DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 62


__ADS_3

Tasya melihat kearah CEO Frans dan memperhatikannya. Tasya tiba tiba tersenyum tanpa alasan setelah melihat CEO Frans duduk bersandar di sofa dan membaca sebuah buku. Kaki kanannya menyilang berada di atas kaki kirinya. Tampak jelas keindahan yang tak bisa dipungkiri.


"Tuan Frans." Panggil Tasya.


"Iya?" Jawab CEO Frans melihat kearah Tasya.


"Saya sudah selesai." Ucap Tasya.


Tanpa menjawab CEO Frans meletakkan buku yang dipegangnya di atas meja. Dia berjalan mendekati Tasya dan melihat hasil kerja Tasya.


"Ini sudah cukup bagus untuk dipersentasikan. Sekarang kamu tinggal menyimpan filenya." Ucap CEO Frans.


Tasya mengeklik save pada layar komputernya.


"Kamu belum makan malam?" Tanya CEO Frans.


Tasya hanya menggelengkan kepalanya.


"Ku juga belum Ayo kita makan malam." Ucap CEO Frans mengajak Tasya makan malam.


"Saya tidak lapar, Tuan." Jawab Tasya menolak.


KkkRrrruuuuyyyuuukkkk.... Suara perut Tasya.


Tasya tersipu malu karena perutnya tidak bisa diajak kompromi. Dia memegang perutnya dan malu malu menatap CEO Frans.


"Ayo makan!" Ucap CEO Frans memaksa.


"Ti.. Tidak usah Tuan. Saya makan bersama teman teman saya saja." Ucap Tasya terus menolak.


"Terserah kamu mau makan atau tidak. Ini perintah! Kamu temani saya makan malam. Kamu tidak ada hak untuk menolak." Ucap CEO Frans tegas.


Mau tak mau Tasya menemani CEO Frans untuk makan malam. CEO Frans mengajak Tasya makan malam ke sebuah restoran steak.


Karena merasa lapar, akhirnya Tasya ikut memesan makanan. Mereka makan malam bersama.


Sekitar pukul 20.00 CEO Frans mengantar Tasya pulang ke asrama karena keburu pintu asram ditutup.


"Tuan Frans, terimakasih atas makan malamnya dan terimakasih sudah mengantarkan saya pulang." Ucap Tasya setelah sampai didepan asrama.


"Masuklah! Dan beristirahatlah!" Ucap CEO Frans lembut.


"Baiklah! Anda hati hati dijalan. Selamat malam." Ucap Tasya tersenyum dan turun dari mobil.


"Selamat malam juga." Balas CEO Frans.


Setelah Tasya turun, CEO Frans mengemudikan mobilnya untuk pulang. Tasya melambaikan tangannya dengan tersenyum senang kearah CEO Frans.

__ADS_1


Tasya masuk kedalam asrama. Dia masuk kedalam kamar dengan senyum senyum tanpa sebab. Membuat teman teman yang melihatnya menaruh rasa curiga.


"Tasya, kamu kenapa?" Tanya Anggi khawatir.


"Hemm?" Sahut Tasya tersenyum.


"Kamu menang lotre atau apa? Kenapa pulang pulang tersenyum senyum sendiri? Apakah kamu sakit?" Tanya Intan.


Vera hanya diam saja memperhatikan tingkah Tasya yang terlihat aneh dan mencurigakan.


"Kamu sedang jatuh cinta ya?" Tanya Anggi menggoda Tasya.


"Jatuh cinta? Nggak semudah itu kali buat jatuh cinta." Jawan Tasya berjalan ke kamar mandi.


Anggi, Vera dan Intan hanya saling tatap karena bingung dengan apa yang terjadi pada Tasya.


***


Keesokan harinya...


"Tasya!" Teriak Raka didepan kantor.


Tasya belum sempat menoleh kearah Rak, tetapi Raka lebih dulu merangkul leher Tasya.


"Ayo kita masuk bersama." Ucap Raka tersenyum.


Tatapan sang CEO seakan akan menembus sampai ke ubun ubun ketika melihat tangan Raka merangkul Tasya.


"Tasya kami duluan ya!" Ucap Anggi dengan takut karena melihat betapa mengerikannya tatapan CEO Frans.


Vera dan Intan mengikuti Anggi.


Tasya yang sadar akan tatapan tajam CEO Frans, langsung melepaskan rangkulan Raka.


"Tasya, nanti pulang kerja kita main yuk!" Ucap Raka sambil berjalan menuju lift.


"Main kemana?" Tanya Tasya.


"Selamat pagi Tuan Frans!" Sapa Tasya dan Raka bersamaan. Membungkukkan badan mereka didepan lift karyawan.


CEO Frans yang berdiri didepan lift khusus tak menghiraukannya. Melirik pun tidak. Hanya Asisten Riko yang tersenyum kepada mereka dan saling membungkukkan badan untuk saling menyapa.


"Ehm kemana ya? Jalan jalan kemana aja gimana? Lagian besok kan weekend. Jadi kita bisa santai. Aku pingin lebih dekat mengenalmu." Ucap Raka tersenyum ke Tasya.


"Waduh! Tuan Frans benar tak ada kesempatan kalau begini caranya." Gumam Asisten Riko lirih.


Dengan tampang dinginnya, CEO Frans tak perduli dan masuk kedalam lift setelah pintu liftnya terbuka. Entah dengan sebab apa, Tasya sedikit kecewa melihat tingkah CEO Frans yang tak menghiraukannya.

__ADS_1


"Kita bicarakan nanti aja. Sekarang kita harus bekerja. Oke!" Ucap Tasya merangkul leher Raka sedikit erat dan menariknya masuk kedalam lift.


"Aku gak bisa nafas!" Ucap Raka menepuk nepuk tangan Tasya yang berada dilehernya.


"Oh! Maaf!" Ucap Tasya merasa bersalah dan melepaskan rangkulannya.


Sesampainya di ruangan mereka, Tasya langsung menyiapkan bahan bahan rapat pagi ini. Dia pergi untuk memfotokopi file yang kemarin dikerjakannya.


Setelah memfotokopi file filenya, Tasya kembali ke ruangannya.


"Tasya, aku buat kamu minum dulu ya!" Ucap Raka dan pergi keluar.


Tasya hanya mengangguk dan kembali fokus dengan meneliti beberapa lembar file yang baru saja di fotokopinya.


Dengan sengaja CEO Frans memencet remote untuk menutup dinding kaca ruangannya.


Tiba tiba Tasya dikagetkan oleh tingkah CEO Frans. Tanpa sepengetahuan Tasya, CEO Frans sudah berdiri didekatnya dan memutar kursi Tasya tepat ke hadapannya. Dia sedikit membungkukkan badannya, mendekati wajah Tasya.


"Kamu sengaja kan?" Tanya CEO Frans tiba tiba.


"Mak.. Maksud Tuan Frans?" Tanya Tasya terbata bata. Dia menundukkan kepala karena takut dengan tingkah CEO Frans.


"Kamu sengaja kan membuat saya kesal?" Tanya CEO Frans memperjelas pertanyannya.


"Saya.. Saya tidak berani membuat Anda kesal." Jawab Tasya.


"Kamu jangan pernah menunjukkan didepan saya kedekatan kamu dengan pria lain. Saya paling tidak menyukai itu. Kamu tau kan akibatnya kalau membuat saya kesal?" Ucap CEO Frans dengan nada mengancam.


Tasya hanya mengangguk tanpa berani menatap wajah CEO Frans. Dia tetap menundukkan kepalanya.


Tak tega melihat Tasya ketakutan, CEO Frans memegang dagu Tasya dan mengangkatnya. CEO Frans menatap Tasya dengan lembut. Tasya pun menatap wajah dengan tatapan yang dia rindukan. Tatapan lembut dan hangatnya.


CEO Frans mendekatkan bibirnya ke bibir Tasya dan menciumnya pelan. Melihat tak ada penolakan dari Tasya, CEO Frans memegang leher Tasya bagian belakang dan kembali mencium Tasya. Tasya memejamkan matanya dan membalas ciuman CEO Frans. Bibir mereka saling berpagutan. Mereka saling menikmati ciuman pertama mereka. CEO Frans mengarahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk merubah posisi bibirnya.


Mengingat hari masih pagi dan mereka berada di kantor, CEO Frans melepaskan ciumannya. CEO Frans menatap Tasya dan tersenyum lembut. Tasya membalas senyumannya. Mereka merasa sedikit malu dan canggung. CEO Frans kembali ke mejanya dan memencet remote untuk membuka dinding kacanya kembali.


Beberapa menit kemudian, Raka masuk dengan membawa 3 cangkir kopi. Dia memberikannya 1 cangkir kepada CEO Frans.


"Tasya, kenapa warna bibirmu berubah? Bukankah kamu tadi memakai pewarna bibir?" Tanya Raka tanpa curiga.


"Aku baru saja menghapusnya. Dan mau memakai lipstik ulang." Jawab Tasya mengambil lipstik didalam tasnya.


CEO Frans terkejut akan pertanyaan Raka. Matanya melihat ke layar komputer, tetapi pikirannya memikirkan kejadian sebelumnya. Merasa konyol, CEO Frans tersenyum sendiri dan memegangi bibirnya.


"Ayo kita siap siap rapat." Ucap Tasya mengajak Raka pergi ke ruang rapat departemen.


Raka mengikuti Tasya keluar ruangan menuju ruang rapat.

__ADS_1


__ADS_2