DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 35


__ADS_3

Tiba tiba listrik menyala. Dan Tasya masih terhanyut dalam lamunannya. Tasya masih berdiri dimana tadi Frans menjatuhkannya.


Frans yang berjalan lebih dulu merasa rak tega membiarkan Tasya berjalan dengan kakinya yang terkilir. Frans kembali menghampiri Tasya. Dia membungkukkan badannya didepan Tasya.


"Tunggu dulu!" Ucap Tasya menarik lengan Frans. Frans menegakkan badannya.


Tasya dengan kaki pincang berjalan 2 langkah kesamping Frans. Dan menatap Frans tajam.


"Tuan Frans, sebenarnya malam ini tidak ada Asisten Riko kan?" Tanya Tasya penuh curiga.


"Apa maksud kamu?" Tanya Frans tak mengerti.


"Berdasarkan logika, hal seperti itu seharusnya Anda menugaskan Direktur Elsa atau orang dari departemen perencanaan untuk membahas ini. Dan Anda jelas jelas tau, malam ini saya ada janji bertemu dengan Tian dan makan malam bersamanya. Apakah Anda sedang mempermainkan saya lagi?" Ucap Tasya percaya diri dan mencurigai Frans.


Frans tak menjawab dan hanya memalingkan matanya melirik kesamping kanan dan kiri. Tasya semakin curiga dengan tingkah Frans yang tak berani menatap matanya seperti biasa yang dia lakukan. Atau dia akan mengelak setiap kali dia merasa benar.


"Anda sungguh sedang mempermainkan saya?" Teriak Tasya kesal.


Frans memalingkan wajahnya. Dia menarik nafas dalam dalam dan membuangnya dengan kasar. Dengan tatapan tajam Frans menatap Tasya. Tasya sedikit terkejut.


"Pria itu belum tentu baik untukmu. Dia belum tentu benar benar menyukaimu." Ucap Frans kesal.


"Bagaimana dengan Anda?" Tanya Tasya dengan berani dan membalas tatapan tajam Frans.


"Apa?" Ucap Frans berbalik bertanya kepada Tasya dengan bingung.


Frans kembali menarik nafas dalam dalam.


"Tuan Frans, saya rasa malam ini ada beberapa hal yang harus kita perjelas. Saya tidak perduli bagaimana perasaan Anda terhadap saya. Dan perasaan saya terhadap Anda tidak lebih sebagai Anda atasan dan saya bawahan. Jika ingin berada dalam hubungan pribadi, kita hanya bisa menjadi sebatas teman. Tidak lebih dari itu." Ucap Tasya dengan percaya diri.


"Haaaa? Apa ...?" Tanya Frans bingung.


Isyarat tangan Tasya menghentikan pertanyaan Frans. Tasya melayangkan telapak tangannya mengisyaratkan Frans agar tidak bertanya apapun.

__ADS_1


"Tuan Frans, saya akui. Meskipun wajah Anda ini termasuk pria yang saya sukai. Termasuk kriteria saya. Tetapi saya sama sekali tidak bisa menyukai Anda. Dengan kata lain, Aku paling benci orang yang kapitalis seperti Anda." Lanjut Tasya dengan penuh percaya diri dan keyakinan untuk menolak Frans mentah mentah.


Frans hanya terdiam dan terkejut dengan keberanian Tasya mengatakan itu kepadanya.


"Apakah kamu gila?" Tanya Frans heran.


"Saya harap Anda jangan lagi kekanak kanakan. Jangan lagi membuat candaan yang begitu membosankan seperti ini." Ucap Tasya tak menghiraukan kekesalan Frans. Tasya tetap merasa benar dan yakin dengan apa yang diucapkannya.


"Apakah kamu sudah tidak sayang dengan nyawamu? Sehingga kamu cari mati disini?" Ucap Frans kesal.


"Saya harap Anda bisa berlapang dada menerima keputusan saya ini. Jangan melampiaskan kemarahan Anda kepada saya. Hanya karena Anda adalah atasan saya." Ucap Tasya tetap tak perduli dengan amarah Frans saat ini.


Frans yang merasa sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, menarik nafas dalam dalam dan membuangnya kasar. Dia menatap Tasya tajam. Frans memegang kedua bahu Tasya dan mengarahkannya agar menghadap tepat didepannya. Frans mencengkeram bahu Tasya agak keras agar Tasya terbangun dari semua mimpinya.


"Nona Tasya, Apakah lampu disini kurang terang? Sehingga Anda tidak bisa melihat bagaimana wajah Anda itu seperti apa?" Tanya Frans kesal.


Tasya merasa kesakitan karena cengkraman tangan Frans semakin keras di bahunya.


Tiba tiba dari balik pintu, Riko masuk ke perusahaan dengan membawa beberapa makanan ringan dan 3 gelas minuman. Frans yang menyadari kedatangan Riko, melepaskan cengkraman tangannya di bahu Tasya dengan keras dan membuat Tasya mundur satu langkah darinya.


"Saya pergi keluar untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman. Katanya akan ada rapat pembahasan tentang ide perencanaan proyek bulan ini." Jawab Riko tersenyum masam.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Frans dingin.


"Hehe! Tadi saya belum makan malam, jadi saya sekalian makan malam. Tidak aku sangkan akan selama ini. Maaf!" Jawab Riko gugup.


Mendengar jawaban dari Riko, Tasya merasa malu dan menyesal telah mengatakan semua yang ada dipikirannya kepada Frans. Tasya menundukkan kepalanya dan menutup matanya dengan penuh penyesalan. Sampai dia tidak berani mengangkat kepalanya menatap Frans ataupun Riko. Melihat tingkah Tasya yang malu dan menyesal, Frans tersenyum merayakan kemenangannya.


"Nona Tasya?" Panggil Riko setelah melihat Tasya tak berani menatapnya.


"Hem!" Jawab Tasya memalingkan wajahnya menghindari wajah Riko.


"Kenapa Anda tadi tiba lama sekali?" Tanya Riko.

__ADS_1


"Jadi? Asisten Riko? Dia ...?" Tanya Tasya menatap Frans, kemudian kembali menutup matanya dan memalingkan wajahnya kesamping menghindari Frans dan Riko. Tasya merasa ingin menangis dan berteriak sekencang kencangnya karena rasa menyesal dan bersalahnya.


Frans hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya.


"Nona, kami tadi sudah menunggu Anda lama di ruangan Tuan Frans." Ucap Riko.


Tasya tetap diam dalam penyesalannya.


"Tuan Frans, kalian ada masalah apa? Apa yang terjadi dengan Nona Tasya?" Tanya Riko tak mengerti.


Frans hanya mengangkat kedua bahu dan tangannya dengan tersenyum licik. Frans memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dan berjalan meninggalkan mereka menuju lift untuk kembali ke ruangannya.


"Nona Tasya, ada masalah apa?" Tanya Riko menatap iba Tasya.


Tasya menatap Riko hampir menangis. Tasya menunjukkan rasa menyesalnya.


"Kenapa dia?" Teriak Riko.


Frans menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Riko dan Tasya.


"Seharusnya ini pertama kalinya dia menolak seorang pria. Belum sadar diri dari mimpinya." Ucap Frans tersenyum licik dengan kedua tangan tetap berada didalam saku celananya.


Tasya yang semakin menyesal menampar mulutnya dengan tangannya sendiri beberapa kali dan kemudian menampar pipinya agar terbangun dari mimpinya.


"Nona Tasya, Apakah Anda baik baik saja?" Tanya Riko.


"Semakin kalian mengulur waktu, semakin lama pula semua akan terselesaikan." Ucap Frans melanjutkan jalannya menuju lift. Frans berdiri didepan pintu lift dan menunggu Tasya dan Riko datang.


"Nona Tasya,ayo!" Ucap Riko mengajak Tasya mengikuti Frans.


Tasya kesusahan berjalan karena kakinya yang terkilir. Riko membantunya berjalan dengan menopang tangannya. Sedangkan Frans sama sekali tidak memperdulikannya.


"Kenapa sikapnya sangat labil. Mudah sekali untuk berubah. Tadi dia menunjukkan sikap lembut dan hangat. Sekarang sikap dinginnya yang dia tunjukkan pada semua orang. Apa ini salah satu efek dari penyakit bipolarnya?" Ucap Tasya dalam hati.

__ADS_1


Tasya berjalan menuju lift ditopang oleh Riko. Mereka menuju ruangan Frans dan membahas tentang semua ide ide Tasya tentang proyek perusahaan.


__ADS_2