
Mengingat sifat Vio yang susah diatur, CEO Frans yakin dengan cara apapun Tasya tidak akan bisa membujuknya. Merasa tak tega dengan Tasya, CEO Frans memutuskan untuk pergi ke ruangan Vio. Sesampainya di ruangan Vio, CEO Frans masuk tanpa mengetuk pintu. Dia melihat Vio sedang duduk santai dan membaca majalah. Vio mengabaikan siapa yang datang.
"Vio!" Panggi CEO Frans.
"Kak Frans!" Ucap Vio tersenyum dan beranjak mendekati CEO Frans.
CEO Frans hanya diam.
"Kak Frans kesini untuk membujukku ya?" Tanya Vio senang.
"Tidak!" Jawab CEO Frans dingin.
"Lalu?" Tanya Vio tak mengerti.
"Saya cuma mau bertanya." Jawab CEO Frans.
"Bertanya? Bertanya apa?" Tanya Vio semakin bingung.
"Kenapa kamu mempersulit semua Kru pemotretan? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Tanya CEO Frans dingin tapi lembut.
"Aku tidak mempersulit mereka." Jawab Vio ketakutan dengan sikap CEO Frans.
"Lalu kenapa kamu mengulur waktu dengan tidak melakukan sesi pemotretan?" Tanya CEO Frans lagi.
"Aku hanya tidak suka sama Tasya saja. Tatapan dia ke kamu itu berbeda. Kamu kan tau kalau aku sudah lama ..." Jawab Vio.
"Jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Kamu tau aku paling tidak suka itu. Jadi tolong kerjasamanya. Kamu disini sebagai model perusahaan. Bukan teman lama atau apapun itu. Oke?" Ucap CEO Frans memenggal ucapan Vio.
"Baiklah! Tetapi suruh karyawan kamu itu meminta maaf sama aku dulu. Baru aku mau lanjutin pemotretan." Ucap Vio.
"Kenapa?" Tanya CEO Frans tak mengerti.
"Dia berani membentakku. Kalau dia meminta maaf, aku akan lanjutin sesi pemotretan ini." Jawab Vio.
"Baiklah! Kamu tunggu disini. Aku akan membawa dia kesini untuk meminta maaf." Ucap CEO Frans keluar dari ruangan Vio untuk mencari Tasya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang pemotretan, CEO Frans melihat semua Kru hanya duduk terdiam tak melakukan apapun. Ketika melihat CEO Frans memasuki ruangan, mereka semua berdiri untuk memberinya salam. Semua Kru merasa takut jika CEO Frans akan mengamuk di sana karena sesi pemotretan dihari kedua tak berjalan lancar. Mereka hanya terdiam menundukkan tak terkecuali.
"Tasya! Kamu ikut dengan saya sebentar!" Ucap CEO Frans tanpa memperdulikan yang lain.
Mereka hanya terdiam dan saling tatap antara satu dengan yang lainnya. Raut wajahnya tampak jelas kebingungan mereka. Semua saling tanya tanpa tau jawabannya.
Tasya berjalan mengikuti kemana CEO Frans melangkah. Yang membuat Tasya bingung, CEO Frans mengajaknya pergi ke ruangan Vio berada. CEO Frans masuk kembali ke ruangan Vio diikuti oleh Tasya.
Vio yang sedang di make up sangat puas karena CEO Frans membawa Tasya ke hadapannya untuk meminta maaf.
"Kamu minta maaf sekarang kepada Nona Vio!" Ucap CEO Frans menyuruh Tasya meminta maaf.
"Kenapa saya harus minta maaf?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Cepat minta maaf!" Ucap CEO Frans memaksa.
"Apa kesalahan saya? Kenapa saya harus minta maaf yang saya tidak tau kesalahan saya apa?" Ucap Tasya menolak.
"Kamu tidak tau kesalahan kamu? Kamu sudah berani membentak model perusahan ini. Kalau dia menuntut perusahaan apakah kamu akan bertanggungjawab." Ucap CEO Frans marah.
"Cepat minta maaf atau semua kru akan menunggu lama. Saya tidak akan membiarkan mereka berhenti bekerja, jika belum melakukan sesi pemotretan hari ini. Dan pemotretannya tergantung permintaan maaf kamu." Ucap CEO Frans.
Tasya hanya diam dan berpikir sejenak. Di satu sisi, jika dia mempertahankan harga dirinya, kasihan dengan semua Kru. Mereka tidak akan bisa melanjutkan pekerjaan mereka. Tetapi di sisi lain, dia berpikir kenapa dia harus meminta maaf atas kesalahan yang tidak dia lakukan.
"Tetap tidak mau minta maaf? Baiklah kita tunggu sampai kamu meminta maaf!" Ucap CEO Frans memutuskan.
CEO Frans duduk di sifa. Dia duduk dengan kaki melipat, tangan menyilang di dada dan tubuhnya disandarkannya di sandaran sofa. Dia menunggu permintaan maaf Tasya kepada Vio.
Vio yang melihat CEO Frans sangat keras kepada Tasya karena membelanya, merasa sangat senang. Dia tersenyum sendiri didepan meja riasnya. Sedangkan Tasya berdiri terdiam dan menundukkan kepalanya.
Tasya menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya pelan untuk menenangkan pikirannya.
"Baiklah! Saya akan meminta maaf!" Ucap Tasya memutuskan untuk meminta maaf.
CEO Frans mengarahkan tangannya kearah Vio untuk mempersilahkannya meminta maaf. Tasya berjalan mendekati meja rias Vio.
__ADS_1
"Nona Vio, saya minta maaf karena sudah dengan berani membentak Anda. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi. Saya benar benar menyesal." Ucap Tasya memberanikan diri untuk meminta maaf.
"Baiklah! Saya maafkan kamu untuk kali ini! Kalau sampai kejadian ini terulang kembali, saya tidak akan tinggal diam." Ucap Vio menyombongkan dirinya sendiri.
Selesai make up, Vio pergi menuju ruang pemotretan. Diikuti oleh Tasya dan CEO Frans dibelakangnya. Karena merasa kesal, Tasya hanya diam tak mengatakan apapun. Ekspresinya pun terlihat datar dan susah untuk dibaca. Sesekali CEO Frans melirik Tasya. Tetapi tidak ada senyum diwajahnya selama sesi pemotretan. Tak seperti hari hari sebelumnya.
"Nona Tasya! Anda memang hebat!" Ucap Bagas mengacungkan jempol kanannya kearah Tasya.
Tasya tak menjawab, dan hanya tersenyum masam.
"Bagaimana cara Anda membujuknya?" Tanya Bagas lagi.
"Tasya! Kamu ikut saya sebentar." Ucap CEO Frans.
Tanpa menjawab apapun, Tasya mengikuti langkah CEO Frans keluar ruang pemotretan. Vio yang melihat mereka berdua berjalan keluar agak merasa kecewa. Ingin rasanya dia mengikuti mereka berdua. Tetapi dia hanya bisa melanjutkan sesi pemotretan karena sudah berjanji dengan CEO Frans.
"Ada apa?" Tanya Tasya dingin setelah keluar dari pintu ruangan pemotretan.
"Apakah kamu tidak ingin berterimakasih kepada saya karena sudah membantumu membujuk Vio untuk melakukan pemotretan hari ini?" Tanya CEO Frans berterus terang.
"Apakah belum cukup puas Anda mempermalukan saya didepan Nona Vio? Sekarang mau apa lagi Anda?" Tanya Tasya marah.
"Kamu marah sama saya?" Tanya CEO Frans.
"Hah? Bagaimana saya berani marah dengan Anda. Anda atasan saya. Anda yang paling berkuasa. Apakah saya punya hak marah dengan Anda?" Ucap Tasya sedikit berteriak.
Tak ingin mendengar lagi, Tasya berbalik untuk pergi. Tetapi dengan cepat CEO Frans menangkap pergelangan tangan Tasya dan menahannya agar tidak pergi.
"Kamu kenapa semarah ini kepada saya?" Tanya CEO Frans menurunkan nada suaranya sedikit lebih lembut.
Tasya yang masih membelakanginya, hanya menutup mata dan menghela nafasnya. Tiba tiba CEO Frans memeluk perut Tasya dari belakang. Tasya terkejut dan matanya membelalak lebar.
Tasya berusaha melepaskan tangan CEO Frans dari perutnya. Tetapi tenaga CEO Frans lebih kuat.
"Biarkan seperti ini sebentar saja." Ucap CEO Frans lembut.
__ADS_1
Kelembutannya membuat Tasya tak bisa menolak pelukannya. Dia hanya diam dalam pelukan CEo Frans.