
"Kembalilah bekerja! Perusahaan menerimamu magang disini untuk pelatihan bukan untuk membicarakan kejelekan saya." Ucap Frans dingin.
"Jadi Anda memaafkan saya? Terimakasih Tuan Frans." Ucap Tasya tersenyum lega.
Tetapi Frans tak memperdulikannya. Dia menyibukkan diri dengan memeriksa berkas berkas yang ada di mejanya. Tasya yang merasa diabaikan hanya bisa memanyunkan bibirnya tanpa berani berkata apapun.
"Baiklah! Kalau begitu saya kembali ke meja saya." Ucap Tasya membungkukkan badannya hendak kembali ke mejanya.
"Serahkan ide ide yang kamu buat kepada Asisten Riko. Biar dia yang mengurusnya." Ucap Frans tanpa melihat Tasya sama sekali.
"Baiklah!" Jawab Tasya kemudian membungkukkan badannya sekali lagi dan berjalan ke mejanya.
Frans melirik Tasya dan tersenyum. Setelah melihat Tasya sudah sampai di mejanya, Frans kembali fokus ke berkas ditangannya.
***
Di jam makan siang..
Setelah makan siang diluar, Anggi, Vera dan Intan berjalan kembali ke kantor. Langkah mereka terhenti tepat didepan sebuah mini market dan membahas sesuatu.
Tanpa mereka sadari, Frans sudah berdiri dibelakang mereka dan mendengarkan obrolan mereka karena membahas tentang Tasya.
"Tasya tadi bilang kalau nanti pulang kerja dia mau bertemu dengan Tian. Katanya Tian tak menyerah ngajakin Tasya bertemu. Jadi nanti Tasya setuju bertemu Tian." Ucap Anggi.
"Apa dia belum menyerah juga ngejar ngejar Tasya?" Tanya Vera sedikit kecewa tetapi tidak memperlihatkannya didepan Anggi dan Intan.
"Sepertinya dia sangat menyukai Tasya." Jawab Anggi tak yakin juga.
"Yahh.. Padahal aku lebih suka kalau Tasya bersama CEO Frans." Ucap Intan tersenyum.
Frans yang mendengar perkataan Intan tiba tiba tersenyum senang. Tetapi raut wajahnya seketika berubah menjadi kesal setelah mendengar jawaban Anggi.
"Aku kasih tau ya, dengan kualitas CEO Frans yang seperti itu, dan lagi dia masih bersedia pergi untuk blind date. Kemungkinan besar itu semua tentang menikah dengan banyak wanita." Ucap Anggi menunjukkan ketujuh jarinya.
"Apaan sih? Tidak selalu ah." Ucap Intan membela Frans.
"*Beberapa waktu lalu, bukankah dia masih pergi ke blind date dengan adik perempuan Direktur Bram? Cerita ini benar loh. Aku pikir dia adalah orang yang dapat menjaga skor sempurna. Tidak mungkin menerima blind date yang diatur oleh orang lain." Ucap Vera.
"Ya iyalah, adik perempuan investor. Tentu saja harus beri muka lah. Citra seorang pria yang baik telah rusak. " Balas Anggi.
"Aku merasa rugi jika masih memujinya. Siapa yang menyangka CEO Frans menjadi seperti itu*?" Balas Vera kesal dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
__ADS_1
"Saya juga tidak menyangka saya orang yang seperti itu**." Ucap Frans tiba tiba menepuk bahu Vera dua kali dan meminum air ditangannya.
Vera yang terkejut melepas silangan tangannya. Vera, Anggi dan Intan bergeser kesamping agak menjauh dari Frans dan memasang senyum masing masing.
"CEO Frans, Anda disini? " Tanya Anggi mencairkan suasana.
"Beli air mineral." Jawab Frans menunjukkan sebotol air mineral yang dibawanya.
"Beli air mineral itu kebiasaan yang baik. Banyak minum air mineral itu baik untuk kesehatan. Iya kan?" Ucap Anggi mencari dukungan dari Intan dan Vera.
"Kita juga harus banyak minum air mineral. Tetapi air mineral di toko ini sudah habis terjual." Ucap Vera membenarkan.
"Jadi bagaimana kalau kita kembali dulu ke perusahaan. Dan kita cari air mineral lain kali." Ucap Intan memberikan isyarat matanya untuk segera pergi.
"Kami permisi CEO Frans." Ucap Anggi.
Mereka membungkukkan badan mereka dan pergi meninggalkan Frans.
"Tunggu sebentar!" Ucap Frans mencegah mereka pergi.
Mereka spontan menghentikan langkah mereka dan mematung dengan rasa takut mereka.
"Apakah tadi kalian berbicara tentang kekasih Tasya?" Tanya Frans dingin.
"Saya tidak pernah mengijinkan orang yang bekerja di perusahaan saya berpacaran." Ucap Frans marah.
Frans pergi meninggalkan mereka dengan amarahnya dan melempar botol air mineral yang dibawanya dan ditangkap oleh Vera.
"Apa yang terjadi?" Tanya Anggi tak mengerti.
"CEO Frans terlihat sangat marah. Bagaimana ini? Pa yang harus kita lakukan. Kenapa bulan ini Tasya sangat sial? Banyak hal yang menimpanya." Ucap Intan khawatir.
"Ayo kita kembali dulu ke perusahaan. Jam makan siang sudah hampir habis. Nanti kita bahas lagi." Ucap Vera mengajak kembali ke perusahaan.
***
Di ruangan Frans..
"Jadi kamu ingin bertemu dengan kekasihmu? Kamu pikir aku akan membiarkannya? Lihat saja nanti." Gumam Frans menatap Tasya dengan penuh dendam. Tasya sedang duduk di kursinya dan sedang sibuk memperbaiki ide idenya sebelum menyerahkannya kepada Asisten Riko.
Tasya yang sadar akan tatapan Frans, menoleh kearah Frans. Frans langsung mengalihkan tatapannya.
__ADS_1
"Ada apa dengan orang itu? Kenapa menatapku secara diam diam. Haaa? Jangan jangan dia sudah jatuh cinta kepadaku?" Batin Tasya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tidak! Tidak! Tidak mungkin dia akan menyukaimu. Ayolah Tasya jangan berpikir yang tidak tidak. Ada apa dengan otakku?" Batin Tasya lagi menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu?" Tanya Frans dengan tatapan dinginnya.
Pertanyaan Frans membuat Tasya tersadar dari lamunannya.
"Ohh Ti.. Tidak apa apa." Jawab Tasya tersipu.
"Dasar bodoh." Gumam Tasya memalingkan wajahnya kesamping.
Frans tersenyum melihat tingkah Tasya.
Tiba tiba ketukan pintu mengagetkan Tasya. Ternyata Asisten Riko.
Riko berjalan menghampiri Frans. Sesampainya didepan meja Tasya, Riko menatap Tasya tanpa berkedip karena heran Tasya masih baik baik saja setelah berurusan dengan Frans.
Tasya tersenyum dan menundukkan kepalanya kepada Riko. Riko tersenyum heran.
"Gadis ini baik baik saja? Dia masih bisa tersenyum? Benar benar ada yang tidak beres. Baru kali ini aku melihat orang yang berurusan dengan Frans baik baik saja. Apalagi bisa tersenyum." Batin Riko heran. Riko menatap Tasya kemudian menatap Frans secara bergantian.
"Ada apa?" Tanya Frans dingin.
"Tuan, sudah waktunya meeting dengan Direktur Bram." Ucap Riko setelah menundukkan badannya.
"Baiklah." Ucap Frans beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangannya menuju keruang meeting.
Riko berjalan dibelakang Frans. Dan lagi lagi menatap Tasya. Kali ini Riko memberikan jempol tangannya kearah Tasya. Tasya membalasnya dengan senyum.
Tasya menggaruk garuk kepalanya karena tak paham dengan maksud Riko. Dia tak mau perduli dan lebih memilih melanjutkan mengoreksi ide idenya agar tampak lebih sempurna.
"Akhirnya selesai juga." Gumam Tasya mengangkat kedua tangannya keatas untuk merenggangkan otot ototnya.
"Ahh sudah jam 16.45. Lebih baik aku segera bersiap untuk pulang. Daripada harus berurusan dengan gunung es." Gumam Tasya membereskan mejanya.
Ponsel Tasya berbunyi tanda ada pesan masuk. Tasya mengambil ponselnya dan memeriksa siapa yang mengiriminya pesan.
"Tasya jangan lupa kita nanti ada janji makan malam." Isi pesan dari Tian.
"Iya. Kita langsung bertemu di lokasi saja. Tidak usah menjemputku." Balas Tasya.
__ADS_1
Tasya keluar ruangan untuk pulang bersama teman temannya.