
Dihari ketiga, CEO Frans pulang dari perjalanan bisnisnya diluar negeri. Ketika dia menuju ke ruangannya, dia melihat keakraban Tasya bersama team produksi.
"Siapa dia? Kenapa begitu akrab? Wah! Memang tukang tebar pesona tu cewek." Gumam CEO Frans kesal.
"Tuan Frans, Anda sudah kembali? Kenapa tidak memberitahu saya? Kalau Anda memberitahu kan saya bisa jemput Anda di bandara." Ucap Asisten Riko setelah menghampiri CEO Frans.
CEO Frans tak menghiraukan Asisten Riko. Dengan wajah kesalnya dia masuk kedalam ruangannya. Tasya dan Raka yang sedari tadi serius membahas tentang project terkejut karena CEO Frans tiba tiba masuk tanpa pemberitahuan.
"Ehm! Tuan Frans?" Ucap Tasya beranjak dari tempat duduknya.
CEO Frans tak menghiraukan. Tatapannya penuh curiga kepada Raka. Tatapannya yang tajam seakan menusuk jantung. Dan membuat orang tak berani membalas tatapannya.
Tasya yang sadar akan hal itu langsung berusaha untuk mencairkan suasana.
"Tuan Frans, perkenalkan ini Tuan Raka dari team produksi. Tuan Raka perkenalkan ini CEO Frans." Ucap Tasya memperkenalkan mereka.
"Oh! Selamat siang Tuan. Saya Raka dari team produksi." Ucap Raka memperkenalkan diri.
"Oh!" Jawab CEO Frans dingin dan berjalan ke mejanya.
"Anda kembali lebih awal Tuan. Apakah perjalanan bisnisnya lancar?" Tanya Tasya.
"Sepertinya kamu tidak suka saya kembali." Balas CEO Frans.
"Bukan begitu maksud saya!" Gumam Tasya membuang wajahnya ke samping kiri.
"Bagaimana perkembangan project yang kamu tangani?" Tanya CEO Frans.
Tasya menghampiri CEO Frans dan berdiri didepan mejannya.
"Jika tidak ada kendala, besok sudah mulai di produksi. Sampel desain dan jenis kain dari Designer Reina sudah saya terima. Dan sudah kami serahkan untuk di produksi." Jawab Tasya percaya diri.
Raka hanya diam memperhatikan kepercayaan diri Tasya.
"Dia memang selalu percaya diri." Gumam Raka tersenyum.
CEO Frans yang sadar akan senyuman Raka langsung melirik kearah Raka. Karena lirikannya, dalam sekejap Raka merubah raut wajahnya menjadi datar.
__ADS_1
"Saya mau melihat perkembangannya." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Tunggu sebentar." Balas Tasya.
Tasya pergi untuk mengambil laptopnya didepan Raka. Tasya tersenyum kepada Raka. Raka membalas senyumnya.
"Fighting!" Bisik Raka mengisyaratkan tangannya agar Tasya tetap bersemangat.
Karena menurut desas desus yang dia dengar, CEO Frans sangat menakutkan.
"Fighting!" Jawan Tasya dengan mengisyaratkan tangannya juga.
CEO Frans yang melihat tingkah mereka berdua hanya menyeringai dengan senyum sinisnya.
Tasya kembali ke depan meja CEO Frans dan menyerahkan laptopnya yang sudah berada di page tentang project yang sedang dia tangani. CEO Frans fokus meneliti semua perkembangannya.
"Baiklah! Perkembangannya cukup bagus. Tetap pertahankan agar tetap seperti ini." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Saya permisi dulu." Ucap Tasya dan mengambil laptopnya.
Tasya kembali bekerja. Dia duduk di samping Raka dan fokus membahas project. Sedangkan CEO Frans hanya mengamati dengan mata tajamnya dari mejanya. Mereka tak menghiraukan apapun tentang CEO Frans.
Sesekali CEO Frans melihat Raka menatap Tasya kemudian tersenyum. Dan ketika Tasya menyadari Raka menatapnya, Tasya balas menatapnya dan tersenyum kepada Raka. Semakin membuat CEO Frans terbakar cemburu.
"Kenapa pria itu selalu menatapnya? Dan wanita itu kenap tidak marah? Malah justru tersenyum.. Siapa yang mengijinkan dia tersenyum kepada pria lain." Gumam CEO Frans dan tangannya mengisyaratkan hendak memukul Raka karena kesal.
"Sekretaris Tya! Buatkan saya kopi." Ucap CEo Frans menelepon Sekretaris Tya.
"Baik Tuan." Jawab Sekretaris Tya dibalik telepon.
Tasya yang mendengar nada bicaranya terdengar sangat kesal hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau minum? Biar aku ambilkan." Ucap Raka beranjak keluar untuk membuatkan minum.
"Dasar wanita tebar pesona. Melihat pria tampan sedikit saja langsung tebar tebar pesona. Tunjukkan sikap seperti sikap kamu saat didepan saya. Pasti pria itu akan langsung kabur." Ucap CEO Frans kesal.
"Maksud Anda?" Tanya Tasya membalikkan badannya kearah CEO Frans dengan bingung.
__ADS_1
"Tidak! Tidak ada maksud apa apa. Lanjutkan saja." Jawab CEO Frans menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sombongnya.
Tasya kembali menghadap laptopnya dan kembali fokus mengerjakan tugasnya. Beberapa menit kemudian Sekretaris Tya masuk dengan membawa secangkir kopi di atas nampan dan menyajikannya kepada CEO Frans.
"Ini Tuan kopi Anda." Ucap Sekretaris Tya.
"Sekretaris Tya! Tolong sampaikan pesan saya kepada Asisten pribadi saya untuk bertanggung jawab setiap kebutuhan saya. Sepertinya dia sudah lupa menjalankan tugasnya. Membuatkan kopi bukanlah tugas kamu selama saya punya asisten pribadi." Ucap CEO Frans.
"Baik Tuan." Jawab Sekretaris Tya kebingungan.
"Kenapa dia tak mengatakannya sendiri kepada Tasya. Dia kan juga ada di sana? Ada apa dengan mereka? Sebaiknya aku segera keluar, tubuhku rasnya merinding semua." Batin Sekretaris Tya dan segera keluar dari ruangan CEO Frans.
Mendengarkan ucapan CEO Frans, Tasya merasa sangat kesal. Dia menatap tajam ke depan dan meletakkan penanya dengan sedikit menggebrak meja. Tasya menarik nafas dalam dalam dan membuangnya sangat kasar. Raka sudah berada didepan pintu, tetapi dia membiarkan Sekretaris Tya keluar ruangan lebih dulu.
"Pasang kembali topengmu. Priamu sudah kembali." Ucap CEO Frans.
Tasya kembali menarik nafas dalam dalam dan membuangnya dengan kasar. Raka masuk keruangannya dan merasakan ada perbedaan sangat jauh pada suasana ruangan tersebut. Suasananya berbeda dengan sebelum dia pergi. Dia merasa suasananya lebih berubah menjadi menakutkan.
Raka berjalan menghampiri Tasya dengan membawa 2 cangkir kopi ditangan kanan dan kirinya. Raka meletakkan cangkir kopi di meja dan kembali duduk di samping Tasya. Tampak jelas wajah Tasya terlihat sangat kesal.
"Ada apa? Perasaan aku cuma pergi beberapa menit, kenapa suasananya jadi mengerikan seperti ini? Dia menyusahkanmu lagi?" Tanya Raka.
"Apa lagi yang bisa dia lakukan." Jawab Tasya sangat kesal.
"Sudah biarkan saja. Tidak usah diambil pusing. Mana senyumanmu yang dulu mencerahkan duniaku?" Canda Raka.
Tasya langsung tersenyum semanis mungkin kepada Raka. Raka pun membalas senyumannya.
"Hahh! Dasar wanita bertopeng." Ucap CEO Frans geram.
Raka mengelus punggung Tasya agar dia lebih tenang dan tetap fokus ke pekerjaannya. Raka tiba tiba memakaikan jepit rambut kepada Tasya agar rambutnya tidak mengganggunya bekerja. Tasya menatap Raka terkejut.
"Aku melihat rambutmu mengganggu kamu bekerja, makanya aku kasih jepit rambut." Ucap Raka tersenyum.
"Makasih!" Ucap Tasya tanpa suara dan tersenyum.
Mereka kembali fokus untuk bekerja. Semakin lama melihat keakraban mereka, CEO Frans semakin kesal.
__ADS_1
"Mereka mau pamer kemesraan di depanku? Membuatku kesal saja." Gumam CEO Frans menatap Tasya dan Raka penuh dengan rasa dendam.