DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 47


__ADS_3

"Selera orang itu benar benar aneh. Hanya orang orang tertentu yang bisa membuatkannya kopi. Jika terlalu manis atau pahit dia tidak akan meminumnya." Ucap Tasya kesal.


"Sudah sudah. Cepat seduhkan. Jangan biarkan dia terlalu lama menunggu." Ucap Anggi.


Tasya mulai menyeduhkan kopi untuk CEO Frans. Sambil menunggu kopi jadi, sesekali Tasya melirik CEO Frans dengan rasa kesal. Tiba tiba dia menemukan ide cemerlang dan tersenyum penuh dendam.


Tasya menuangkan 2 sendok garam kedalam cangkir. Kemudian dia menuangkan kopinya.


"Tasya bukankah itu garam?" Tanya Anggi.


"Iya!" Jawab Tasya tersenyum licik.


"Apa?" Tanya Anggi tak mengerti.


"Aku sengaja." Jawab Tasya.


"Kamu gila? Jangan banyak banyak." Ucap Anggi.


"Aku cuma kasih 2 sendok saja." Ucap Tasya.


Tasya membawa secangkir kopi yang dibuatnya dan menyajikannya untuk CEO Frans. Anggi dan yang lainnya mengikuti Tasya dengan penuh rasa khawatir dan takut.


"Ini Tuan kopinya silahkan diminum." Ucap Tasya meletakkan secangkir kopi didepan CEO Frans.


Tanpa menaruh rasa curiga, CEO mengambil secangkir kopi tersebut dan meminumnya.


"Apa ini?" Teriak CEO Frans setelah meminum kopi tersebut. Yang dirasakannya bukan manis atau pahit, akan tetapi dia merasakan kopinya sangat asin.


''Maafkan saya Tuan. Saya awalnya ingin memasukkan gula. Tetapi gula disini telah habis. Saya khawatir jika Anda tau, Anda pasti akan sangat sedih. Jadi dengan sangat terpaksa saya menyembunyikannya dari Anda. Dan memasukkan sedikit garam kedalamnya. Maaf saya telah membohongi Anda. Saya melakukannya demi Anda. Saya harap Anda memahami niat baik saya." Ucap Tasya dan pergi meninggalkan CEO Frans dengan senyum kemenangannya.


"Maaf Tuan Frans. Saya harap Anda tidak memarahi Tasya. Dia sama sekali tidak ada niatan buruk terhadap Anda." Ucap Anggi.


"Mungkin karena dia bekerja terlalu keras akhir akhir ini. Mohon dimaklumi Tuan Frans. Memang wanita yang kurang tidur dia akan sangat mudah marah." Imbuh Vera.

__ADS_1


"Kapan rapat perancangan akan diadakan?" Tanya CEO Frans.


"Saya dengar jum'at ini." Jawab Intan.


Setelah mendengar jawabannya, Frans pergi meninggalkan mereka.


"Huft aku sangat khawatir." Ucap Anggi.


"Tasya semakin berani saja." Ucap Vera.


***


Diruang Rapat..


Dihari jum'at pagi Tasya mengikuti rapat antara Departemen Perencanaan dan Departemen Perancangan. Ini pertama kalinya untuk Tasya mengikuti rapat seperti ini. Jadi dia merasa sedikit gugup dan gelisah karena rasa takut rapat tidak akab berjalan dengan lancar.


Pukul 09.45 Tasya memasuki ruang rapat Direktur dan menyiapkan sebotol minuman dingin di setiap kursi.


Pukul 10.00 semua anggota rapat masuk kedalam ruang rapat dan duduk ditempat mereka masing masing. Tasya duduk disebelah Direktur Elsa dari Departemen Perencanaan.


"Sebenarnya konsep yang tidak cocok itu warnanya atau gayanya?" Tanya Direktur Maya dari Departemen Perancangan dipertengahan rapat.


"Kalian dari Departemen Perencanaan harus bisa menjelaskannya secara detail." Imbuh Designer Reina.


"Bisa menjelaskan apa?" Tanya Direktur Elsa


"Masalah terbesar saat ini adalah karena kerjaannya jelek. Kita yang tak mengerti konsep dan kurang bekerja sama." Imbuh Manager Tomi.


Tasya hanya bisa diam menyaksikan perdebatan antara Departemen Perencanaan dan Departemen Perancangan. Ini adalah pengalaman pertama Tasya, jadi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Meskipun salah satu gaya yang digunakan adalah idenya.


"Kalian Departemen Perencanaan tidak tahu mode saat ini! Kalian tidak bisa membedakan apa itu jelek atau cantik? Mode lama atau baru? Bisakah kalian mendefinisikannya dengan jelas?" Tanya Direktur Maya.


"Bagaimana kita bisa mendefinisikannya. Kita hanya menerima konsep dari CEO Frans dan kita harus membuat sesuai yang beliau inginkan. Dan itu diluar pengetahuan definisi kita dari Departemen Perencanaan. Kalian tau apa yang akan beliau lakukan jika konsep tak sesuai yang beliau inginkan? Dia tidak akan membiarkan kita lepas dari masalah ini. Kita hanya bisa mengikuti perintahnya saja. Kalian kan juga tau sendiri, baru kali ini beliau ikut campur tentang konsep yang akan kita luncurkan? Biasanya konsep kita yang tentukan dan kita tinggal minta persetujuannya. Tapi sekarang konsepnya berasal dari beliau sendiri. Bagaimana kita bisa mengaturnya?" Ucap Direktur Elsa.

__ADS_1


"Lalu apa yang kalian pelajari selama ini? Apakah kalian hanya menunggu perintah saja tanpa melakukan apa apa? Siapa yang akan bertanggung jawab akan hal ini? Meskipun semua konsep dari CEO Frans harusnya kalian tetap mempelajarinya dan bisa mendefinisikan secara detail. Ini tanggung jawab kalian di bagian perencanaan. Kalian seharusnya tau mana yang cocok dan mana yang tidak cocok. Jika tidak ada definisi secara detail bagaimana kami bisa merancangnya?" Ucap Direktur Maya marah.


"Sudah! Sudah! Jangan terlalu berisik! Kita sebaiknya memahami konsep seperti apa yang CEO Frans inginkan. Percuma kita berdebat disini. Itu tidak akan menyelesaikan masalah ini. Siapa yang bertanggung jawab atas konsep ini?" Ucap Designer Reina.


"Direktur Elsa, Direktur Maya dan Manager Tomi, saya sependapat dengan Designer Reina. Tampaknya memang benar, tidak terlalu bagus jika kita hanya berdebat tanpa memahami konsep ini. Bagaimana menurut Anda, kalau Departemen Perencanaan mempelajari konsepnya kembali, dan menyerahkan versi detailnya kepada Departemen Perancangan?" Ucap Tasya memberi saran.


"Tasya! Apakah kamu gila? Kalau kita mengulangi semuanya, kita membutuhkan waktu lama. Dan aku yakin kita tidak akan selesai sampai batas waktu yang telah ditentukan." Ucap Direktur Elsa.


"Kamu yang memberikan ide ini. Harusnya kamu lebih bisa memahami kami." Imbuh Manager Tomi.


"Kamu sendiri saja yang mengubahnya jika kamu mau." Ucap Direktur Elsa.


"Baiklah! Saya akan mencoba mengubahnya." Balas Tasya bertekad.


Semua diam.


"Direktur Reina, apakah Anda sudah mempunyai sampel yang akan diserahkan kepada Departemen Perancangan?" Tanya Tasya kepada Designer Reina.


"Bagaimana bisa saya membuat sampel kalau konsepnya saja kacau dan belum ditentukan seperti ini?" Ucap Designer Reina.


Designer Reina terlihat sangat kesal dan tidak ingin melanjutkan rapat lagi. Dia berdiri dan membereskan berkas berkasnya.


"Anda mau kemana?" Tanya Tasya menatap Designer Reina.


"Kembali bekerja." Jawab Designer Reina pergi keluar ruangan rapat dan diikuti oleh Direktur Maya.


"*Sebaiknya kita kembali bekerja untuk tidak dibenci orang lain." Ucap Direktur Elsa dan berdiri merapikan berkas berkas yang dibawanya. Kemudian pergi keluar dari ruang rapat.


"Aku juga tidak ingin membuang waktu lagi*." Imbuh Manager Tomi yang ikut pergi.


"Tidak! Jangan pergi! Jangan pergi! Ayo diskusikan lagi." Teriak Tasya sambil berdiri, tetapi tak dihiraukan oleh mereka.


"Kenapa semua jadi begini? Tak sesuai yang aku harapkan." Gumam Tasya merasa sangat frustasi diruang rapat pertamanya.

__ADS_1


Tasya kembali duduk dan membuka berkas selembar demi selembar. Dia kembali membaca tentang konsep yang akan diluncurkan oleh perusahaan. Menurut Tasya, ide yang dia gunakan cukup bagus, hanya saja definisi tentang konsepnya kurang mendetail.


__ADS_2