DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 85


__ADS_3

Sesampainya di rumah CEO Frans, Tasya menyiapkan semua bahan yang baru saja mereka beli di meja dapur.


"Kau yang membuat adonannya, dan aku akan menyiapkan isiannya." Ucap Tasya sambil berjalan mengambil wadah untuk membuat adonan dan isian pangsit.


"Ayo kita jalani hidup normal. Kenapa aku jadi lapar?" Lanjut Tasya meletakkan 2 buah mangkok adonan di meja.


Tasya mencuci beberapa tangkai daun bawan. Sedangkan CEO Frans sedang sibuk membuat adonan pangsit. Tasya selesai mencuci daun bawang dan meletakkannya dimeja. Setelah itu dia duduk di kursi di samping CEO Frans yang berdiri dan sibuk menguleni adonan pangsit.


Tasya duduk sambil mengamati wajah CEO Frans. Dia tersenyum senyum sendiri menatapnya. CEO Frans yang masih sibuk dengan adonan pangsitnya menatap Tasya dan membalas senyumannya. Dan kembali fokus dengan adonannya.


"Kenapa kau menatapku?" Tanya CEO Frans yang tetap fokus dengan adonannya.


Tasya hanya tersenyum menatapnya.


"Apa kau terpesona dengan ketampananku?" Lanjut CEO Frans bertanya.


"Apa kamu bercanda? Kamulah yang terpesona olehku." Jawab Tasya memalingkan pandangannya ke depan dengan penuh percaya diri.


"Kenapa aku tak menyadarinya?" Tanya CEO Frans mengernyitkan dahinya. Seolah olah tak percaya untuk menggoda Tasya.


"Masih berpura pura?" Tanya Tasya berdiri menghadap CEO Frans dan menunjuk kearahnya.


CEO Frans hanya diam dan tersenyum licik tanpa melihat kearah Tasya.


"Katakan, kapan kau mulai menyukaiku?" Lanjut Tasya bertanya kepada CEO Frans dan masih menunjuk kearah CEO Frans.


"Ini tak akan menyenangkan jika aku memberitahumu. Coba tebaklah." Ucap CEO Frans menatap Tasya dan tersenyum menggoda.


"Baik!" Ucap Tasya mulai berpikir dan berjalan kebelakang CEO Frans.


Tasya memutar badannya dan berpikir keras untuk menebak. Dan kembali mendekati CEO Frans ketika menemukan jawaban untuk tebakkannya.


"Aaahhhh! Saat aku pertama kali kita bertemu?" Tanya Tasya berdiri di samping kiri CEO Frans dan menatap dengan senyumnya.


"Bukan! Jelas jelas aku sangat membencimu pada saat itu." Jawab CEO Frans tersenyum.

__ADS_1


"Eehhhmm!" Gumam Tasya mulai berpikir lagi dan berjalan ke belakang CEO Frans.


"Haaa! Aku tau!" Ucap Tasya menghampiri CEO Frans dan berdiri di samping kanannya.


CEO Frans menatap kearah Tasya.


"Aku tau! Saat pesta ulang tahun Tante Johan?" Tanya Tasya.


CEO Frans hanya menggelengkan kepalanya. Tasya berpikir lagi.


"Saat aku pertama kali magang di perusahaanmu?" Tebak Tasya lagi.


"Bukan! Saat itu kamu jelas tau bahwa aku masih membencimu." Jawab CEO Frans.


"Lalu kapan?" Tanya Tasya frustasi dengan semua tebakannya salah.


"Coba kamu tebak." Jawab CEO Frans tersenyum.


"Saat saya mengajukan ide ide tentang project yang saya tangani? Sudah aku duga, kamu mulai menyukai kecantikanku sejak hari itu." Ucap Tasya percaya diri. Tasya menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan penuh percaya diri dan tersenyum kearah CEO Frans.


"Seistimewa apa?" Tanya Tasya mendongakkan kepalanya keatas dan menutup mata untuk mendengarkan sanjungan dari CEO Frans.


"Sejenis cantik yang hampir tak terlihat." Ucap CEO Frans berbisik ditelinga Tasya dengan nada mengejeknya.


Mendengar ucapan CEO Frans, Tasya membuka matanya lebar lebar dan menatap CEO Frans dengan penuh dendam.


"Bodoh!" Ucap CEO Frans tersenyum dan meleletkan sisa adonan yang menempel di jari telunjuknya ke hidung Tasya.


CEO Frans kembali kembali sibuk membuat adonan pangsit.


"Apa yang kamu katakan tadi? Coba katakan sekali lagi." Ucap Tasya mendekatkan wajahnya kehadapan CEO Frans.


"Bo.. doh!" Ucap CEO Frans menatap Tasya dengan mimik wajah menghina dengan senyum liciknya


"Bodoh?" Tanya Tasya menatap tajam CEO Frans.

__ADS_1


CEO Frans hanya diam. Dia hanya mengangkat kedua alisnya dan sedikit memiringkan kepalanya serta senyum di bibirnya.


Karena rasa kesalnya, tanpa sepengetahuan CEO Frans Tasya mengambil sedikit tepung dan menggenggamnya. Kemudian Tasya meniup tepung tersebut ke wajah CEO Frans. CEO Frans menutup matanya agar tepung tak masuk kedalam matanya. Tak terima dengan apa yang dilakukan Tasya, CEO Frans melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Tasya terhadapnya. Tasya berlari mengelilingi meja dapur dan CEO Frans terus mengejarnya. Sesekali CEO Frans dan Tasya saling melempar tepung. Tasya tersenyum senang dan menghamburkan setiap tepung yang digenggamnya. Begitu juga CEO Frans.


Tertawa dan saling lempar tepung. Sejenak mereka melupakan tentang pekerjaan mereka membuat pangsit. Semakin mendekat Tasya tertangkap oleh CEO Frans. CEO Frans memegang kedua lengan Tasya yang baru daja menggenggam tepung. CEO Frans tersenyum kepadanya. Tasya tak memberontak. Dia hanya meleletkan tepung kering disekitar wajah CEO Frans dengan kedua jarinya. Tasya tertawa senang. CEO Frans ikut tertawa melihat Tasya tertawa.


"Jadi kapan kau mulai menyukaiku?" Tanya Tasya tertawa dan merangkul leher CEO Frans.


"Aku tidak tau. Sepertinya aku menyukaimu tanpa sadar." Jawab CEO Frans melepaskan rangkulan Tasya.


"Mungkinkah itu cinta pada pandangan pertama?" Tanya Tasya.


"Aku tak yakin dengan semua itu. Yang pasti, aku mengenal kamu itu adalah takdir." Jawab CEO Frans menatap lembut Tasya.


CEO Frans mendekatkan kepalanya ke kepala Tasya dan menempelkan bibirnya ke bibir Tasya. Tasya hanya memejamkan matanya. CEO Frans berhenti sejenak. Mengetahui Tasya tak menolaknya, CEO Frans mulai ******* bibir Tasya atas bawah secara bergantian. Tasya mulai mengimbangi ******* CEO Frans.


Bibir mereka berpagutan cukup lama. CEO Frans mengganti posisinya dengan menggerakkan kepalanya ke kana dan ke kiri secara bergantian. Tasya pun ikut mengimbanginya. Merasa Tasya sudah hampir kehabisan nafas CEO Frans melepaskan ciumannya dan membiarkan Tasya bernafas.


Setelah Tasya mengatur nafasnya, CEO Frans kembali ******* bibir Tasya. Tak berhenti disitu, CEO Frans mengangkat tubuh Tasya dan mendudukkannya di atas meja. Tangan Tasya merangkul leher CEO Frans. Sedangkan tangan CEO Frans merangkul pinggang Tasya dan sesekali memajukan tangannya agar perut Tasya menempel ke perutnya.


Tersadar pekerjaannya belum selesai, Tasya melepaskan lumatannya.


"Kenapa?" Tanya CEO Frans menatap bingung Tasya.


"Ayo kita selesaikan membuat pangsitnya." Jawab Tasya tersenyum mengelus bagian belakang rambut CEO Frans lembut.


"Baiklah!" Ucap CEO Frans mencium kening Tasya dan kemudian bibirnya.


Tasya hanya tersenyum. CEO Frans mengangkat tubuh Tasya dan menurunkannya dari atas meja.


CEO Frans kembali menyelesaikan adonan yang sempat dia lupakan. Sedangkan Tasya mulai membuat isian pangsit daging sapi.


Tasya dan CEO Frans mulai sibuk dengan pekerjaan masing masing. Sesekali Tasya melirik CEO Frans dan tersenyum. CEO Frans hanya membiarkan Tasya sepuasnya memandangnya.


Selesai membuat isian, Tasya menyiapkan nampan untuk tempat pangsit yang siap untuk direbus. Mereka mulai membentuk pangsit sesuai selera mereka masing masing.

__ADS_1


__ADS_2