DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 30


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Frans dingin. Frans menghadapkan ponsel kearahnya untuk melakukan video call.


"Apakah kamu tidak merindukan aku?" Tanya Gadis bertingkah manja.


"Ada apa?" Ucap Frans dengan pertanyaan yang sama.


"Kamu dimana? Dengan siapa?" Tanya Gadis.


"Aku ada janji makan siang dengan Direktur perusahaan. Tapi entah kenapa ini menjadi semacam Blind date." Jawab Frans dingin.


"Waow. Bolehkah aku menyapanya?" Tanya Gadis.


Tika yang mendengar ucapan Gadis langsung menghampiri Frans dan menyahut ponsel Frans. Dan mengarahkan ponsel kearahnya. Tika tidak tau bahwa Gadia adalah adik Frans.


"Hei! Aku Tika." Ucap Tika memperkenalkan diri dengan gayanya sok sexy.


"Itu bulu mata dan warna lipstik kenapa tidak cocok denganmu." Ucap Gadis menghina Tika.


"Apa?" Teriak Tika tak mengerti.


Frans hanya diam dan menahan rasa ingin tertawanya setelah mendengar hinaan Gadis. Tika yang menyadari itu, langsung kesal dan sangat marah kepada Frans.


"Tuan Frans, saya tidak menyangka bahwa Anda semembosankan ini." Teriak Tika meletakkan ponsel Frans di atas meja dengan kesal dan meninggalkan Frans.


Setelah melihat Tika pergi dengan kesal, Frans tersenyum dingin dan merasa lega. Dia mengambil ponselnya dan berbicara lagi dengan adiknya.


"Ada apa sebenarnya meneleponku?" Tanya Frans dingin.


"Kakak! Aku ijin pulang ya." Ucap Gadis meminta ijin.


"Kenapa?" Tanya Frans.


"Aku ada janji bertemu sama Gani. Boleh ya kak." Jawab Gadis.


"Terserah kamu saja." Ucap Frans pasrah karema baru saja adiknya sudah membantunya.


"Makasih kak. Aku sayang kakak." Ucap Gadis.


***


"Anggi aku boleh minta tolong?" Ucap Tasya meminta tolong.


"Ada apa?" Tanya Anggi.


"Tolong absenin aku ya pas pulang nanti." Ucap Tasya.


"Kamu mau kemana? Nanti kalau pangeran es datang gimana?" Tanya Anggi.


"Aku ada acara sama kakak keponakan aku. Gunung es tadi keluar jam 14.00 untuk bertemu klien. Kemungkinan dia kembali, kita sudah pulang. Please!" Ucap Tasya memelas kepada Anggi.


"Baiklah baiklah." Jawab Anggi menyerah.


"Makasih Anggi." Teriak Tasya senang dan langsung pergi meninggalkan perusahaan.


Anggi merasa bingung sekaligus takut jika sampai ketahuan dia mengabsenkan Tasya. Tapi mau tak mau demi kesetiaan sahabat.


Jam 15.30

__ADS_1


"Berapa kode Tasya ya? Mungkin tanggal lahirnya?" Gumam Anggi berpikir tentang kode absen Tasya.


"satu lima kosong sembilan sembilan delapan." Gumam Anggi.


"Kode salah." Suara mesin absen.


"Tiga kosong tujuh enam empat kosong." Gumam Anggi melafalkan nomor.


"Kode salah." Suara Mesin.


"Salah lagi? Berapa kode Tasya sebenarnya?" Ucap Anggi.


"delapan sembilan sembilan kosong lima satu." Ucap seseorang dari belakang Anggi.


Tanpa menoleh kebelakang, Anggi mengikuti intruksinya.


"Terimakasih." Suara mesin dan Tasya berhasil absen pulang.


"Benar! Terimakasih." Ucap Anggi dan menoleh kearah suara tersebut.


Betapa terkejutnya Anggi setelah melihat siapa orang yang berada dibelakangnya. Anggi melihat Frans dengan tampang marahnya. Riko memberikan isyarat dengan mengarahkan tangannya ke leher. Tasya semakin merasa takut.


"Tuan Frans maafkan saya." Ucap Anggi ketakutan.


"Pergi kemana dia?" Tanya Frans marah.


"Dia tadi tidak enak badan dan pulang untuk beristirahat." Ucap Anggi berbohong.


Akan tetapi Frans tidak percaya.


"Tuan maafkan saya." Ucap Anggi semakin takut.


"Riko!" Teriak Frans.


"Iya Tuan." Jawab Riko.


"Potong gaji orang yang membantunya bolos dan absen." Ucap Frans dingin.


"Baik Tuan." Ucap Riko menundukkan kepalanya.


"Tuan maafkan saya. Dia pergi untuk menemui kakak keponakannya." Ucap Anggi tak punya pilihan.


"Maafkan aku Tasya! Aku tidak punya pilihan." Batin Anggi ingin menangis.


"Ohh jadi dia berani bolos kerja untuk menemui kakaknya." Ucap Frans.


Frans tak lagi memperdulikan Anggi yang ketakutan. Dia langsung pergi dan diikuti oleh Riko dibelakangnya.


Frans duduk di mejanya dan berpikir keras untuk memberi pelajaran kepada Tasya. Frans tiba tiba menemukan ide konyol.


Frans mengambil ponselnya dan menelepon Tasya.


"Halo Tuan!" Sapa Tasya mengangkat teleponnya dan bersikap tenang.


"Nona Tasya, saya lagi perjalanan kembali ke kantor, tolong siapkan berkas yang akan saya gunakan besok untuk meeting. Tunggu saya di ruang meeting ada yang ingin saya bahas dengan Anda." Ucap Frans dibalik telepon dan tersenyum licik.


"Apa? Ini sudah waktunya pulang." ucap Tasya mencari alasan.

__ADS_1


"Saya memerintahkan kamu untuk lembur. Saya akan kasih uang lembur buat kamu." Ucap Frans memaksa.


"Baiklah! Saya akan tunggu." Ucap Tasya pasrah dan mematikan teleponnya dengan sangat kesal.


Frans buru buru pergi meninggalkan kantor. Sedangkan Tasya buru buru datang ke kantor. Tasya khawatir kalau Frans akan mengetahui dia bolos dari kantor.


Sesampainya di kantor, Tasya masuk ke ruangan Frans dan mencari berkas yang dimaksud Frans. Setelah ketemu, Tasya menunggu Frans di ruang meeting.


Sudah cukup lama Tasya menunggu Frans. Tetapi dia tak kunjung datang. Setelah 2 jam menunggu, mereka yang masih bekerja lembur keluar dari ruangan mereka bersiap untuk pulang. Salah satu dari mereka melihat Tasya dari dinding kaca dan memberitahu yang lain.


"Ngapain dia di sana sendirian?" Ucap Sofyan kepada yang lain.


Semua melihat kearah ruang meeting. Sofyan berjalan mendekat diikuti yang lainnya. Sofyan membuka pintu. Tasya menoleh kecewa.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Sofyan.


"Saya menunggu Tuan Frans." Jawab Tasya.


"Tuan Frans? Bukankah dia sudah pulang dari sore?" Ucap Sofyan.


"Iya! Dia sudah pulang sejak sore tadi." Ucap Teguh.


"Apa?" Teriak Tasya tak percaya.


Semua diam dan saling tatap.


"Jadi sia sia saya nunggu 2 jam disini? Jam berapa dia pulang?" Tanya Tasya kesal dan marah.


"Sekitar jam 16.00." Jawab Sofyan.


"Oh jadi dia mau balas dendam karena tau aku bolos?" Gumam Tasya.


"Apa?" Tanya Sofyan tak mendengar perkataan Tasya.


"Tidak! Tidak! Mari pulang." Ucap Tasya tersenyum dan beranjak dari duduknya untuk pergi.


"Kita mau pergi makan malam. Apakah kamu mau ikut?" Tanya Sofyan.


"Oh tidak! Sebaiknya aku pulang saja. Aku duluan ya." Ucap Tasya melambaikan tangannya.


"Jika Anda ingin marah ke saya jangan makai cara ke kanak kanakan. Sama sekali tidak lucu. Anda sengaja menyuruh saya tetao dikantor dan menunggu Anda karena Anda tau kalau saya bolos kan? Kekanak kanakan banget." Ketik Tasya pada ponselnya dan mengirimkannya kepada Frans dalam perjalanan pulang.


Sesampainya di asrama, Anggi berlari dan merangkul lengan Tasya.


"Rasya maafin aku, aku terpaksa bilang ke bos kalau kamu pergi menemui kakak keponakan kamu." Ucap Anggi menyesal.


"Oh jadi kamu yang bilang?" Tanya Rasya kesal.


"Tasya aky benar benar minta maaf sama kamu. Aku terpaksa." Ucap Anggi memohon ampun.


"Iya! Sudahlah! Sudah terjadi juga. Dia sudah membalasku." Ucap Anggi kesal.


"Apa yang dia lakukan?" Tanya Vera.


"Dia menyuruhku tetap di kantor dan menyuruhku menunggu sampai dia kembali. Dan aku menunggunya selama 2 jam. Dan ternyata dia sudah pulang dari jam 16.00. Nggak kesel gimana?" Ucap Tasya meluapkan kekesalannya.


"Memang sakit jiwa tuh orang." Gumam Vera ikut kesal.

__ADS_1


__ADS_2