
"Mohon kerjasamanya. Silahkan!" Ucap Tasya.
Raka hanya tersenyum manis. Gadis gadis yang melihatnya terpesona akan ketampanan yang dia miliki sat tersenyum.
Raka dan Tasya berjalan berkeliling perusahan. Yang terakhir Tasya membawa Raka menuju ruangannya.
"Disinilah Anda akan bekerja. Ini ruangan Anda." Ucap Tasya menunjukkan meja Raka.
"Baiklah! Baiklah! Hanya ada kita berdua. Jangan berbicara formal kepadaku. Sudah jam makan siang. Aku sudah lapar. Ayo kita makan." Ucap Raka mengelus perutnya.
"Ayo!" Jawab Tasya tersenyum.
"Tunggu dulu! Itu meja siapa? Kenapa hanya ada 3 meja disini?" Tanya Raka menunjuk meja CEO Frans.
"Itu meja CEO kita." Jawab Tasya.
"Apa? Jadi kamu juga satu ruangan dengannya?" Tanya Raka terkejut.
"Hooh! Aku magang sekalian bekerja jadi asisten pribadinya, jadi harus memperhatikan dia secara langsung. Udahlah! Ayo makan." Ucap Tasya berjalan keluar ruangannya diikuti Raka dibelakangnya.
Tasya dan Raka menuju kantin perusahaan. Semua yang melihat mereka berdua menjadi bertanya tanya kenapa mereka sudah sedekat itu.
"Wahh tampan sekali! Apakah dia titisan malaikat?" Gumam salah satu karyawan wanita yang masih muda.
Setiap gadis yang dilewatinya mulai terpesona dan berandai andai dalam gumaman ya.
"Tasya!" Panggil Anggi yang lebih dulu di kantin bersama Vera dan Intan.
Tasya menoleh kearah suara yang memanggulnya. Anggi melambaikan tangannya. Tasya Menghampiri Anggi dan teman temannya. Raka mengikuti dibelakangnya.
"Tasya! Siapa dia? Ganteng banget." Tanya Anggi tersenyum dan mengisyaratkan matanya kearah Raka.
"Oh! Kenalin ini teman SMA aku. Namanya Raka. Raka! Kenalin ini teman kuliah aku." Ucap Tasya memperkenalkan mereka.
"Hei! Aku Anggi." Ucap Anggi mengulurkan tangannya.
"Raka." Jawab Raka membalas uluran tangan Anggi.
"Vera." Balas Vera mengulurkan tangannya.
"Raka." Balas Raka membalas uluran tangan Vera.
"Intan." Ucap Intan mengulurkan tangannya juga.
"Raka." Balas Raka membalas uluran tangan Intan.
__ADS_1
"Jadi kalian ini teman SMA? Dan sekarang jadi rekan kerja?" Tanya Anggi sedikit terkejut.
"Ya begitulah! Semenjak lulus SMA aku tak mendengar kabar darinya. Dan disini kami dipertemukan kembali." Jawab Raka tersenyum.
"Wah! Manis sekali senyumannya." Gumam Intan tersenyum melihat senyum Raka.
"Duduklah!" Ucap Tasya menyuruh Raka duduk.
Raka duduk disebelah Tasya. Mereka berbincang mengenai masa masa sekolah mereka masing masing. Raka tipe cowok yang mudah bergaul. Jadi mereka sudah terlihat sangat akrab meski baru saja kenal.
"Ayo kita kembali. Sudah waktunya kembali bekerja." Ucap Tasya mengajak teman temannya kembali bekerja.
Mereka kembali bersama dan berpisah menuju ruang masing masing. Tasya berjalan beriringan dengan Raka. Tampak jelas keakraban mereka.
Nyonya Johan yang baru saja masuk ke perusahaan dan melihat Tasya dan Raka yang begitu akrab merasa cemburu. Karena Tasya tak seakrab itu dengan putra sulungnya.
"Asisten Riko! Siapa laki laki yang bersama Tasya?" Bisik Nyonya Johan.
"Itu rekan kerja Nona Tasya. Dia dari team produksi. Namanya Tuan Raka. Sekaligus dia teman lama Nona Tasya. Katanya teman SMA." Jawab Asisten Riko.
"Pantesan mereka sangat akrab. Saingan putraku sepertinya sangat sulit untuk dikalahkan." Gumam Nyonya Johan frustasi.
"Saya juga berpikir begitu Tante." Balas Asisten Riko.
Nyonya Johan menatap tajam kearah Asisten Riko.
"Ma.. Maaf Nyonya." Ucap Asisten Riko membungkukkan badannya.
"Tasya!" Panggil Nyonya Johan.
Mendengar seseorang memanggilnya, Tasya menghentikan langkahnya. Begitu juga Raka. Mereka melihat kearah suara tersebut. Nyonya Johan berjalan menghampiri Tasya.
"Nyonya Johan!" Sapa Tasya membungkukkan badannya.
Nyonya Johan tersenyum dan kemudian melihat kearah Raka.
"Oh iya! Perkenalkan ini Tuan Raka dari team produksi. Tuan Raka perkenalkan ini Nyonya Johan." Ucap Tasya memperkenalkan Raka kepada Nyonya Johan.
Raka hanya tersenyum dan membungkukkan badannya. Nyonya Tasya membalas dengan senyumnya.
"Silahkan kembali bekerja!" Ucap Nyonya Johan.
"Baiklah! Kami permisi." Ucap Tasya membungkukkan badan dan pergi bersama Raka.
"Asisten Riko, bagaimana menurutmu perkembangan hubungan antar Frans dan Tasya?" Tanya Nyonya Johan tiba tiba.
__ADS_1
"Saya melihat sama sekali tidak ada perkembangan. Sepertinya Tuan Frans memang tak ahli tentang wanita dan percintaan." Jawab Asisten Riko.
"Kamu tidak membantu mendekatkan mereka?" Tanya Nyonya Johan lagi.
"Bagaimana saya bisa membantu? Anda tahu sendiri temperamen putra Anda seperti apa." Jawab Asisten Riko.
Lagi lagi Asisten Riko salah berbicara. Nyonya Joha menatap tajam Asisten Riko setelah mendengar jawaban tentang anaknya.
"Maaf Nyonya! Saya tidak sengaja mengatakannya. Tapi memang sulit untuk mengembangkan hubungan antara mereka berdua. Tuan Frans memang tak ahli dalam hal itu. Sepertinya terlalu sulit untuknya percaya kepada cinta. Prinsipnya tetap sama. Cinta dan wanita itu hanya akan membuatnya lemah." Ucap Asisten Riko.
"Makanya saya meminta kamu untuk membantunya. Buat dia percaya dengan cinta dan wanita." Balas Nyonya Johan.
"Bagaimana saya akan meyakinkannya? Kalau dia saja akan membunuh saya setiap saya berani membahas soal cinta dan wanita. Bahkan tatapannya saja membuat sudah membuat saya lumpuh." Balas Asisten Riko.
"Kalau sampai Tasya dan Frans tidak bersama. Saya pastikan, saya akan membunuhmu tanpa ampun." Ucap Nyonya Johan mengancam Asisten Riko.
"Nyonya, saya saja mencari pacar belum dapat." Ucap Asisten Riko frustasi.
"Saya tidak perduli. Itu masalah kamu." Ucap Nyonya Johan meninggalkan Asisten Riko.
"Ibu sama anak sama saja. Sama sama berdarah pembunuh. Memang benar kata orang. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Gumam Asisten Riko.
Asisten Riko mengejar Nyonya Johan dan mengantarkannya keruang Presdir.
"Papa! Habislah riwayat Frans." Ucap Nyonya Johan menerobos masuk kedalam ruang Presdir.
"Ada apa?" Tanya Presdir Johan terkejut.
"Sepertinya Tasya mulai dekat dengan seorang pria." Jawab Nyonya Johan khawatir.
"Lalu?" Tanya Presdir Johan lagi.
"Anak kita nasibnya gimana? Aku berpikir kalau Tasya itu paling cocok buat Frans." Jawab Nyonya Johan.
"Oh!" Balas Presdir Johan singkat.
"Papa! Ini tentang masa depan putra kita. Aku ingin dia menikah. Umurnya sudah terlalu banyak. Teman temanku yang punya putra seusianya sudah menggendong cucu. Lah dia? Niatan tertarik sama wanita saja belum." Ucap Nyonya Johan sedikit kesal.
"Ma.. Soal itu, biarkan saja dia sendiri yang menentukan. Percuma kita capek capek memaksanya. Kalau dia tidak mau, ya tidak mau. Kamu yang paling tau putra kita seperti apa. Dia terlalu keras kepala." Balas Presdir Johan.
"Tapi pa..." Ucap Nyonya Johan terhenti.
"Sudah! Tidak usah terlalu dipaksa. Kalau sudah waktunya dia akan menikah sendiri nantinya. Biarkan masalah ini dia sendiri yang atasi. Kita hanya perlu mendukungnya apapun keputusannya. Dia masih ingin mengejar karirnya. Jadi biarkan saja dulu. Papa juga ingin menggendong cucu. Tapi percuma saja memaksanya. Hanya akan membuat keluarga kiya renggang." Ucap Presdir Johan.
"Ah tau ah! Pokoknya dia harus bersama Tasya. Titik!" Ucap Nyonya Johan keras kepala.
__ADS_1
Nyonya johan yang merasa kesal langsung pergi meninggalkan ruangan suaminya. Asisten Riko mengikutinya untuk mengantarkannya pulang.