DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 82


__ADS_3

Tepat jam 16.00, CEO Frans keluar dari kantor. Dia berencana pulang ke rumah keluarga Johan. Tanpa memperdulikan Tasya, CEO Frans pergi dengan wajah dinginnya. Tasya hanya menatapnya heran.


"Apakah ini orang yang kemarin bilang menyukaiku? Apakah ini sebuah lelucon? Baru kemarin malam membuat pengakuan, sekarang sudah bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa." Gumam Tasya setelah CEO Frans keluar dari ruangannya.


Hari ini Tasya lembur karena ingin menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan. Sedangkan CEO Frans pulang dengan membawa mobilnya tanpa sopir.


Sampai dipertengahan jalan menuju rumah keluarga Johan, CEO Frans mengalami kecelakaan. Demi menghindari penyeberang jalan, CEO Frans dengan sigap membanting setirnya dan tak sengaja menabrak trotoar jalan. Karena terlalu kencang, dahinya terbentur stir mobil dan pingsan. Orang orang yang melihatnya mulai berkerumunan disekitar mobil CEO Frans dan segera memanggil ambulan.


Beberapa menit kemudian, datang sebuah mobil ambulan. 4 orang petugas keluar dari mobil ambulan dengan cepat menolong CEO Frans yang masih pingsan.


Sesampainya di rumah sakit, CEO Frans segera ditangani oleh dokter. Dan dari bagian administrasi rumah sakit segera menghubungi keluarga CEO Frans. Dari ponsel CEO Frans, suster tersebut membuka riwayat panggilan dan menemukan nama Asisten Riko di panggilan terakhir CEO Frans.


Asisten Riko berjalan menuju pintu keluar perusahaan dan berencana untuk pulang.


Kkkrrriiinnngggg.... Ponsel Asisten Riko berbunyi. Dia mengambil ponsel dari saku celananya. Sebuah nomor baru memanggilnya.


"Halo!" Sapa Asisten Riko.


"Iya halo! Apa benar ini dengan keluarga Tuan Frans?" Tanya Suster tersebut.


"Iya! Ini darimana ya?" Tanya Asisten Riko.


"Ini dari Rumah Sakit Harapan. Tuan Frans mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dirawat." Ucap Suster tersebut.


"Apa?" Tanya Asisten Riko terkejut dan mematikan ponselnya.


Perasaannya mulai gelisah tak tau apa yang harus dilakukannya. Disaat Asisten Riko kebingungan, dia melihat Tasya yang baru keluar dari lift berencana ingin pulang.


"Nona Tasya!" Panggil Asisten Riko.


Tasya mencari suara Asisten Riko dan menghampirinya setelah tau posisi Asisten Riko dimana.


"Iya?" Tanya Tasya singkat.


"Nona Tasya! CEO Frans mengalami kecelakaan." Ucap Asisten Riko gelisah.


"Apa? Jangan bercanda." Ucap Tasya tak percaya.


"Saya tidak bercanda. Saya baru saja mendapat telepon dari rumah sakit." Jawab Asisten Riko.


"Rumah sakit mana? Aku akan segera ke sana." Ucap Tasya khawatir.


"Mari pergi bersama." Ucap Asisten Riko.

__ADS_1


Tasya pergi keluar kantor dan menunggu Asisten Riko mengambil mobilnya di depan pintu keluar. Setelah Asisten Riko tiba, dengan cepat Tasya masuk kedalam mobil. Selama perjalanan Tasya merasa tak tenang dan khawatir. Dia takut terjadi apa apa dengan CEO Frans.


Sesampainya rumah sakit, tanpa memperdulikan Asisten Riko, Tasya keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah sakit.


"Dimana ruang CEO Frans?" Tanya Tasya gemetaran.


"Dia masih ditangani dokter diruang IGD." Jawab Suster bagian resepsionis.


Tasya langsung berlari mencari ruang IGD dan disusul oleh Asisten Riko. Karena pintu IGD masih tertutup, Tasya duduk di kursi tunggu dengan gelisah dan air matanya mulai mengalir di pipinya. Tak tau harus berkata apa, Asisten Riko hanya menemani Tasya dudu disampingnya.


Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD.


"Dokter!" Teriak Tasya berdiri menghampiri dokter tersebut.


"Dokter! Bagaimana keadaannya?" Tanya Tasya menghapus air matanya.


"Kami telah berusaha sebaik mungkin. Si pasien punya kebutuhan khusus dan harus dipindahkan. Apakah kau kerabatnya? Jika benar, tolong ambil ini, dan ikuti prosedurnya sekarang." Ucap Dokter menyerahkan selembar kertas kepada Tasya.


"Saya saja yang melakukan." Sahut Asisten Riko mengambil selembar kertas tersebut dan berlari ke bagian administrasi.


Dokter tersebut membuka pintu ruang IGD dan 2 suster mendorong brankar dan keluar dari ruang IGD untuk memindahkan pasien.


Tasya menghentikan 2 suster tersebut dan menatap wajah yang penuh dengan balutan.


"Tuan Frans bisakah Anda mendengarku?" Lanjut Tasya mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir.


"Bisakah kau mendengarku? Aku minta maaf!" Ucap Tasya semakin tak kuasa membendung air matanya.


Pada saat itu juga, CEO Frans keluar dari ruang IGD lain dan melihat Tasya sedang menangis. Langkahnya terhenti dan mendengarkan apa yang Tasya katakan.


"Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda tak senang. Aku tak pernah mengatakan ini, tapi bolehkah aku memberitahumu sekarang? Bangunlah dan aku akan memberitahumu." Ucap Tasya semakin tak kuasa.


Asisten Riko yang telah menyelesaikan semua prosedur kembali menghampiri Tasya. Dan tanpa sengaja melihat CEO Frans baik baik saja, dia sangat terkejut.


"Itu bukan kau? Kau membuatmu terkejut." Batin Asisten Riko melihat pasien yang tak berdaya di atas brankar dan kemudian menatap CEO Frans yang berdiri menyaksikan apa yang dilakukan Tasya.


"Bangunlah dan aku akan memberitahumu." Teriak Tasya membungkukkan badannya dan tangannya memegang bahu pasien tersebut.


Asisten Riko berjalan menghampiri CEO Frans yang tetap terdiam di posisinya.


"Bangun!" Teriak Tasya lagi.


Tasya menundukkan kepalanya dan terus menangis tanpa henti.

__ADS_1


"Aku menyukaimu!" Ucap Tasya terisak.


Tasya menyeka air matanya dan kemudian mengalir deras lagi. Dia tak kuasa membendungnya.


"Aku menyukaimu. Dari dulu aku menyukaimu!" Ucap Tasya mengusap air matanya yang terus saja mengalir di pipinya.


"Selalu dirimu. Tapi apa kau mendengarku?" Tanya Tasya memantapkan hatinya untuk menyatakan perasaan yang sesungguhnya dia rasakan.


"Bangun! Aku menolak cintamu malam itu, tapi aku tak bersungguh sungguh. Aku pun sedih. Tapi aku tak bersungguh sungguh menolakmu. Aku menyukaimu! Bangunlah dan jawablah aku." Ucap Tasya terus menangis.


"Maafkan aku!" Ucap Tasya semakin meratapi.


Saat itu juga CEO Frans berjalan menghampiri Tasya dan menarik tangan Tasya agar menghadapnya.


Tasya sangat terkejut dan tak mampu mengatakan apapun ketika melihat CEO Frans baik baik saja. Matanya membelalak tak percaya dan terus menatap CEO Frans tanpa henti.


Air matanya semakin deras mengalir dan langsung memeluk erat CEO Frans.


"Kamu menakutiku." Ucap Tasya dalam pelukan CEO Frans.


CEO Frans membalas pelukan Tasya dan mengusap rambut Tasya agar dia merasa lebih tenang.


"Kenapa kamu menakutiku? Kamu jahat." Ucap Tasya dalan pelukan CEO Frans dan terus menangis.


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menakutimu." Jawab CEO Frans.


"Lalu dia?" Tanya Tasya melepas pelukannya dan menatap pasien yang tak berdaya tersebut.


"Aku juga tidak tau." Jawab CEO Frans.


"Kamu jahat!" Ucap Tasya menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku!" Ucap CEO Frans dan kembali menarik Tasya dalam pelukannya.


Sesekali CEO Frans mencium kepala Tasya agar Tasya lebih tenang.


"Kamu jahat! Kamu tau betapa takutnya aku saat berpikir itu adalah kamu." Ucap Tasya mempererat pelukannya.


"Aku benar benar minta maaf. Aku tak pernah bermaksud menakutimu." Jawab CEO Frans.


Asisten Riko hanya diam menyaksikan pertunjukan Tasya dan CEO Frans. Dia merasa lega karena akhirnya melihat mereka bersatu.


Asisten Riko menyuruh suster tersebut melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2