DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 48


__ADS_3

***


Tasya bekerja lembur untuk memahami konsep yang akan digunakan untuk project pakaian dalam. Tasya mempelajari tentang gaya dan warna yang cocok untuk mode yang mengikuti perkembangan jaman. Dan mempelajari tentang selera yang sesuai dengan perkembangan jaman.


Tasya tak ingin mengecewakan CEO Frans yang telah mempercayakan semua kepada Tasya.


Di jam lemburnya, Tasya mendatangi Manager Vino dari Departemen Perancangan untuk meminta arahan darinya. Manager Vino bersiap untuk pulang.


"Manager Vino! Manager Vino!" Teriak Tasya memanggil Manager Vino. Tasya berlari memasuki ruangannya.


"Ada apa?" Tanya Manager Vino.


"Kenapa Anda tak datang rapat tadi?" Tanya Tasya basa basi.


"Tidak ada waktu." Jawab Manager Vino dingin.


"Saya mempunyai banyak pertanyaan yang ingin saya diskusikan dengan Anda. Mengenai definisi konsep yang akan digunakan untuk project kita sekarang ini. Saya mohon bimbingan Anda." Ucap Tasya menjelaskan niatannya.


Manager Vino hanya menghela nafas panjang.


"Apakah Anda sudah membaca email yang saya kirimkan untuk Anda?" Tanya Tasya lagi.


"Itu tidak bisa dilakukan." Jawab Manager Vino.


"Anda jangan buru buru untuk menyangkalnya. Jika ada masalah atau kesulitan kita bisa membahasnya dan memecahkannya bersama." Ucap Tasya meyakinkan.


"Kami tidak hanya bekerja untuk project ini saja. Masih banyak project yang harus kami lakukan. Dan semua tidaklah mudah. Jika kamu tidak bisa mendefinisikan dengan jelas sebaiknya menyerah saja dan serahkan project itu ke departemen perencanaan lain yang lebih mampu menyelesaikan bidang ini. Kami juga tidak bisa mengulur ulur waktu." Ucap Manager Vino hendak pergi.


"Tolong bantu saya sekali ini saja." Ucap Tasya memohon. Tasya menghalangi langkah Manager Vino.


"Kamu tau kan apa yang akan terjadi jika project ini tidak selesai tepat waktu? Dengan kamu mengulur ulur waktu dengan hal hal yang tidak berguna seperti ini, hanya akan membuat project tidak berjalan sesuai waktu yang sudah ditentukan. Itu sama saja dengan kamu mencoba membunuh kita semua. Saya sarankan, sebaiknya kamu menyerah saja. Tidak usah bermimpi terlalu tinggi. Itu tidak akan baik untuk masa depanmu. Jangan terlalu memaksakan sesuatu yang tidak kamu kuasai." Ucap Manager Vino.


"Tetapi CEO Frans menyetujui semua ide ide saya." Ucap Tasya yakin.


"Meskipun disetujui oleh CEO Frans." Ucap Tasya.


"Meskipun sudah disetujui oleh CEO Frans, bisakah kamu mendefinisikan semuanya dengan jelas? Konsep seperti apa yang akan digunakan? Bisakah kamu bertanggung jawab dengan semua ide idemu?" Tanya Manager Vino memojokkan Tasya.


Tasya merasa sangat terpojok dan mematung mendengar ucapan Manager Vino. Rasanya Tasya ingin menangis dan menjerit sekeras kerasnya. Tasya hanya diam menundukkan kepalanya.


"Jika kamu tak ingin menyerah, sebaiknya kamu cepat selesaikan semuanya secara detail dan tepat waktu. Agar semua bisa selamat dan hidup dengan tenang. Sekarang pergilah! Aku tidak bisa membantumu." Ucap Manager Vino. Dia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan perusahaan.

__ADS_1


"Baiklah! Saya akan berusaha sendiri semampu saya. Akan saya buktikan kalau aku bisa." Gumam Tasya bertekad.


Tasya kembali ke ruangannya dan mulai mempelajari tentang konsep konsepnya dan mulai mendefinisikan sedetail mungkin. Dia berusaha sangat keras untuk menyelesaikan definisinya dan agar segera bisa diserahkan kepada Departemen perancangan.


Tak terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.30. Tasya tak menyadari akan hal itu.


Ttiiinnggg..... Suara ponsel Tasya tanda ada pesan masuk. Tasya mengambil ponselnya dan membuka kunci layar ponselnya. Kemudian dia membuka pesan masuknya.


"Tasya, sudah jam segini kenapa kamu belum pulang? Kamu lembur lagi? Kenapa akhir akhir ini kamu sering lembur? Apakah CEO Frans menyusahkanmu lagi?" Isi pesan Anggi.


"Sebentar lagi aku pulang. Tolong bukain pintu gerbang asrama ya." Balas Tasya.


"Oke. Cepetan pulang. Ini sudah tengah malam." Balas Anggi.


Tasya segera menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai, dia bersiap untuk pulang.


Tasya keluar ruangan dan hendak pergi dari perusahaan. Tanpa sengaja CEO Frans melihatnya. CEO Frans mengikuti Tasya dari jarak agak jauh untuk memastikan Tasya sampai asrama dengan selamat.


Tasya tampak lesu dan sangat lelah. CEO Frans mengikutinya diam diam.


Tasya berjalan dalam lamunan dan tanpa sadar dia berjalan terlalu jauh.


"Kenapa dia terlihat sangat lesu? Dan bukankah ini sudah melewati asramanya? Lebih baik aku pura pura meneleponnya." Gumam CEO Frans mengambil ponsel di sakunya dan menelepon Tasya.


Suara dering ponselnya menyadarkan lamunan Tasya.


"Astaga! Aku berjalan terlalu jauh." Gumam Tasya melihat sekelilingnya dan membalikkan badannya untuk berjalan pulang ke asrama kampus.


Tasya melihat ponselnya dan melihat CEO Frans yang menelepon. Dia menggeser ikon hijau ke kanan untuk mengangkat teleponnya.


"Halo Tuan Frans. Ada apa? Kenapa malam malam begini telepon?" Tanya Tasya bermalas malasan bicara.


"Apakah kamu sudah sampai rumah?" Tanya CEO Frans pura pura.


"Ada apa?" Tanya Tasya.


"Eeehhhmmmm! Kemajuan demo agak lambat. Besok pagi kita adakan rapat untuk membahasnya." Ucap CEO Frans mencari alasan.


"Baiklah! Saya mengerti." Jawab Tasya mematikan teleponnya.


"Kenapa kamu tidak menjadi vampire saja? Sudah jam 12 malam kamu masih saja tidak melepaskan aku. Seorang atasan buruk yang tidak punya hati nurani. Orang jahat." Teriak Tasya marah marah.

__ADS_1


Tasya berjalan cepat agar segera sampai di asrama dan beristirahat.


"Apa? Tidak punya hati nurani? Orang jahat? Saya kasih tahu kamu ya! Saya seharusnya membiarkanmu tersesat dijalan saja." Teriak CEO Frans kesal.


Karena kesal, CEO Frans tak lagi mengikuti Tasya dan kembali ke perusahaan.


***


Sesampainya didepan asrama, Anggi, Vera dan Intan sudah berdiri menunggu Tasya.


"Kenapa kalian semua disini?" Tanya Tasya menghampiri mereka.


"Kita nungguin kamu pulang." Jawab Vera.


Tasya tersenyum lega karena masih mempunyai 3 teman yang sangat perduli terhadapnya.


"Ayo masuk! Kamu pasti sangat lelah." Ucap Anggi merangkul bahu Tasya dan mengajaknya masuk ke kamar.


Sesampainya di kamar asrama, Tasya melepaskan sepatu dan meletakkan tasnya kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.


"Aku sangat lelah!" Ucap Tasya memejamkan matanya.


"Apakah gurun es itu menyusahkan kamu lagi?" Tanya Anggi.


"Bukan dia. Tetapi Departemen perencanaan dan Departemen Perancangan. Mereka sepertinya sulit menerima ide ideku. Jadi mau tidak mau aku harus mendefinisikan secara mendetail tentang ideku. Aku tidak menyangka akan serumit ini." Jawab Tasya.


"Kamu pasti sangat lelah. Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kemudian tidurlah." Ucap Vera.


"Iya. Sebaiknya kamu mandi dulu." Ucap Intan.


"Terimakasih teman teman. Aku sangat bersyukur mempunyai teman teman seperti kalian. Kalian selalu mendukungku apapun yang aku lakukan." Ucap Tasya terharu dan matanya mulai berkaca kaca.


Vera, Intan dan Anggi datang menghampiri Tasya dan saling memeluk satu sama lain.


"Sudah ahh! Kamu mandi dulu. Aroma badanmu sangat menyengat." Ucap Vera menutup hidungnya.


"Ahh Vera!" Teriak Tasya kembali memeluk Vera.


"Lepaskan aku." Teriak Vera.


Teriakan Vera tak dihiraukan oleh Tasya. Anggi dan Intan kembali memeluk Vera dan Tasya erat.

__ADS_1


Setelah berpelukan beberapa saat Tasya mandi. Setelah mandi dia kembali ketempat tidur. Teman teman ya sudah terlelap dalam tidur mereka. Tasya ikut berbaring dan beristirahat.


__ADS_2