
CEO Frans lebih dulu keluar dari restoran. Sedangkan yang lain masih sibuk bersiap siap pulang. Mereka keluar restoran bersama sama.
"Tasya! Kita sangat berterimakasih kepada kamu sudak mentraktir kita makan malam." Ucap Manager Tomi sesampainya didepan restoran.
"Iya Tasya. Kami benar benar berterimakasih." Imbuh Direktur Elsa.
"Iya sama sama." Jawab Tasya.
"Kalau begitu kita berpisah disini ya." Ucap Direktur Elsa melambaikan tangannya dan pergi.
Disusul oleh Direktur Maya, Manager Tomi, Manager Vino dan Designer Reina. Tinggal Tasya, Anggi, Vera dan Intan berdiri di sana.
"Ayo kita pulang!" Ajak Anggi.
Anggi mulai melangkahkan kakinya diikuti ketiga temannya. Tasya tiba tiba menghentikan langkahnya setelah tanpa sengaja melihat CEO Frans berdiri dan bersandar di samping mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Vera menatap Tasya dengan penuh tanya.
"Ehm? Aku melupakan sesuatu. Kalian pulang duluan saja." Jawab Tasya menatap teman temannya.
"Haruskah kita menunggu?" Tanya Intan.
"Tidak! Tidak! Kalian segeralah pulang dan beristirahat. Kalian pasti lelah habis bekerja seharian." Jawab Tasya tersenyum.
"Benar? Kamu tidak apa apa?" Tanya Anggi.
"Tidak apa apa." Jawab Tasya.
"Baiklah kalau begitu. Kita pulang duluan. Kamu hati hati nanti saat pulang." Ucap Vera.
"Iya. Kalian juga hati hati!" Balas Tasya.
Anggi, Vera dan Intan berjalan pulang dan meninggalkan Tasya sendiri didepan restoran. Setelah melihat teman temannya berlalu hingga tak terlihat lagi, Tasya berjalan menghampiri CEO Frans yang masih terdiam dan berdiri bersandar di samping mobilnya.
"Tuan Frans!" Panggil Tasya menyapa CEO Frans.
"Hem!" Jawab CEO Frans dingin.
"Kenapa Anda belum pulang?" Tanya Tasya.
"Saya menunggu sopir. Karena saya terlalu banyak minum alkohol." Jawab CEO Frans.
"Oh! Baiklah kalau begitu, saya permisi." Balas Tasya membungkukkan badannya.
__ADS_1
Tasya berjalan pergi meninggalkan CEO Frans.
"Tunggu dulu!" Ucap CEO Frans menghentikan langkah Tasya.
"Iya?" Tanya Tasya membalikkan badannya menatap CEO Frans.
"Apakah pantas seorang bawahan membiarkan atasannya menunggu sendirian?" Tanya CEO Frans dingin.
"Baiklah! Kalau begitu saya akan menemani Anda sampai sopir Anda tiba." Ucap Tasya kembali mendekati CEO Frans.
CEO Frans hanya diam tak berkata sepatah katapun. Begitu juga Tasya. Mereka hanya berdiri berjejer dan bersandar di samping mobil.
"Ku ingin berjalan jalan mencari udara segar sebentar untuk menghilangkan rasa mabukku." Ucap CEO Frans.
"Saya akan menemani Anda." Ucap Tasya.
CEO Frans berjalan dan diikuti Tasya. CEO Frans dan Tasya berjalan beriringan tanpa ada percakapan diantara mereka. Mereka hanya menelusuri jalanan yang mulai sepi karena hari sudah hampir larut malam.
Tasya melirik CEO Frans dan memanyunkan bibirnya karena bingung harus berbicara mulai dari mana.
"Jika kamu ingin mengucapkan terimakasih, ucapkan saja. Jangan ditahan." Ucap CEO Frans mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Terimakasih untuk hari ini." Ucap Tasya tersipu.
"Saya hari ini menyadari bahwa Anda membantu saya mengetahui tentang konsep konsep yang detai seperti apa. Dan mempelajari tentang desai yang diminati banyak orang. Dan juga Anda sudah membantu saya menyiapkan makan malam ini walau tak terduga. Tapi saya sadar Anda melakukan semua ini agar saya disukai oleh mereka." Jawab Tasya tersenyum dengan pandangan kearah langit.
"Baguslah kalau kami akhirnya sadar." Ucap CEO Frans fokus menatap jalan didepan.
"Kenapa Anda tidak langsung memberitahu saya saja?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Kalau saya memberitahu kamu? Bisakah saya mengerjaimu seperti tadi?" Tanya CEO Frans.
"Meskipun saya sangat kesal.Saya tetap berterimakasih kepada Anda." Ucap Tasya.
CEO Frans hanya tersenyum.
"Anda tersenyum?" Tanya Tasya.
"Tidak!" Jawab CEO Frans merubah ekspresinya menjadi dingin.
"Anda itu tidak pernah mengatakan apa apa. Hanya melakukannya dengan tiba tiba." Ucap Tasya.
"Saya tidak suka bertele tele." Jawab CEO Frans.
__ADS_1
"Itu sebenarnya adalah hal yang cukup baik. Tapi akhirnya hanya akan disalah pahami sebagai hal yang buruk." Ucap Tasya.
"Tapi apa katamu berbicara dengan langsung?" Tanya CEO Frans.
"Saya minta maaf! Menurut saya saat ini Anda dan saya saling menyeimbangkan. Saya tidak mengerti, saya sudah menyiapkan grafik yang begitu detail. Tapi akhirnya semuanya hanya bergantung pada pengetahuan saya tentang desain. Dan baru mendapatkan persetujuan dari Departemen Perancangan. Apakah mereka dengan sengaja mempersulit saya karena saya baru magang?" Ucap Tasya tak mengerti.
"Masalah utama dari hal ini bukan seutuhnya masalah kamu. Departemen Perencanaan hanya menjalankan konsep yang saya inginkan. Tetapi Departemen Perancangan tidak menyetujuinya karena menurut mereka konsepnya kurang detail. Departemen Perencanaan harus mendapatkan kepercayaan terlebih dahulu dari Departemen lain. Makanya ketika konsep yang akan digunakan kurang mendetail, Departemen lain tidak menyetujuinya." Ucap CEO Frans.
"Lalu dengan cara apa agar bisa mendapat kepercayaan dari Departemen lain?" Tanya Tasya.
"Kamu harus tau secara mendetail tentang konsep yang sedang kamu buat dan rencanakan. Kamu harus tau dengan jelas Tidak bisa hanya mengikuti atau berdasarkan perasaan. Kalau tidak, bagaimana kamu bisa mendapat kepercayaan dari orang lain? Yang harus kamu lakukan, kamu harus melihat masalah dari susut pandang orang lain." Jawab CEO Frans.
Tasya hanya diam dengan tatapan kosong .
"Kamu tidak bisa memahaminya?" Tanya CEO Frans.
"Bukan begitu! Saya merasa amarah saya kepada Anda saat itu sangat tidak dewasa. Jika saya sejak awal meminta saran Anda, seharusnya saya tidak melewati hal hal seperti ini. Hingga saya sangat kelelahan." Ucap Tasya menyesal.
"Baguslah kalau kamu sudah tau." Ucap CEO Frans.
CEO Frans tiba tiba menghentikan langkahnya. Tasya imut berhenti dan menatapnya.
"Ayo kita kembali. Mungkin sopir sudah tiba. Sekalian saya antarkan kamu pulang." Ucap CEO Frans.
"Tidak perlu! Anda tidak perlu mengantar saya. Saya bisa pulang naik bus." Jawab Tasya menolak dengan sopan.
"Terus dari halte bus ke asrama kamu jalan kaki. Karena kelelahan kamu sampai berjalan melewati gang ke asrama kampus tanpa sadar?" Ucap CEO Frans.
"Bagaimana Anda tau kalau saya pernah berjalan melewati asrama kampus tanpa sadar?" Tanya Tasya terkejut dan sedikit merasa malu.
CEO Frans hanya diam dan bingung harus menjawab apa.
"Anda mengikuti saya?" Tanya Tasya langsung menuduh CEO Frans.
"Saya antar kamu pulang." Ucap CEO Frans tanpa perduli tuduhan Tasya.
CEO Frans berjalan kembali ke mobilnya. Tasya hanya membuntutinya dari belakang.
"Kenapa aku tidak tau kalau CEO Frans mengikutiku sampai ke asrama?" Batin Tasya terhanyut dalam lamunannya.
Sesampainya di mobil ternyata sopir sudah berdiri di samping mobil untuk menunggu CEO Frans kembali. CEO Frans memberikan kunci mobilnya kepada sang sopir. Sopir tersebut berjalan ke pintu belakang dan membukakan pintu untuk CEO Frans.
"Masuklah!" Ucap CEO Frans menyuruh Tasya masuk terlebih dahulu. Dia masuk mobil setelah Tasya.
__ADS_1
CEO Frans pulang dengan mengantar Tasya terlebih dahulu kembali ke asramanya.