DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 75


__ADS_3

"Tasya! Ngapain kamu disini?" Tanya Gadis menghampiri Tasya dan duduk disebelahnya.


"Aku hanya mencari udara segar saja. Kamu juga ngapain disini?" Tanya Tasya balik dan menatap Gadis.


"Aku juga mencari udara segar saja. Didalam terlalu sesak." Jawab Gadis membalas tatapan Tasya.


Tasya menatap langit yang cerah. Banyak bintang tak beraturan. Dia tersenyum, merasa terhibur dengan adanya bintang di atasnya. Melihat Tasya tersenyum menatap langit, Gadis ikut mendongakkan kepalanya untuk menatap langit yang penuh bintang.


"Langitnya indah ya?" Tanya Gadis mengawali pembicaraan setelah beberapa saat hening.


"Iya!" Jawab Tasya.


"Aku jarang menikmati keindahan seperti ini." Balas Gadis tersenyum penuh sesal.


"Kenapa?" Tanya Tasya penasaran. Tasya menatap wajah Gadis yang menikmati keindahan langit yang penuh bintang.


"Ya hanya tak pernah menyadarinya saja." Jawan Gadis membalas tatapan Tasya.


Mereka beralih menikmati minuman yang ad ditangan masing masing.


"Tasya! Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Gadis sedikit ragu ragu.


"Tanya apa?" Tanya Tasya balik menatap Gadis dengan rasa penasaran.


"Apakah kamu menyukai kakakku, Kak Frans?" Tanya Gadis tiba tiba.


Pertanyaan Gadis membuat Tasya terkejut dan mematung. Serasa lidahnya tak mampu berkata sepatah katapun untuk menjawabnya.


"Maaf! Maaf! Aku tidak bermaksud apa apa! Aku hanya bertanya saja. Karena rasa penasaran saja. Bukan bermaksud apa apa! Maaf kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu." Ucap Gadis takut Tasya marah.


Tasya hanya tersenyum masam. Dan menjawab sekenanya saja karena tak ingin Gadis berpikir macam macam tentang dia dan CEO Frans.


"Tidak! Bagaimana aku bisa menyukainya? Ku sama sekali tidak ada perasaan apapun terhadapnya. Diantara aku dan CEO Frans tidak lebih dari atasan dan bawahan." Jawab Tasya meyakinkan Gadis.


"Oh begitu! Kamu dengan Tyan? Apakah kamu menganggapnya pria? Apakah kamu menyukainya?" Tanya Gadis malu malu.

__ADS_1


"Tyan ya? Kalau dia ... Aku hanya menganggapnya sebagai teman saja." Jawab Tasya.


Tasya merasa lebih tenang karena Gadis tak bertanya lebih tentang perasaannya kepada CEO Frans, kakaknya.


"Tapi aku lihat kamu sangat dekat dengannya. Sebelumnya aku tak pernah melihat Tyan dekat dengan wanita lain seperti kamu dekat dengannya." Ucap Gadis agak kecewa.


"Itu? Dia orangnya baik, juga perhatian. Aku tidak ada alasan untuk menghindarinya. Karena dia selalu baik kepadaku. Kalau soal kedekatannya bersama wanita lain, aku tidak terlalu memperhatikan. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Tasya penasaran.


"Aku hanya penasaran saja!" Jawab Gadis.


"Penasaran? Kenapa? Kamu tidak percaya kepadanya? Bukankah kalian berdua pacaran?" Tanya Tasya penasaran dengan hubungan Tyan dan Gadis.


"Pacaran? Kamu dengar gosip darimana?" Tanya Gadis terkejut.


"Aku pernah melihat kalian makan berdua. Kalian terlihat sangat akrab. Jadi aku berpikir kalau kalian pacaran." Jawab Tasya berterus terang.


"Aku memang menyukainya. Soal makan bersama, itu aku yang minta. Aku berencana bilang ke dia kalau aku menyukainya. Tetapi dia bilang kalau dia menyukai wanita lain. Dan aku berpikir wanita itu adalah kamu. Karena dari sekian banyak wanita, aku lihat Tyan lebih terbuka saat bersama kamu." Ucap Gadis menjelaskan semuanya.


"Ohh! Jadi aku yang sudah salah paham? Aku jadi merasa bersalah dengan Tyan karena sudah menghindarinya karena aku kira dia berbohong." Batin Tasya. Tasya termenung dengan rasa bersalah.


"Hem? Tidak! Tidak! Mungkin karena ku sedikit lelah saja." Jawab Tasya sekenanya.


"Ya sudah! Aku masuk dulu! Kamu jangan lama lama diluar. Udaranya semakin dingin." Ucap Gadis tersenyum. Gadis berdiri dari kursi taman.


"Iya! Kamu duluan saja. Aku sebentar lagi nyusul." Balas Tasya tersenyum.


"Tasya! Makasih ya kamu sudah mau mendengarkan ceritaku." Ucap Gadis meninggalkan Tasya sendiri di taman.


Ketika Gadis hendak masuk, dia bersimpangan dengan Vera. Gadis tersenyum kearah Vera dan Vera pun membalas tersenyum dengan masam. Vera penasaran dengan apa yang dibicarakan Tasya dengan Gadis.


Setelah Gadis telah berlalu, cepat cepat Vera menghampiri Tasya untuk bertanya.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Gadis?" Tanya Vera penasaran.


Tasya terkejut dengan suara Vera. Dia menengok kearah belakang kursi taman dan melihat wajah Vera yang penasaran.

__ADS_1


Vera mendekat dan duduk disebelah Tasya. Mata Tasya mengikuti setiap gerak gerik Vera.


"Kenapa kamu kesini? Apakah acaranya sudah selesai?" Tanya Tasya tak menjawab pertanyaan Vera.


"Aku mencarimu! Ngomong ngomong apa yang kamu bicarakan dengan Gadis tadi?" Tanya Vera lagi penasaran.


"Aku hanya mengobrol biasa saja."Jawab Tasya.


"Tapi kenapa aku melihat kalian mengobrol sangat serius tadi?" Tanya Vera tak percaya.


"Tadi dia bertanya, apakah aku menyukai kakaknya!" Jawab Tasya.


"Lalu kamu jawab apa?" Tanya Vera terkejut.


"Aku bisa menjawab apa selain tidak? Tidak mungkin kan aku menjawab iya." Jawab Tasya bingung.


"Syukurlah! Jangan sampai orang orang tau kalau kamu menyukai buaya itu. Dia itu seperti iblis jahat. Bisa bisanya dia merayu wanita lain di depanmu? Kalau bukan buaya, kata apa lagi yang pantas buat dia?" Ucap Vera kesal.


"Sudah! Sudah! Kenapa kamu jadi semarah ini?" Tanya Tasya heran karena melihat Vera lebih marah daripada dia.


"Aku hanya tak suka caranya saja. Bagaimana kamu bisa menyukai pria seperti itu?" Tanya Vera kesal.


"Yah! Aku juga tak menyadarinya kapan perasaan itu muncul. Dan aku baru menyadarinya belum lama ini. Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang aku rasakan. Aku pun sebenarnya juga tak ingin mempercayainya." Ucap Tasya bingung.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Vera ikutan bingung.


"Aku juga belum tau. Yang pasti derajat aku dan dia terlalu jauh berbeda. Kamu tau sendiri kan dia orang sepenting apa. Aku juga takut untuk berharap lebih tentang dia. Mungkin menjauh akan lebih baik untuk aku dan dia. Bukan aku tak ingin bersamanya. Tapi kalau dipikir berulang kali, bukan aku wanita yang pantas mendampinginya. Aku tak ingin menjadi wanita egois. Meskipun terkadang aku berharap untuk menjadi egois sekali saja. Tetapi setiap aku berpikir untuk menjadi egois, disisi lain aku juga berpikir, bahwa aku tidak pantas untuknya. Dia berada terlalu jauh di atasku. Bagaimana bisa aku berpikir untuk menjadi egois?" Ucap Tasya dengan maya berkaca kaca.


"Kita akan mendukung apapun keputusanmu. Asalkan kamu baik baik saja dan itu terbaik buat kamu. Tenang saja, kamu disini tidak sendiri. Kamu masih mempunyai 3 sahabat yang akan selalu mendukung kamu. Apapun itu! Jadi jangan pernah sekalipun kamu merasa bahwa kamu hanya sendiri. Senang ataupun susah kita akan selalu ada untuk mendukungmu." Ucap Vera memeluk Tasya.


"Menangislah jika kamu ingin menangis. Kamu akan merasa lebih baik setelah kamu menangis. Aku akan memelukmu agar tak ada yang tau kalau kamu sedang menangis." Lanjut Vera membiarkan Tasya menangis di pelukannya.


"Terimakasih! Kalian adalah malaikat dalam hidupku." Ucap Tasya mempererat pelukannya dan menangis sepuasnya.


Vera pun mempererat pelukannya. Dia membiarkan Tasya tetap dalam pelukannya sampai Tasya merasa lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2