
"Ayo kita pergi berkencan!" Ucap Tasya berdiri dan menenteng tas selempangnya.
CEO Frans tersenyum senang. Mereka berdua keluar dari kantor dengan alasan akan meeting dengan klien.
"Sekretaris Tya, saya akan pergi meeting bersama nona Tasya. Batalkan semua janji dan jadwal saya." Ucap CEO Frans didepan meja Sekretaris Tya.
"Baik Tuan! Tapi hari ini Anda akan bertemu siapa? Disini tidak ada jadwal Anda meeting jam segini." Ucap Sekretaris Tya.
"Saya akan menemui investor untuk proyek baru." Jawab CEO Frans mencari alasan.
"Baik Tuan!" Balas Sekretaris Tya.
CEO Frans melanjutkan langkahnya diikuti oleh Tasya dibelakangnya. Baru beberapa langkah, CEO Frans berpapasan dengan Asisten Riko.
"Selamat pagi Tuan Frans." Sapa Asisten Riko membungkukkan badangnya.
"Nona Tasya, selamat pagi." Sapa Asisten Riko menatap Tasya.
Tasya tersenyum dan membungkukkan badannya.
"Tuan Frans saya mau bertemu Anda! Anda mau kemana?" Ucap Asisten Riko sedikit berteriak karena CEO Frans tetap melangkah pergi.
"Letakkan di meja saya." Jawab CEO Frans.
Asisten Riko menatap CEO Frans penuh curiga. Sedangkan Tasya sekali lagi membungkukkan badannya, lalu pergi mengejar CEO Frans. Asisten Riko menatap mereka sampai mereka masuk kedalam lift.
"Kenapa tingkah mereka mencurigakan? Kemana perginya mereka? Ah sudahlah!" Gumam Asisten Riko curiga, kemudian pergi menuju ruangan CEO Frans.
CEO Frans pergi dengan menggunakan mobil pribadinya tanpa sopir agar lebih leluasa pergi bersama Tasya.
"Kita mau kemana?" Tanya CEO Frans setelah mereka masuk mobil.
"Aku tunjukkin arahnya ya." Jawab Tasya tak memberitahu CEO Frans akan pergi kemana.
"Baiklah! Kemanapun asalkan bersamamu, tidak masalah." Ucap CEO Frans yakin.
Tasya hanya tersenyum dan menatap CEO Frans. CEO Frans mulai mengemudikan mobilnya. Sedangkan Tasya sibuk memberi rute perjalanan mereka. Sesampainya ditempat tujuan, Tasya membuka pintu mobil dan CEO Frans hanya bengong melihat dimana mereka sekarang.
"Ayo turun. Kamu akan tetap disini?" Tanya Tasya tersenyum menatap ekspresi waja CEO Frans.
"Hem! Iya! Iya!" Jawab CEO Frans terkejut.
CEO Frans menutup mata dan menghela nafas agar merasa lebih tenang. Kemudian dia membuka pintu mobil dan keluar.
"Ayo!" Ucap Tasya menghampiri CEO Frans dan menggandeng tangannya.
Tasya mengajak CEO Frans masuk. Sesampainya didepan pintu masuk, CEO Frans menghentikan langkahnya dan terdiam. Beberapa saat kemudian, CEO Frans menatap Tasya dengan penuh tanya.
"Kamu yakin ini tempatnya?" Tanya CEO Frans ragu.
__ADS_1
Tasya menatap CEO Frans dan tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Kita pergi ke pasar untuk berkencan? Ini kencan pertama kita." Tanya CEO Frans dengan nada frustasi.
Tasya menganggukkan kepalanya sekali dengan mantap.
"Aku slalu ingin mendapatkan pria penyayang keluarga untuk hidup bersamaku." Jawab Tasya.
"Ha?" Gumam CEO Frans terkejut dan matanya membelalak menatap Tasya.
"Aku ingin membuat pangsit bersamamu. Sekalian membuat makan malam. Ayo!" Ucap Tasya tersenyum dan menggandeng lengan CEO Frans dan mengajaknya masuk pasar.
CEO Frans hanya diam dan melihat kanan kiri. Banyak pedagang yang berbondong bondong menawarkan barang dagangannya.
Tasya mengajak CEO Frans berkeliling pasar untuk mencari bahan bahan membuat pangsit. Setelah mendapatkan semua bahan, Tasya mengajak CEO Frans untuk mencari bahan untuk membuat makan malam mereka.
"Ikan segarnya Tuan!" Ucap Pedagang menawarkan ikan segar kepada CEO Frans.
CEO Frans mendekat ke penjual ikan segar tersebut. Tasya hanya mengikutinya.
"Tuan tampan! Mari dibeli ikan segarnya." Ucap pedagang tersebut.
CEO Frans tak menjawab. Dia hanya menatap ikan ikan segar yang masih hidup didalam bak.
"Saya mau 5 kg." Ucap CEO Frans setelah melihat papan harga ikan segar tersebut. Dia merasa bahwa harga di pasar jauh lebih murah jika dibanding dengan harga di supermarket.
Tasya terkejut dan menatap CEO Frans dengan mulut terbuka.
"Baik!" Jawab CEO Frans.
"5 kg 375.000? Tidak, terimakasih!" Sahut Tasya terkejut dengan harganya dan menolak.
"Kita tidak perlu membeli ikan segar. Kita akan membuat pangsit daging ayam. Kita tidak makan emas." Ucap Tasya menatap kembali menatap CEO Frans.
"Tapi..." Ucap CEO Frans.
"Bukankah kamu ingin hidup bersamaku? Jangan membuang buang uang. Ayo!" Ucap Tasya menggandeng lengan CEO Frans dan mengajaknya pergi.
"Terimakasih!" Ucap Tasya menatap pedagang tersebut dengan kesal karena harga yang begitu mahal baginya.
CEO Frans hanya menuruti Tasya dan pergi mengikutinya. Mereka kembali berkeliling.
"Nona! Belilah daging!" Ucap pedagang daging ayam kepada Tasya.
"Daging sapi. Ayo kita lihat!" Ucap Tasya mengajak CEO Frans mendekat.
"Daging sapi..?" Gumam CEO Frans heran.
"Tuan saya juga mau beli daging sapi 2 kg!" Ucap pasutri yang baru saja datang mendekati penjual daging sapi tersebut.
__ADS_1
"Baik!" Jawab pedagang daging tersebut.
Tasya tersenyum melihat kemesraan mereka. Sang istri merangkul lengan suami dengan mesra.
"Sayang! Malam ini kita mau makan apa?" Tanya sang istri.
"Kamu saja yang putuskan." Jawab sang suami tersenyum.
"Aku ingin membuat steak daging sapi." Ucap Sang istri.
Pedagang tersebut menyerahkan daging sapi yang dibungkus plastik kepada pasutri tersebut.
"Steak daging sapi?" Gumam Tasya kepada dirinya sendiri.
"Tuan kami juga mau." Ucap Tasya setelah pasutri tersebut pergi.
"Berapa kilo?" Tanya pedagang daging tersebut.
"2 kg." Jawab Tasya.
"Baik!" Ucap pedagang daging tersebut.
CEO Frans tetap diam dan menatap Tasya terkejut.
"Kita akan membuat pangsit daging sapi dan juga kita akan makan malam dengan steak daging sapi. Tidak jadi ayam." Ucap Tasya tersenyum menatap CEO Frans.
Pedagang tersebut menimbang daging sapi yang akan dibeli oleh Tasya. Setelah selesai menimbang, pedagang tersebut memasukkannya kedalam plastik dan menyerahkannya ke Tasya.
"Silahkan Nona!" Ucap Pedagang daging sapi menyerahkan dagingnya kepada Tasya.
"Terimakasih! Berapa pak?" Tanya Tasya tersenyum dan menerima bungkusan daging tersebut.
"375.000 Nona." Ucap Pedagang sapi tersebut.
CEO Frans terkejut dengan harga 3 kg daging sapi tersebut. Karena harganya sama dengan ikan segar 5 kg yang ingin dibelinya. Tetapi tidak jadi membeli karena Tasya tak mengijinkannya.
"375.000? Baiklah!" Ucap Tasya tersenyum.
Mata CEO Frans beralih ke bungkusan daging yang dibawa Tasya.
"Kenapa bengong? Ayo bayar!" Ucap Tasya menatap CEO Frans.
CEO Frans dengan heran mengambil dompetnya disaku celana dan membayarnya.
"Ini!" Ucap CEO Frans menyerahkan uang pas.
"Terimakasih!" Ucap Pedagang tersebut dan tersenyum melihat ketidakberdayaan CEO Frans didepan Tasya. Pedagang tersebut memberikan semangat dengan isyarat melayangkan kepalan tangannya dan menurunkannya kembali.
Tasya sibuk membenahi barang belanjaannya dan mengajak CEO Frans pergi.
__ADS_1
"Tuan, terimakasih!" Ucap Tasya kemudian merangkul lengan CEO Frans dan mendorongnya untuk mengajaknya pulang karena semua sudah mereka beli.
CEO Frans membawa Tasya pulang ke rumahnya sendiri untuk membuat pangsit dan steak disana.