
Tasya melirik jam di dinding.
"Astaga! Pukul 07.30? Mampus! Aku kesiangan bangun. Bagaimana kalau mereka sadar aku tidak ada di kamar." Gumam Tasya bergegas keluar dari kamar CEO Frans.
Dia berlari keluar kamar. Tanpa sengaja Intan melihat Tasya keluar dari kamar CEO Frans.
"Tasya!" Panggil Intan.
Asisten Riko, Vera dan Anggi menatap penuh tanya kearah Tasya. Mereka menghampiri Tasya.
"Tasya! Bagaimana bisa kamu tidur di kamar CEO Frans?" Tanya Anggi dengan tatapan penuh tanya.
"Ini.. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Jawab Tasya.
"Memangnya apa yang kita pikirkan?" Tanya Vera memojokkan Tasya.
"Aku benar benar terpaksa tidur disini. Percayalah padaku." Jawab Tasya gelisah.
"Kenapa kamu bisa tidur di kamar CEO Frans? Tasyaaa???" Tanya Anggi menatap tajam Tasya
"Jangan berpikir aneh aneh. Aku semalem tidak bisa tidur dan ingin berjalan jalan keluar. Dan tidak sengaja aku bertemu CEO Frans. Dan pas aku kembali ke kamar, aku baru inget kalau aku tidak bawa kunci dan ponsel." Jawab Tasya.
"Kamu benar tidak diapa apain oleh CEO Frans? kamu masih utuh kan? Tanya Anggi khawatir. Anggi memegang lengan Tasya dan memutar tubuh Tasya untuk memeriksa bahwa Tasya tidak berkurang sedikitpun.
"Memangnya dia berani ngapa ngapain aku?" Tanya Tasya tersenyum.
"Kamu pikir Tuan Frans binatang buas?" Tanya Asisten Riko kesal.
"Bukankah dia semacam binatang buas?" Tanya Anggi.
"Memang benar kata kamu. Tapi jangan diprediksikan terlalu jelas juga." Jawab Asisten Riko.
"Lalu dimana CEO Frans?" Tanya Anggi.
"Iya! Dimana dia?" Tanya Asisten Riko.
"Dia sudah kembali ke perusahaan lebih dulu. Katanya ada hal yang harus diurusnya." Jawab Tasya.
"Ya sudah. Biarlah! Yang penting kamu baik baik saja. Ayo kita kembali." Ucap Anggi.
Mereka kembali ke kamar masing masing dan bersiap untuk melanjutkan liburan mereka.
"Kenapa kamu masih ada disini? Kenapa kamu tidak kembali? Bukankah bos kamu sudah kembali?" Tanya Anggi menatap Asisten Riko ketika ingin pergi jalan jalan bersama.
__ADS_1
"Jarang jarang saya bisa liburan seperti ini. Saya rasa kalau saya bersama Nona Tasya, saya akan aman dari gangguan Tuan Frans. Jadi saya akan mengikuti kalian kemana pun kalian pergi." Ucap Asisten Riko dengan rasa percaya diri.
"Baiklah!" Balas Anggi menatap teman temannya dan tersenyum licik.
Vera, Tasya dan Intan tau apa yang di maksudkan oleh Anggi. Mereka mengangguk.
"Ayo!" Ucap Anggi mengajak teman temannya pergi.
Mereka pergi berjalan jalan tanpa istirahat dan membuat Asisten Riko kewalahan.
"Mari kita istirahat sebentar saja." Ucap Asisten Riko dengan nafas ngos ngosan.
"Enggak! Kita belum capek." Jawab Anggi dan berlari menelusuri tepian pantai.
Karena tak kuat lagi berjalan, Asisten Riko duduk di atas pasir dan menunggu mereka yang sedang asyik lari larian ditepi pantai.
Anggi dan Tasya menghampiri Asisten Riko. Mereka memegang tangan kanan kirinya dan membawanya berlari kearah pantai dan membuangnya di atas ombak. Semua tertawa. Asisten Riko berdiri dan mengejar mereka semua untuk membalas dendam. Mereka bercanda ria menikmati liburan mereka.
Setelah makan siang selesai, mereka berencana untuk pulang karena besok harus kembali bekerja. Karena rasa lelah, sesampainya di asrama kampus mereka terkapar dan tertidur dengan pulas.
***
Hari senin...
"Aku sangat lelah. Boleh nggak sih libur sehari lagi?" Tanya Anggi bermalas malasan.
"Tidak masalah! Kamu hanya perlu bersiap siap mendapat nilai C karena membolos." Jawab Vera santai.
"Aku sangat lelah!" Keluh Anggi.
Tasya bangun terlebih dahulu dan pergi ke toilet untuk mandi. Dia berdiri didepan cermin dan menggosok giginya.
"Aneh! Kenapa ketika dia mau menciumku, aku diam saja tak menolak? Dan justru aku memejamkan mataku?" Batin Tasya melamun dan menghentikan tangannya menggosok gigi.
"Tidak! Tidak mungkin aku mempunyai perasaan kepadanya. Tidak! Tidak!" Batin Tasya lagi menggeleng gelengkan kepalanya agar tersadar dari lamunannya.
"Tapi kenapa jantungku berdebar debar setiap kali memikirkannya?" Batin Tasya lagi.
Tasya segera menyelesaikan menggosok giginya dan tetap fokus kepada dirinya sendiri.
***
*Di perusahaan...
__ADS_1
"Manager Vino! Apakah saya mengganggu Anda*?" Tanya Tasya masuk ke Departemen Perancangan dan menghampiri Manager Vino .
"Ada apa?" Tanya Manager Vini tetap fokus dengan komputer di mejanya.
"Saya hanya ingin berdiskusi sejenak dengan Anda tentang definisi konsep kemarin. Ini berkasnya." Jawab Tasya memberikan berkas yang dibawanya kepada Manager Vino.
Manager Vino menerima dan membuka selembar demi selembar berkas tersebut tanpa membaca keseluruhan.
"Oh! Aku telah melihatnya. Menurutku ini kurang lengkap. Jika definisi hanya seperti ini dan tidak lengkap seperti ini, apakah menurutmu semua akan sesuai dengan konsepnya?" Tanya Manager Vino.
"Mungkin tidak." Jawab Tasya merasa agak kecewa.
"Nah! Detail detai seperti ini harus ditulis dengan jelas dalam sebuah perencanaan." Ucap Manager Vino.
"Saya sudah menulis definisinya semua." Ucap Tasya mengelak.
"Ulanglah!" Sekarang jika seperti ini, ini tidak bisa dipahami. Kamu lebih baik membuat diagram alur dari konsep itu sendiri. Sudah, begini saja." Ucap Manager Vino.
"Baiklah kalau begitu! Saya akan kembali dan akan merevisinya sekarang juga. Saya permisi." Ucap Tasya dan membalikkan badannya untuk kembali ke ruangannya.
Tasya merasa sedikit kecewa karena hasilnya kurang memuaskan. Padahal sudah dibantu oleh CEO perusahaan itu sendiri. Di perjalanan menuju ruangannya, dia menghela nafasnya dalam dalam dan membuangnya kasar agar merasa lebih tenang.
"Kamu ini berbicara terlalu berputar putar. Membuat gadis itu kebingungan." Ucap Jhony yang duduk disebelah Manager Vino.
Manager Vino dan Jhony sudah lama akrab. Meskipun posisi mereka berbeda tetapi tak menghalangi keakraban diantara mereka berdua.
"Pernahkah kamu melihat seorang mahasiswa magang bertanggung jawab daam perencanaan project? Menurutku perencana kecil seperti itu selalu mengeluarkan pikiran yang aneh aneh. Jika aku tidak memberinya pelajaran, nanti pasti dia akan mempermainkan kita." Ucap Manager Vino.
"Tapi yang aku dengar, dia dipilih sendiri oleh CEO Frans." Balas Jhony.
"Seharusnya CEO Frans tak menspesialkan orang didalam perusahaan." Ucap Manager Vino.
"Kamu pintar sekali." Ucap Jhony.
Tiba tiba CEO Frans datang menghampiri mereka. Mereka sangat terkejut dan berdiri memberikan hormat kepada CEO Frans.
"CEO Frans!" Sapa Manager Vino dan Jhony bersamaan dengan sopan.
"Tunjukkan padaku rencana detailnya." Ucap CEO Frans.
"Ini!" Ucap Manager Vini menyerahkan berkas perencanaan yang dibuat oleh Tasya.
CEO Frans membuka kembali berkas yang dibuatnya dengan Tasya kemarin. Melihat apakah ada suatu kesalahan. CEO Frans terlihat sangat serius. Manager Vino dan Jhony hanya diam memperhatikannya.
__ADS_1
CEO Frans berpikir sejenak dan pergi membawa berkas tersebut tanpa permisi.