
"Tasya!" Panggil Anggi keluar dari lift menghampiri Tasya membawa barang barang Tasya dalam kardus.
Intan dan Vera mengikuti Anggi.
"Iya!" Jawab Tasya tersenyum manis.
"Apakah CEO Frans sangat marah sama kamu? Kenapa tiba tiba doa meneleponku dan menyuruhku membantumu membereskan barang barangmu?" Tanya Anggi khawatir.
Tasya hanya tersenyum senyum tak menjawab dengan kata kata.
"Tasya, ada apa denganmu? Kamu diapakan sama CEO Frans? Kamu baik baik saja?" Tanya Intan heran karena Tasya hanya tersenyum dan tak jelas penyebabnya.
"Tasya kita benar benar khawatir CEO Frans mengeluarkanmu. Tapi kenapa kamu malah senyum senyum tak jelas? Kita benar benar khawatir." Ucap Anggi putus asa melihat tingkah Tasya.
"CEO Frans tidak mengeluarkan aku." Ucap Tasya akhirnya menjawab.
"Lalu kenapa dia menyuruhku membereskan barang barangmu?" Tanya Anggi bingung.
"Dia hanya menyuruhku untuk bekerja di rumah selama kakiku masih sakit." Jawab Tasya tersenyum senang.
"Benarkah?" Tanya Vera terkejut tak percaya.
Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Waahhh! Sungguh tidak bisa dipercaya. Ternyata dia punya hati nurani juga. Sampai sampai memberimu izin untuk bekerja di rumah karena kaki kamu sakit." Ucap Vera masih sulit mempercayainya.
"Kalian tidak percaya kan? Apalagi aku yang selalu dia susahkan. Benar benar diluar prediksiku." Timpal Tasya yang sama sama sulit percaya.
"Baiklah! Segera sembuhkan lukamu. Setelah kakimu pulih, akhir pekan aku ingin mengajak kalian berwisata ke pantai." Ucap Intan.
"Pantai?" Tanya Tasya terkejut tetapi merasa senang mendengar kata pantai.
"Iya! Dan kamu harus mengajak Tian." Ucap Intan berpindah posisi di samping Tasya dan merangkul bahu Tasya.
"Kenapa harus ngajak Tian segala?" Tanya Tasya frustasi.
"Kamu itu sudah dewasa sayang. Wajar kemana mana ngajak kekasih dan mengenalkannya kepada sahabat sahabat kamu." Ucap Anggi menggoda Tasya.
"Kalian jadian? Kenapa aku tidak tau apa ap" Tanya Vera shock. Matanya langsung membelalak lebar seperti ingin melarikan diri dari tempatnya.
"Enggak! Apaan sih! Aku tidak jadian sama dia." Teriak Tasya mengelak.
"Pokoknya kamu harus ngajak Tian. Oke!" Ucap Intan mengharuskan.
"Ya sudah, ini dan segeralah pulang. Kalau sampai CEO Frans tau kamu masih disini, dia tidak hanya akan membunuhmu. Tetapi kita semua juga akan terbunuh." Ucap Anggi menyerahkan kardus berisi barang barang Tasya kepada Tasya.
"Iya! Terimakasih ya. Aku pulang duluan!" Ucap Tasya berbalik meninggalkan mereka.
"Hati hati." Teriak Anggi.
Mereka juga berbalik dan kembali untuk bekerja.
__ADS_1
***
Keesokan harinya...
Karena hanya bekerja di rumah, Tasya ingin sedikit bersantai. Teman temannya sudah siap untuk berangkat, Tasya masih rebahan di kasurnya. Tiba tiba ponselnya berbunyi bertanda ada pesan masuk. Tasya mengambil ponselnya dan membuka pesan yang diterimanya.
"Kenapa belum mengirim foto kaki kamu yang sakit?" Tanya CEO Frans dalam pesan.
Dengan segera Tasya terbangun dan langsung memfoto kakinya yang sakit. Dia langsung mengirimkannya ke CEO Frans.
"Baiklah! Saya sudah mengirim tugas kamu hari ini melalui email. Kamu pelajari semua dan simpulkan. Jangan sampai ada yang kelewatan." Balas CEO Frans.
"Baiklah!" Balas Tasya.
Dengan segera Tasya beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai dia berlari ke meja belajarnya dan menyalakan laptopnya. Dia membuka email dari CEO Frans.
"Apa? Sebanyak ini? Aku disuruh mempelajarinya dan menyimpulkannya? Dia tetap saja ingin membunuhku meskipun aku disuruhnya bekerja di rumah." Gumam Tasya kesal.
"Baiklah! Semangat Tasya! Semangat." Gumam Tasya menyemangati dirinya sendiri.
Tasya mulai mempelajari dan menyimpulkannya satu demi satu berkas yang diterimanya. Tasya menyelesaikan pekerjaannya sampai jam 18.00.
"Akhirnya selesai juga." Ucap Tasya lega. Dia mengulurkan kedua tangannya keatas untuk merenggangkan semua otot tubuhnya.
Setelah merasa sedikit lega, Tasya langsung mengirimkan balik ke email CEO Frans.
Tasya berbalik memutar kursinya dan terkejut melihat teman temannya sedang asyik rebahan bertiga.
"Kamu terlalu sibuk bekerja. Kita pulang pun kamu tidak tau." Keluh Anggi.
"Maafkan aku. CEO Frans tetap saja ingin membunuhku. Dia mengirim begitu banyak berkas dan menyuruhku mempelajari dan menyimpulkannya. Dia tetap saja tidak membiarkanku selamat." Keluh Tasya frustasi.
Tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Panjang umur." Ucap Tasya semakin frustasi dan memperlihatkan ponselnya ke teman temannya.
CEO Frans mem Video call Tasya.
Tasya kembali memutar kursinya menghadap laptopnya. Dia mencari handsfree dan memasangkannya di ponselnya. Kemudian dia menggeser ikon hijau keatas.
"Selamat malam Tuan Frans." Sapa Tasya.
"Hem!" Balas CEO Frans.
"Ada apa Tuan menelepon saya? Saya sudah mengirim semua ke email Anda." Ucap Tasya sedikit kesal.
"Saya ingin membahas hasil kesimpulanmu." Jawab CEO Frans.
"Apa? Anda bercanda? Saya sudah bekerja seharian tanpa istirahat dan malam malam begini Anda ingin menyuruh saya bekerja lagi?" Teriak Tasya tidak percaya dan sangat kesal.
"Disini atasannya saya atau kamu? Kenapa kamu lebih galak daripada saya?" Tanya CEO Frans.
__ADS_1
Pertanyaan CEO Frans membuat Tasya mematung seketika.
"Baiklah!" Jawab Tasya lemas.
CEO Frans dan Tasya mulai membahas hasil kesimpulan yang seharian dikerjakan oleh Tasya.
Tasya merasa mengantuk dan lelah.
"Tuan Frans apakah Anda tidak lapar? Tidakkah Anda makan malam terlebih dahulu?" Tanya Tasya.
"Saya tidak terbiasa makan malam jam segini." Jawab CEO Frans.
"Tasya! Tian sudah datang. Dia menunggumu didepan asrama." Ucap Anggi.
"Apa? Tian?" Tanya Tasya berbalik kearah teman temannya dan terkejut.
"Iya!" Jawab Anggi.
"Kenapa kalian nggak bilang kalau dia mau kesini?" Ucap Tasya semakin frustasi.
"Tadi aku sudah bilang dan kamu jawab iya. Aku kira kamu setuju." Jawab Anggi merasa bersalah.
"Aku tidak dengar apa yang kamu katakan. Aku masih sibuk bekerja. Jadi aku asal jawab saja." Ucap Tasya.
"Katanya dia menghubungimu tidak bisa. Jadi dia menghubungiku. Tasya, maaf!" Ucap Anggi menyesal.
CEO Frans mendengar Tian datang menemui Tasya menjadi sangat kesal dan ingin marah.
Tasya melepas handsfree di telinganya, dan berlari keluar untuk menemui Tian tanpa mematikan panggilannya. Dia tak perduli lagi dengan video call nya.
"Yaaa kamu mau kemana?" Teriak CEO Frans. Tetapi sudah tak terdengar oleh Tasya karena sudah keburu pergi.
Karena menunggu Anggi terlalu lama CEO Frans membuat Mie instan rebus untuk dimakannya karena lapar. Belum habis memakannya, dia mendengar suara Tasya sudah kembali
Jadi dia menghentikan makannya dan mendengarkan perbincangan Tasya bersama teman temannya.
"Kamu sudah kembali?" Tanya Intan.
"Iya. Dia hanya memberikan aku bunga dan beberapa makanan. Dia tau kalau aku masih bekerja jadi tidak mau menggangguku terlalu lama." Jawab Tasya tersenyum.
"Wahhh dia sangat romantis." Ucap Anggi.
Tasya meletakkan bunga dan makanannya di meja makan. Dia kembali ke meja belajarnya dan mengambil ponselnya. Betapa terkejutnya dia setelah melihat ternyata dia lupa mematikan panggilannya. Tasya kembali memasang hands free ketelinganya.
"Kenapa Anda belum mematikan panggilan Anda?" Tanya Tasya terkejut.
"Kenapa? Bahagia dapat bunga dan beberapa makanan?" Tanya CEO Frans kesal.
"Apakah Tuan Frans benar benar tidak makan malam?" Tanya Tasya mengalihkan pembicaraan.
"Saya sudah makan malam sambil menunggumu bertemu kekasihmu itu." Jawab CEO Frans kesal.
__ADS_1
"Tuan Frans karena semua sudah selesai dibahas jadi saya akan mematikan panggilannya. Selamat malam Tuan Frans." Ucap Tasya mematikan video call nya.