Hentikan omong kosongmu itu!" Ucap CEO Frans dingin.
Asisten Riko tertawa kecil melihat kekesalan CEO Frans.
"Jangan memendamnya sendiri! Kau harus..." Ucap Asisten Riko menghentikan perkataannya karena mendengat suara Tasya.
"Anggi, dimana kau sekarang?" Tanya Tasya yang sedang menelepon seseorang.
CEO Frans dan Asisten Riko melihat kearah Tasya secar bersamaan.
"Kau juga harus memberitahu dia tentang perasaanmu." Ucap Asisten Riko tetap menatap kearah Tasya.
Karena merasa kesal, CEO Frans menatap Asisten Riko dan berbalik untuk pergi. Asisten Riko mengejarnya dan meraih tangan CEO Frans untuk menghentikan langkahnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Asisten Riko menggenggam lengan CEO Frans.
CEO Frans tak menjawab. Dia hanya memalingkan wajahnya dari Asisten Riko dan menghela nafasnya dalam dalam.
"Dimana tekad dan keberanian yang baru saja kau perlihatkan kepadaku? Apakah hilang begitu saja?" Tanya Asisten Riko.
__ADS_1
CEO Frans menatap Asisten Riko.
"Senyumlah! Dan kumpulkan keberanianmu. Kau harus melakukannya! Kau harus berani menyatakannya." Ucap Asisten Riko memaksa CEO Frans untu berterus terang.
CEO Frans tetap terdiam tak mengatakan apapun.
"Pergilah! Pergilah!" Ucap Asisten Riko mendorong tubuh CEO Frans agar dekat dengan Tasya.
CEO Frans kini berada dibelakang Tasya.
"Aku tidak tau aku ada dimana.Bagaimana aku bisa mendeskripsikan tentang tempat ini?" Ucap Tasya berbicara ditelepon.
Tasya membalikkan badannya dan dia terkejut ketika melihat CEO Frans berada didepannya sekarang. CEO Frans hanya berdiri mematung dan tak mengatakan apapun karena merasa gugup.
"Kita bicara lagi nanti!" Ucap Tasya mematikan teleponnya.
Tasya tak tai harus bagaimana. Dia hanya mencoba tersenyum tipis.
"Tuan Frans! Kenapa Anda ada disini? Saya tidak berkeliaran kemana mana. Saya hanya merasa bosan saja." Ucap Tasya gugup dan ketakutan.
"Tidak apa apa!" Jawab CEO Frans.
Tak tau harus mengatakan apa lagi CEO Frans dan Tasya hanya terdiam saling pandang. CEO Frans terlihat sangat gugup dan seperti tidak percaya diri.
"Apakah ada hal yang ingin Anda katakan kepada saya?" Tanya Tasya juga tak tau harus berbicara apa.
"Saya? Tidak! Tidak ada?" Jawab CEO Frans.
"Oh!" Balas Tasya dan berbalik untuk pergi.
"Tunggu sebentar!" Ucap CEO Frans memerintah Tasya untuk tidak pergi.
"Saya mau makan mie rebus. Buatkan saya mie rebus." Ucap CEO Frans mulai mencari alasan.
Mendengar ucapan CEO Frans, Asisten Riko merasa sangat kesal dan geram sendiri. Asisten Riko menyandarkan kepalanya di dinding.
"Cara membuatnya sangatlah mudah. apakah perlu saya kirim tutorial membuat mie rebus." Ucap Tasya.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan Raka. Lagian dia itu seorang pria. Itu tidak baik untukmu kalau kamu dekat dekat dengannya." Ucap CEO Frans melarang Tasya dekat dekat dengan Raka.
"Namun, bukankah Anda juga seorang pria?" Tanya Tasya balik bertanya.
Tasya tampak bingung dan tak mengerti apa yang CEO Frans coba katakan.
Karena sudah kesal sampai di ubun ubun terlalu banyak basa basinya, Tasya berbalik dan melangkah pergi.
"Itu..." Ucap CEO Frans bingung.
"Kenapa kamu sekarang tidak membuatkan saya kopi? Bukankah di kontrak perjanjian, kamu akan melayani segala keperluan saya? " Ucap CEO Frans mencari alasan.
__ADS_1
"Anda kan bisa membuatnya sendiri." Ucap Tasya mulai kesal.
"Tetapi saya tidak tau cara membuatnya." Jawan CEO Frans .
"Anda kan bisa menyuruh Sekretaris Tya untuk membuatkannya." Ucap Tasya.
"Dia juga tidak bisa membuatnya." Ucap CEO Frans.
Sebenarnya apa yang Anda ingin coba katakan kepada saya?" Ucap Tasya marah badannya berbalik kearah CEO Frans dengan kesalnya.
CEO Frans hanya menghela nafasnya dalam dalam. Sedangkan Tasya menunggu jawaban CEO Frans.
"Saya butuh asisten pribadi yang membuatkan saya kopi setiap hari." Ucap CEO Frans tak tau harus memulai perkataannya dari mana.
"Apa? Asisten yang mau membuatkan kopi setiap harinya?" Tanya Tasya terkejut dengan ucapan Tasya uang sangat hati
Karena merasa sangat kesal, Tasya berbalik dan pergi meninggalkan CEO Frans sendiri.
"Dia pasti gila! Bagaimana bisa berkata bahwa dia butuh seorang asisten pembuat kopi?" Gumam Tasya disepanjang kembali keruang Pameran.
Tasya menghampiri Raka yang sedang sibuk mengurus persiapan untuk pameran.
"Raka! Bagaimana? Semua lancar?" Tanya Tasya menghampirinya.
"Lancar kok! Tenang saja." Jawab Raka.
"Wah! Terlihat megah sekali. Baru aku lihat sesuatu yang semegah ini." Gumam Tasya ketika dia tau kemegahan acara pamerannya.
"Bagaimana tidak megah? Kalau 75% orang yang datang itu adalah orang orang penting." Balas Raka.
"Ayo kita selesaikan sekarang juga. Waktunya sudah tidak banyak lagi." Ucap Tasya mengajak Raka bekerja lebih keras lagi.
Raka Dan Tasya kembali sibuk menyiapkan panggung untuk acara pameran.
"Tasya! Kamu sudah makan?" Tanya Raka.
Tasya hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah ayo kita cari makan dulu." Ucap Raka mengajak Tasya mencari makan.
"Kamu juga belum makan?" Tanya Tasya.
"Sudah!" Jawab Raka.
"Lalu kenapa mengajakku makan lagi?" Tanya Tasya heran.
"Kan aku bisa menemanimu makan." Jawab Raka.
Tasya hanya diam.
__ADS_1
"Sudah! Ayo cari makan." Ucap Raka menari tangan Tasya untuk pergi mencari makan.