DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 55


__ADS_3

CEO Frans sengaja membuat Departemen Perencanaan dan Departemen Perancangan.


"Malam ini tidak ada yang boleh pulang dulu. Kita akan mengadakan makan malam karyawan." Ucap CEO Frans.


"Baik Tuan!" Jawab semua karyawan.


Karena pemberitahuannya secara mendadak, Anggi tak sempat memberitahu Tasya.


Semua berangkat bersama sama. Sesampainya di restoran tonight semua berkumpul di meja yang sudah dipesan oleh CEO Frans.


"Mari kita pesan!" Ucap Manager Vino.


"Tunggu sebentar! Kita masih menunggu satu orang." Ucap CEO Frans.


Semua diam dan menunggu seseorang tersebut. Lima belas menit kemudian, Tasya masuk ke dalam restoran.


"Tasya!" Panggil Anggi melambaikan tangan kearah Tasya.


Tasya terkejut karena semua rekan bekerjanya berada di satu meja dengan CEO Frans. CEO Frans duduk bersandar di kursi paling ujung dan menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya. Dia menatap Tasya dengan senyum liciknya. Tasya menghampiri teman temannya dengan senyumannya yang masam.


"Ka.. Kalian disini?" Tanya Tasya terbata bata karena terkejut.


"Iya! Tuan Frans mengajak kita semua makan malam." Jawab Anggi tersenyum.


Tasya hanya menatap CEO Frans dengan senyum masamnya. CEO Frans membalas senyuman Tasya dengan penuh kelicikan diwajahnya.


"Tasya! Duduklah disini." Ucap Anggi menarik keluar kursi disampingnya.


"Aku ingin berbicara dulu dengan CEO Frans." Jawab Tasya.


Tasya berjalan mendekati CEO Frans.


"Tuan Frans, bisakah saya berbicara sebentar dengan Anda?" Ucap Tasya berdiri di samping CEO Frans.


"Ada apa?" Tanya CEO Frans.


"Bisakah kita keluar sebentar?" Tanya Tasya berbisik.


"Ada apa? Kenapa tidak berbicara disini saja? Kenapa harus merahasiakannya dari rekan kerjamu?" Tanya CEO Frans tersenyum.


"Saya hanya ingin berbicara dengan Anda." Jawab Tasya.


"Bicaralah disini!" Balas CEO Frans mengalihkan pandangannya mencari pelayan restoran.


CEO Frans melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan restoran untuk memesan menu. Salah satu pelayan menghampiri meja mereka.


"Pesanlah sesuka hati kalian. Kenyangkanlah perut kalian sepuasnya. Malam ini Nona Tasya yang akan mentraktir kita semua. Untuk merayakan kesuksesannya." Ucap CEO Frans menatap Tasya dengan licik.

__ADS_1


Tasya sangat terkejut dengan apa yang didengarnya dari CEO Frans. Dia yang masih berdiri di samping CEO Frans menatap tajam CEO Frans dan merasa sangat kesal. Dia hanya bisa membuka matanya lebar lebar karena terkejut tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Wah! Beneran Tasya? Kita sangat berterimakasih sebelumnya. Saya akan menikmati makan malam hari ini." Ucap Manager Tomi tersenyum kearah Tasya.


Tasya hanya menatap Manager Tomi dan membalas dengan senyum manis palsunya.


Mereka memesan menu menurut selera masing masing. Sedangkan Tasya hanya diam dan melamun dengan frustasi.


"Kenapa kamu diam saja? Cepatlah pesan. Tidak perlu sungkan." Ucap CEO Frans menatap Tasya licik.


Tasya tetap diam dan melirik CEO Frans dengan lirikan yang sangat tajam.


"Tasya, kenapa kamu diam saja? Kamu mau makan apa?" Tanya Anggi.


"Ehm? Aku sama seperti yang kamu pesan saja." Jawab Tasya.


"Baiklah!" Balas Anggi.


Setelah semua selesai memesan, Pelayan tersebut pergi untuk menyiapkan makanan mereka. Mereka sedang asyik mengobrol satu sama lain. Sedangkan Tasya tetap diam. CEO Frans menatap Tasya dengan senyum puasnya karena berhasil mengerjai Tasya.


"Duduklah! Apakah kamu tidak capek berdiri seperti itu?" Ucap CEO Frans.


Tasya yang merasa sangat frustasi duduk didekat CEO Frans dan menatapnya tajam.


"Ada apa?" Tanya CEO Frans tersenyum.


"Bercanda bagaimana maksud kamu Nona Tasya?" Tanya CEO Frans pura pura tak mengerti dengan maksud Tasya.


"Bagaimana bisa Anda bilang kalau semua ini saya yang traktir?" Tanya Tasya kesal.


"Loh? Bukankah kamu sendiri tadi siang sebelum pulang?" Tanya CEO Frans tetap berakting.


"Saya hanya ingin mentraktir Anda saja. Kenapa jadi semuanya disini?" Ucap Tasya frustasi.


"Apa? Jadi saya salah paham?" Tanya CEO Frans pura pura terkejut.


"Menurut Anda?" Tanya Tasya sangat kesal.


"Lalu bagaimana ini? Semua sudah terlanjur memesan. Dan sudah pasti tidak bisa di cancel. Apakah sebaiknya saya bilang ke mereka?" Tanya CEO Frans.


"Anda semakin bercanda? Bagaimana bisa seperti itu?" Ucap Tasya semakin kesal.


"Lalu bagaimana?" Tanya CEO Frans berlagak seperti orang yang kebingungan.


"Anda yang harus bertanggung jawab membayarnya." Ucap Tasya tak perduli.


"Bagaimana bisa? Kamu yang sudah membuat saya salah paham. Kenapa tadi pas ngajak nggak bilang kalau cuma saya saja. Ya saya pikir semua akan kamu traktir untuk merayakan kesuksesanmu. Lagian tadi sudah terlanjut bilang kamu yang akan traktir mereka. Apa kamu mau mereka berpikir kalau kita punya hubungan spesial seandainya mereka tau kalau saya yang bayar atas nama kamu? Saya tidak mau mencoreng nama baik saya sebagai bos. Dan saya juga tidak mau mempermalukan harga diri karyawan saya." Ucap CEO Frans tersenyum senang.

__ADS_1


Makanan sudah disajikan di meja mereka sesuai dengan yang mereka pesan.


"Jangan sungkan! Silahkan makan sepuasnya." Ucap CEO Frans tersenyum.


Mereka sangat senang, karena untuk pertama kalinya mereka melihat bos yang dingin sekarang bisa tersenyum dan berbaur dengan mereka. Semua mulai menikmati makanannya.


Tasya merasa tak berselera makan. Tetapi mubazir jika tak dimakan.


Semua bersenang senang dan menikmati makanan mereka. Setelah selesai memakan hidangan utama mereka, CEO Frans memanggil pelayan untuk menyajikan hidangan penutup dan camilan serta beberapa minuman beralkohol.


Hidangan penutup telah habis. Mereka mengobrol sambil menikmati camilan dan meminum seteguk demi seteguk alkohol yang sudah disajikan.


"Sudah malam. Ayo kita pulang." Ucap Direktur Elsa.


"Baiklah!" Jawab Manager Tomi setengah sadar karena efek dari alkohol yang diminumnya.


Tasya menatap CEO Frans tajam. CEO Frans hanya mengisyaratkan tangannya agar Tasya segera membayarnya. Tasya beranjak dan pergi ke kasir untuk meminta bill-nya.


Seorang kasir memberikan bill kepada Tasya. Tasya melihat bill-nya dengan mata melotot hampir copot dari tempatnya. Dia sangat terkejut melihat jumlah yang harus dibayarnya.


"3.2 juta? Gaji aku saja tidak cukup untuk membayarnya. Bagaimana aku akan membayarnya? Masak iya harus pakai uang saku aku?" Batin Tasya ingin menjerit dan menangis. Tasya mengambil dompet dan mencari kartu debitnya. Karena tak punya uang cash.


Tiba tiba ada seseorang di sampingnya menyerahkan sebuah credit card kepada kasir tersebut.


"Gesek pakai ini saja." Ucap CEO Frans.


"CEO Frans?" Tanya Tasya dalam hatinya tanpa mengangkat kepalanya yang masih menunduk.


"Tuan Frans?" Tanya Tasya bingung.


"Kamu masukkan bill ini ke hutang yang harus kamu bayar." Ucap CEO Frans fokus memasukkan PIN.


"Baiklah! Terimakasih Tuan." Ucap Tasya lega.


"Ayo! Yang lain sudah menunggu." Ucap CEO Frans berjalan kembali ke meja semula.


Tasya tersenyum lega dan berlari kecil untuk mengikuti CEO Frans.


"Tuan Frans! Anda darimana?" Tanya Direktur Maya.


"Dari toilet." Jawab CEO Frans.


"Tasya! Kamu sudah selesai membayarnya?" Tanya Anggi.


"Sudah!" Jawab Tasya.


"Kalau begitu, mari kita pulang." Ajak Manager Vino.

__ADS_1


__ADS_2