DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 16


__ADS_3

"Kak, sakit tangan aku. Lepasin!" Ucap Gadis mengerang kesakitan karena Frans mencengkram dan menarik tangannya dengan kasar.


Frans tak menghiraukan erangan adiknya.


"Kak sakit!" Teriak Gadis lagi.


Frans membawa Gadis ketempat yang tak dijangkau oleh tamu pesta ulang tahun Ibunya.


"Kak lepasin!" Teriak Gadis memukul tangan Frans sekuat tenaganya dengan tangan yang satunya.


Sampai di halaman belakang Frans menghentikan langkahnya dan menarik kasar tangan Gadis sampai dihadapannya. Gadis membanting tangannya agar terlepas dari cengkraman Frans. Gadis menatap Frans tajam dengan mata berkaca kaca.


"Kasar banget sih kakak jadi cowok!" Teriak Gadis kesal dan marah dengan sikap kakaknya.


"Apakah aku terlalu kasar dengannya?" Batin Frans melihat mata Gadis berkaca kaca.


Frans melepaskan tangan Gadis. Gadis merasa sakit dipergelangan tangannya.


"Aahh!" Erang Gadis memegang pergelangan tangannya.


"Mana? Mana barang yang kamu ambil dari Riko tadi?" Ucap Frans tak perduli kepada adiknya yang masih merasa sakit akibat cengkramannya.


"Barang apa?" Tanya Gadis berpura pura tidak tau dengan barang yang Frans maksud.


Gadis memalingkan wajahnya kesamping kanan. Frans tau benar bahwa adiknya sedang berbohong. Karena setiap dia berbohong, dia tak akan berani menatap orang yang dia bohongi.


"Kamu tidak usah berpura pura tidak tau. Mana?" Ucap Frans semakin marah.


"Barang apa? Aku tidak tau apa yang kakak maksud." Ucap Gadis mengelak.


"Baiklah! Kamu tidak tau ya?" Ucap Frans membalikkan badannya.


Gadis diam tak menjawab.


"Aku juga tidak mau tau tentang magang kamu di perusahaan." Ancam Frans.


Frans melangkahkan kakinya pergi. Gadis yang mendengar ancaman Frans menjadi gelisah dan takut. Karena dia tau benar posisi kakaknya di perusahaan sangat kuat. Jika dia bilang tidak, berarti tidak.


Gadis mengejar Frans dan menahan tangannya.


"Kakak maafkan aku!" Ucap Gadis setelah menggapai tangan kakaknya.


Frans tersenyum licik.


"Kenapa kamu meminta maaf? Bukannya kamu baru saja bilang tidak tau apa apa?" Tanya Frans dingin tanpa menoleh.


"Maafin aku kak! Aku salah!" Ucap Gadis menutup matanya.

__ADS_1


"Memangnya kamu salah apa?" Tanya Frans berpura pura agar gadis mengakui kesalahannya.


"Aku sudah salah mengambil barang kaka tanpa sepengetahuan kakak." Ucap Gadis mengakui kesalahannya.


"Kamu tau kalau aku paling tidak suka ada orang menyentuh barangku? Apalagi tanpa sepengetahuanku?" Tanya Frans dingin.


Gadis hanya diam dan menundukkan kepalanya


"Lalu kenapa kamu berani menyentuhnya? Mana barangnya?" Tanya Frans marah.


"Maaf kak! Barangnya aku kasih ke teman aku buat hadiah ulang tahun Mama." Ucap Gadis menjelaskan.


"Apa?" Teriak Frans.


"Maaf kak!" Ucap Gadis memohon.


"Tidak! Tidak bisa begini!" Ucap Frans tidak mau tau.


"Aku terpaksa ngelakuinnya. Aku tadi ngajak teman aku kesini tanpa sepengetahuannya. Saat dia tau mau ke acara ulang tahun Mama, dia sungkan kalau datang tidak bawa hadiah. Jadi aku ambil punya kakak." Ucap Gadis menundukkan kepala.


"Ohh! Jadi dia yang lagi lagi buat masalah. Aku nggak akan lepasin dia. Selalu saja membuatku sial setiap kali bertemu." Gumam Frans pergi meninggalkan Gadis.


"Kak!" Panggil Gadis tetapi tidak dihiraukannya.


"Aduchh kenapa jadi runyam gini?" Gumam Gadis gelisah. Gadis mondar mandir ke kanan dan ke kiri berpikir apa yang haris dia lakukan.


Di dalam pesta...


Tasya hanya berdiri mematung dengan membawa segelas minuman koktail ditangannya. Sesekali dia melihat kearah Frans membawa adiknya pergi. Tasya tak tau harus bagaimana karena tak ada satu orangpun yang dikenalnya. Satu satunya orang yang dikenalnya, pergi tak kunjung kembali.


Sedangkan Mama Johan sedang duduk dan asyik mengobrol dengan teman temannya. Dan sesekali melirik kearah Tasya dan tersenyum. Setelah menyadari kegelisahan Tasya, Mama Johan menghampirinya dan dengan senang mengajaknya duduk diantara teman temannya.


"Tasya kenapa kamu terlihat gelisah?" Tanya Mama Johan.


"Ehm? Ti.. Tidak kok tante. Tidak apa apa." Jawab Tasya ramah dan sungkan.


"Ayo sini duduklah." Ucap Mama Johan menyuruh Tasya duduk.


"Iya tante!" Jawab Tasya menuruti Mama Johan.


"Tasya, kamu datang saja tante sudah senang, apa lagi berikan tante hadiah." Ucap Mama Johan membanggakan Tasya didepan teman temannya.


Tasya hanya diam dan tersenyum kepada Mama Johan dan teman temannya.


"Cantik ya Bun?" Ucap salah satu teman Mama Johan, Ibu Anggi.


"Iya cantik banget." Ucap yang lain membenarkan.

__ADS_1


Tasya hanya tersenyum mendengar pujian dai teman teman Mama Johan. Karena tidak tau harus berbicara apa. Ini untuk pertama kalinya Tasya datang ke acara pesta sebesar ini dan untuk pertama kalinya dia bertemu dengan mereka.


Acara akan segera dimulai. MC sudah berdiri di depan mic. Semua tamu undangan berdiri mengelilingi kue ulang tahun Mama Johan.


"Tasya setelah nanti kita ngobrol lagi ya. Ayo!" Ajak Mama Johan.


Tasya mengikuti langkah Mama Johan.


Skip acara...


Mama Johan dan Tasya kembali mengobrol berdua. Teman temannya sedang asyik menikmati pesta.


Riko berdiri disebelah kursi Mama Johan dan menunggu Frans memanggilnya. Riko belum sempat memberikan hadiahnya karena belum ada kesempatan mengobrol dengan Mama Johan.


"Tasya, darimana asalmu? Berapa anggota keluargamu? Apakah kamu memiliki saudara kandung? Kakak atau adik? Kamu anak ke berapa? Berapa umur kamu? Apa Zodiakmu? Mau tidak tante kenalin dengan anak sulung tante? Kamu ingin makan apa? Sering seringlah mampir saat punya waktu luang. Ingat ya? Sering seringlah berkunjung. Tante sering kesepian saat semua umat disini pergi." Ucap Mama Johan terlalu blak blakan.


Tasya bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu. Tasya hanya tersenyum ramah.


"Tante terlalu blak blakan ya?" Tanya Mama Johan tertawa kecil.


"Enggak kok tante. Nggak apa apa." Jawab Tasya ramah.


"Bagaimana? Mau tidak tante kenalin sama putra sulung tante?" Tanya Mama Johan lagi.


Mata Tasya membelalak menatap Mama Johan karena terkejut.


"Dari sekian banyak pertanyaan yang tadi dilontarkan, kenapa hanya pertanyaan itu yang kembali diucapkan?" Batin Tasya tak tau harus menjawab apa.


Tasya hanya tersenyum semanis mungkin.


"Bagaimana?" Tanya Mama Johan lagi.


"Bagaimana aku bisa hidup tenang jika aku mengenal orang seperti dia? Dingin dan tanpa senyum diwajahnya. Aku tidak bisa membayangkan menderitanya hidupku kelak." Batin Tasya berteriak teriak.


"Ma, aku ada perlu dengan dia." Ucap Frans yang tiba tiba muncul dengan dinginnya.


Tasya menoleh kearah Frans. Tasya semakin yakin kalau pria itu adalah pria yang dia temui beberapa hari lalu dan membuatnya kesal. Tasya menatapnya tajam penuh dendam. Frans membalas tatapan Tasya dengan dingin dan mengisyaratkan kepalanya supaya Tasya mengikutinya.


"Ada apa?" Tanya Mama Johan.


"Tidak ada apa apa. Dia akan aku kembalikan nanti." Jawab Frans dingin.


"Baiklah baiklah! Pergilah!" Balas Mama Johan.


"Saya pergi dulu tante!" Pamit Tasya.


Tasya lega karena berhasil terhindar dari lontaran pertanyaan yang memojokkannya. Tapi dia merasa telah masuk ke kandang singa yang lebih berbahaya.

__ADS_1


Tasya berjalan menjauh dari Mama Johan mengikuti Frans.


__ADS_2