
"Oh iya! Kenapa kamu terlihat dekat dengan pria itu? Padahal tak ingin menjalin hubungan dengan dia." Tanya CEO Frans cemburu.
"Soal itu? Dia orangnya baik, dan tidak pernah mencoba menyakiti saya. Dia selalu berusaha melindungi saya. Meski beberapa kali saya telak menolak penyataan cintanya." Jawab Tasya menatap Pantai dan tersenyum.
CEO Frans melihat senyum manis di wajah Tasya dan merasa sangat kesal.
"Apakah kamu sudah jatuh cinta padanya?" Tanya CEO Frans cemburu.
"Jatuh cinta? Saya sendiri saja tidak tau jatuh cinta itu rasanya seperti apa." Jawab Tasya tertawa.
"Aku pernah membaca disebuah artikel. Orang yang jatuh cinta akan merasakan debaran yang sangat dahsyat di jantungnya setiap dia berada didekat orang yang dicintainya. Dan ketika orang itu hendak menciummu, kamu tak akan menolaknya." Balas CEO Frans.
"Hahaha! Anda bisa saja. Anda sudah seperti pakar cinta saja." Ucap Tasya tertawa.
Tatapan CEO Frans sangat serius menatap Tasya. CEO Frans memegang kedua lengan Tasya dan mengarahkannya agar berhadapan dengannya. Jantung Tasya tiba tiba berdegup kencang dan tak bisa dikendalikan. CEO Frans menatapnya dengan tajam tetapi penuh kehangatan. Tasya semakin tak bisa mengontrol debaran jantungnya.
"Kenapa jantungku tiba tiba berdegup begitu cepat? Kenapa aku tidak bisa mengontrolnya?" Batin Tasya penuh Tanya.
Tasya menatap CEO Frans dengan tersipu malu. Tiba tiba CEO Frans mendekatkan kepalanya ke kepala Tasya. Semakin mendekat. Semakin mendekat. Dan CEO Frans mendekatkan bibirnya ke bibir Tasya. Tasya yang tak bisa mengontrol dirinya, tanpa ia sadari memejamkan matanya dan bersiap menerima serangan bibir CEO Frans.
"Kamu memejamkan matamu? Jangan berpikir bahwa saya akan menciummu." Bisik CEO Frans tersenyum licik.
Tasya terkejut dan membuka matanya lebar lebar. Setelah sadar, dia mendorong tubuh CEO Frans menjauh darinya.
"Si.. Siapa yang memejamkan mata?" Tanya Tasya dengan wajah tersipu. Tanpa berani menatap CEO Frans, Tasya beranjak pergi meninggalkan CEO Frans.
"Hei! Aku jelas jelas melihatmu memejamkan mata dan ingin menikmatinya**." Ucap CEO Frans tersenyum senang.
Tasya tak menghiraukannya dan terus berjalan meninggalkan CEO Frans.
"Tunggu! Ayo kembali bersama." Teriak CEO Frans mengejar Tasya.
Tasya semakin mempercepat langkahnya. Tetapi langkah CEO Frans lebih panjang dan bisa mengejar Tasya.
"Kenapa buru buru kembali? Kita bisa kembali bersama." Ucap CEO Frans.
"Saya ngantuk." Jawab Tasya malu.
CEO Frans mengantar Tasya sampai ke depan pintu kamarnya. Tasya mencari kunci di sakunya.
"Cepetan masuk. Katanya sudah ngantuk." Ucap CEO Frans.
__ADS_1
"Sial! Kenapa tidak ada? Aku lupa bawa kunci." Batin Tasya gelisah.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans.
"Aku lupa tidak bawa kunci." Jawab Tasya.
"Kamu telepon temanmu." Balas CEO Frans.
"Aku tidak bawa ponsel." Balas Tasya.
"Sial! Aku juga tidak bawa. Kamu gedor saja pintunya." Ucap CEO Frans.
"Dia orangnya susah dibangunin." Jawab Tasya.
"Ya sudah kamu tidur saja di kamar aku." Ucap CEO Frans.
"Apa?" Tanya Tasya terkejut.
"Tenang saja aku sama sekali tak bernafsu sama kamu." Ucap CEO Frans dingin.
Tasya hanya diam dan memanyunkan bibirnya.
"Untung ada aku. kalau tidak kamu mau tidur dimana? Dasar teledor." Ucap CEO Frans.
Tasya akhirnya bermalam di kamar CEO Frans. Karena malam itu malam minggu, tak ada kamar kosong yang tersisa.
"Kamu tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa." Ucap CEO Frans.
"Ti.. Tidak Tidak! Anda tidur saja disini." Ucap Tasya.
"Apa? Jadi kamu sudah punya inisiatif mengajakku tidur bersama? Kamu yakin?" Tanya CEO Frans menggoda.
"Bukan itu maksud saya. Anda tidurlah disini. Saya yang akan tidur di sofa. Kan ini kamar Anda dan saya hanya numpang." Ucap Tasya.
"Pilihannya hanya ada dua. Kamu tidur di ranjang dan aku di sofa. Atau aku dan kamu tidur di satu ranjang?" Tanya CEO Frans tegas.
"Baiklah! Saya akan tidur. Selamat malam!" Ucap Tasya membaringkan tubuhnya di ranjang dan memakai selimutnya menutupi seluruh tubuhnya karena rasa takut.
CEO Frans hanya tersenyum melihat tingkah konyol Tasya. Kemudian dia juga membaringkan tubuhnya di sifa dan tertidur pulas.
Tasya membuka sedikit selimutnya dan melirik kearah CEO Frans yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Dia sedang tidur pulas pun terlihat sangat tampan. Membuat jantungku kembali berdebar debar." Gumam Tasya menatap CEO Frans dan tersenyum tanpa sadar.
"Sudah sudah! Aku pasti sudah gila! Tidak mungkin aku menyukai orang seperti itu. Lebih baik aku tidur. Mungkin karena aku kelelahan jadi aku tidak bisa berpikir jernih." Batin Tasya kembali menutup selimutnya ke sekujur tubuhnya dan memejamkan matanya.
Kkkrrriiinng... Kkrrriiinnnggg... Kkrrriiing... Suara nada dering ponsel.
Tasya terbangun dari tidurnya dan melirik dengan mata kriyip jam di dinding.
"Baru jam setengah 5. Siapa yang pagi pagi telepon." Teriak Tasya kesal mendengar suara ponsel.
CEO Frans terbangun dan mematikan nada deringnya.
"Tidurlah lagi. Maaf." Ucap CEO Frans.
CEO Frans menjauh dari Tasya dan mengangkat panggilan ponselnya. Tasya yang masih ngantuk kembali tertidur.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans setelah mengangkat teleponnya.
"Tuan ada masalah dengan kontrak dengan perusahaan luar negeri kemarin. Presdir menyuruh Anda untuk datang segera hari ini dan mengurusnya kembali." Ucap Sekretaris Tya menjelaskan.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kontrak dengan negara X adakah tanggung jawab Direktur Leo? Cabang perusahaan di negara X?" Tanya CEO Frans kesal.
"Saya juga kurang tau Tuan. Presdir Johan tadi menghubungi saya dan ingin menyerahkan semua kepada Anda. Dan menyuruh Anda datang pagi ini." Ucap Sekretaris Tya.
"Baiklah! Saya akan ke sana." Balas CEO Frans.
CEO Frans mematikan ponselnya dan berjalan mendekati Tasya. CEO Frans melihat Tasya tidur sangat lelap dan tak tega membangunkannya.
CEO Frans menatap Tasya dengan penuh cinta. Dia membelai rambut Tasya dan mencium kepala Tasya. Tasya menggerakkan kepalanya tetapi tetap terlelap dalam tidurnya.
"Dasar kebo." Ucap CEO Frans tertawa kecil dan mengacak rambut Tasya lembut.
CEO Frans berdiri dan bersiap untuk kembali ke perusahaan dan mengurus semua masalah di perusahaannya. Karena hanya CEO Frans lah yang bisa diandalkan oleh Presdir Johan.
Pukul 07.30, Tasya terbangun dari tidurnya. Dia duduk dan merenggangkan otot ototnya. Setelah membuka matanya lebar lebar tak ada seorangpun dikamar tersebut. Sepi, hanya dia seorang diri.
"Kemana dia?" Gumam Tasya.
Tasya duduk ditepi tempat tidur dan melihat sebuah note.
"Maaf! Aku kembali ke perusahaan lebih dulu. Aku ingin berpamitan dengan kamu. Tetapi aku melihat kamu tertidur sangat pulas. Jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu." Tulis CEO Frans.
__ADS_1
Tasya membaca note tersebut sambil senyum senyum tanpa sadar.