DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 39


__ADS_3

Sepulang magang..


"Tasyaaaa....!" Teriak Tian dari luar perusahaan ketika melihat Tasya dan teman temannya keluar.


Tasya melihat kearah suara Tian. Dia tersenyum dan menghampiri Tian.


Frans berjalan keluar perusahan dan tak sengaja melihat Tasya menghampiri Tian. Seketika Frans menghentikan langkahnya. Riko yang berjalan disampingnya terkejut karena Frans tiba tiba berhenti.


"Ada apa?" Tanya Riko heran.


Frans hanya diam dengan tatapan tajam menatap Tasya yang tersenyum berbicara dengan Tian. Raut wajah Frans seketika berubah menjadi sangat marah.


"Waahh ada yang tidak beres ini. Perasaanku tidak enak." Gumam Riko.


Frans menatap tajam Riko dan masuk kembali ke perusahaan tanpa menghiraukan Riko lagi.


"Tuan Frans, tunggu!" Teriak Riko mengejar Frans.


Posisi Tasya


"Kamu ngapain disini?" Tanya Tasya setelah menghampiri Tian.


"Pingin ketemu kamu saja." Jawab Tian tersenyum.


"Ciiiieeee Tasya." Ucap Anggi tersenyum menggoda Tasya.


"Sssttt apaan sih?" Balas Tasya menyuruh Anggi tak menggodanya.


"Aku kan sudah bertemu kamu, jadi aku pamit pulang dulu." Ucap Tian menatap Tasya.


"Lah kok udah mau pulang?" Tanya Anggi.


"Kan sudah melihat Tasya. Mau ngapain lagi? Kan Tasya capek habis magang. Jadi, kamu pulang dan istirahat ya." Jawab Tian lembut menatap Tasya.


Tasya membalas dengan senyumannya dan mengangguk.


Tian pergi meninggalkan Tasya.


"Ayo pulang." Ucap Tasya berjalan pulang diikuti teman temannya.


Posisi Frans..


"Kenapa nggak jadi pulang?" Tanya Riko setelah sampai di ruangan Frans.


"Lembur!" Jawab Frans dingin.


"Apa?" Teriak Riko terkejut.


"Suruh semua bagian perencanaan lembur. Semua harus selesai besok. Pagi sudah harus diserahkan kepada saya." Teriak Frans marah.

__ADS_1


"Tapi ..." Balas Riko.


"Kamu tidak punya hak untuk menjawab." Teriak Frans semakin marah.


"Baiklah!" Jawab Riko.


Riko pergi keruangan bagian perencanaan dan menjelaskan perintah CEO Frans. Semua saling tatap dengan rasa takut karena mereka tau temperamen Frans sedang buruk saat ini. Pasti tidak akan ada yang terselamatkan oleh temperamennya.


***


Keesokan harinya...


Frans dan Tasya berada didalam satu ruangan yang sama dengan kesibukan masing masing. Frans diam tak menghiraukan Tasya.


"Ada apa dengannya? Kenapa hanya diam saja. Biasanya aja sudah seperti kurang kerjaan ngerjain aku?" Batin Tasya menatap Frans dengan penuh tanya.


Frans tetap tak menghiraukannya. Tasya berjalan mendekati mejanya.


"Tuan, apakah tidak ada kerjaan buat saya?" Tanya Tasya.


"Tidak!" Jawab Frans singkat dan dingin.


"Baiklah!" Balas Tasya dan kembali ke mejanya.


Tasya merasa bosan karena tidak mempunyai pekerjaan sama sekali. Dia hanya sibuk memainkan pena ditangannya.


***


"Enggak.. Enggak.. Lebih baik kamu saja." Ucap Manager Tomi dari departemen perencanaan.


"Aku Direkturnya. Aku perintahkan kamu yang masuk." Balas Direktur Elsa.


Direktur Elsa dan Manager Tomi terus berdebat didepan ruangan CEO Frans. Karyawan yang lain dari departemen perencanaan hanya saling dukung.


Manager Tomi akhirnya menyerah dan masuk kedalam ruangan CEO Frans dengan rasa takut.


Manager Tomi mengetuk pintu dan masuk. Frans hanya melirik tajam Manager Tomi. Hanya dengan lirikan CEO Frans saja sudah membuat nyali Manager Tomi menciut. Manager Tomi berjalan mendekati meja CEO Frans dan menyerahkan berkas ditangannya.


Tasya hanya diam dan menatap raut wajah Frans yang dingin dan terlihat marah. Frans membuka berkas yang diserahkan Manager Tomi.


"Apa apaan ini? Apakah kalian digaji hanya untuk membuat lelucon seperti ini?" Ucap CEO Frans marah dan melempar berkas tersebut ke mejanya.


Tasya dan Manager Tomi seketika terkejut dan takut. Manager Tomi menundukkan kepalanya.


"Perusahaan membayar kalian bukan untuk main main disini. Apakah kalian itu anak TK yang membuat seperti ini saja tak bisa." Ucap CEO Frans dengan amarahnya.


"Wahhh ngeri juga kalau dia sedang marah. Apakah penyakit bipolarnya kambuh? Kenapa dia sangat menakutkan?" Batin Tasya merasa takut.


"Maaf Tuan. Kami akan segera memperbaikinya." Jawab Manager Tomi.

__ADS_1


"Sampai kapan? Sampai perusahaan ini bangkrut gara gara kalian? Kalian tau anggaran yang sudah perusahaan keluarkan untuk proyek ini. Saya tidak mau tau, secepatnya semua sudah harus beres dan bulan depan produk sudah harus dipasarkan. Jika kalian tidak sanggup, serahkan proyek kepada departemen perencanaan lain dan silahkan serahkan surat pengunduran diri kalian." Ucap CEO Frans dengan nada marah.


"Ba.. Baiklah Tuan." Jawab Manager Tomi merasa takut dan hampir menangis.


"Pergi!" Ucap CEO Frans dingin tanpa menatap Manager Tomi.


"Saya permisi Tuan Frans." Ucap Manager Tomi menundukkan badannya dan pergi keluar dari ruangan CEO.


Tasya yang menyaksikan kejadian tersebut terheran heran. Ternyata kekejaman CEO Frans yang pernah didengarnya bukanlah cerita fiksi biasa. Semuanya nyata.


"Benar benar aku menyaksikan kejadian yang mengerikan. Badanku sampai merinding semua." Batin Tasya dengan tangan mengelus bulu kuduknya.


Manager Tomi keluar ruangan CEO Frans dengan frustasi.


"Bagaimana hasilnya? Berhasil?" Tanya Direktur Elsa menghampiri Manager Tomi.


Karyawan dari departemen perencanaan semua ikut berkumpul dan menunggu Manager Tomi menyampaikan hasilnya.


"Apakah kalau berhasil muka saya sefrustasi ini?" Tanya Manager Tomi pasrah.


"Gagal ya?" Ucap Direktur Elsa.


"Temperamen CEO Frans saat ini sangat buruk. Kita tidak akan selamat di cengkeramannya. Walaupun kita benar, baginya tetap saja kita salah. Saat temperamen buruk seperti ini, dia tidak mungkin akan membiarkan kita hidup dengan tenang." Balas Manager Tomi.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Direktur Elsa turut frustasi.


"Kita tidak bisa berbuat apa apa. Sekeras apapun kita berusaha pasti tidak akan selamat." Ucap Manager Tomi.


Tiba tiba Asisten Riko menyelinap diantara wajah Manager Tomi dan Direktur Elsa.


"Apa yang kalian bicarakan?" Bisik Asisten Riko.


"Siapa lagi kalau bukan CEO Frans." Jawab Direktur Elsa tanpa sadar.


Manager Tomi dan Direktur Elsa terkejut siapa yang bertanya. Mata mereka membelalak dan menatap Asisten Riko secara bersamaan. Karena terkejut Manager Tomi dan Direktur Elsa menjauh dari Asisten Riko dan berdiri didepannya.


"Asisten Riko." Ucap Manager Tomi dan Direktur Elsa secara bersamaan.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Asisten Tomi penasaran.


"Asisten Riko, tolonglah kami. Kami mungkin tidak akan selamat jika Anda tidak membantu kami." Ucap Direktur Elsa memohon.


"Ada apa? Apakah Tuan Frans menyusahkan kalian lagi?" Tanya Asisten Riko.


Manager Tomi dan Direktur Elsa serta karyawan lain hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Kalian diam. Sepertinya dugaanku benar." Lanjut Asisten Riko.


Mereka tetap diam tak ada yang berbicara satu patah kata pun.

__ADS_1


"Baiklah! Nanti saya akan coba berbicara dengan beliau. Sebaiknya kalian segera kembali bekerja. Daripada makin sedikit kemungkinan kalian akan selamat." Ucap Asisten Riko menyuruh mereka kembali bekerja. Mereka pun menurut dan pergi.


"Heeemmm! Ada apa lagi dengan dia? Tak bisakah sekali saja tidak menyusahkan orang lain ketika sedang marah dengan seseorang?" Gumam Asisten Riko.


__ADS_2