
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" Tanya Tasya dengan nada marah.
"Apa maksud kamu?" Tanya balik CEO Frans tak mengerti.
"Apa benar kamu menyuruh perusahaan Glow untuk menerimaku? Dengan janji akan bekerja sama?" Tanya Tasya lagi.
"Iya! Ada masalah apa?" Tanya CEO Frans.
"Pantesan saja tanpa interview aku langsung diterima dan posisi aku di sana lumayan tinggi. Ternyata karena koneksi?" Gumam Tasya menyeringai dan memalingkan wajahnya kesamping.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya CEO Frans tak sepenuhnya mendengar suara Tasya.
"Aku kan sudah bilang aku tidak butuh koneksi. Aku mau bekerja atas dasar kemampuanku sendiri. Bukan karena koneksi dari siapapun. Aku tidak mau campur tangan dari kamu." Ucap Tasya menatap tajam Tasya.
"Kenapa kamu marah?" Tanya CEO Frans tak mengerti.
"Jelas aku marah. Kamu tak menghargai kemampuanku. Aku ingin bekerja atas dasar kemampuanku sendiri." Jawab Tasya semakin kesal.
"Lalu apa masalahnya?" Tanya CEO Frans lagi dan membuat Tasya kesal.
"Apa masalahnya? Hahh Aku tidak suka dengan caramu menomor satukan uang tanpa perduli kemampuanku." Teriak Tasya kesal.
"Hal kecil seperti ini saja kenapa jadi masalah?" Tanya CEO Frans tanpa memperdulikan perasaan Tasya.
"Hal kecil? Memang ya, bagi kamu semua tentang perasaanku itu hal kecil." Ucap Tasya mengangguk anggukkan kepalanya dengan kecewa.
"Sudah jangan marah." Ucap CEO Frans dan tangannya memegang pundak Tasya.
"Sebaiknya kita berhenti terlebih dahulu. Pahami dulu mana yang perlu dan mana yang tidak perlu untuk kamu ikut campur." Ucap Tasya mengambil keputusan dan pergi meninggalkan CEO Frans.
"Tunggu..." Ucap CEO Frans mencoba menghentikan Tasya.
Tasya yang tak menghiraukannya terus melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan CEO Frans.
***
Keesokkan harinya...
Tasya bersiap pergi ke kantor. Sesampainya di kantor tanpa berpikir panjang, Tasya menyerahkan surat pengunduran dirinya. Dia tak ingin bekerja di perusahaan, dengan posisi tinggi tetapi bukan atas dasar kemampuannya sendiri.
Setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya dan menyerahkan semua berkas proyek yang ditanganinya, dia langsung pergi.
__ADS_1
Tasya berjalan jalan menyusuri tepi jalan untuk mencari udara segar dan menenangkan dirinya. Langkahnya terhenti didepan sebuah kedai kopi. Tasya melihat kedalam kedai, tak banyak orang di sana. Tasya masuk dan memesan kopi americano. Dia berdiri menunggu minumannya siap disajikan. Setelah siap, Tasya memilih duduk dipojokan dan menikmati kopinya.
***
CEO Frans datang ke rumah Tasya ditemani dengan Asisten Riko. Sesampainya didepan pintu rumah Tasya, CEO Frans ingin langsung membuka pintu rumah Tasya dengan memasukkan PIN.
"Tuan! Sebaiknya Anda mengetuk pintu." Ucap Asisten Riko mencegah CEO Frans membuka pintu sendiri.
CEO Frans menurut dan mengetuk pintu.
"Tasya! Tasya! Tasya! Buka pintunya! Tasya!" Teriak CEO Frans memanggil Tasya dan terus mengetuk pintu.
Tak mendapat jawaban dari Tasya, CEO Frans tak sabar dan akhirnya nekat membuka pintu rumah Tasya.
"Tasya! Tasya!" Teriak CEO Frans masuk.
Tak mendapati Tasya diruang tamu CEO Frans mencari di semua ruangan dibantu oleh Asisten Riko. Tak menemukan Tasya, CEO Frans mengambil ponsel dari saku jasnya dan mencoba menghubungi Tasya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi..." Suara operator.
"Asisten Riko, suruh orang untuk mencari tau dimana Tasya." Ucap CEO Frans memerintah Asisten Riko.
"Baik Tuan!" Jawab Asisten Riko.
"Ayo!" Ajak CEO Frans pergi dari rumah Tasya.
CEO Frans merasa putus asa mencari Tasya. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kantor diikuti Asisten Riko. Raut wajahnya tampak jelas bahwa CEO Frans sedang marah. Tak ada satupun karyawannya yang berani mendekatinya.
CEO Frans berjalan menuju kantornya melewati meja karyawan. Mereka hanya saling tatap dengan rasa takut.
CEO Frans menghentikan langkahnya.
"Asisten Riko suruh dari Departemen Pengembang untuk mengadakan rapat sekarang." Ucap CEO Frans dengan nada tegas dan menakutkan.
"Baik Tuan!" Jawab Asisten Riko.
CEO Frans melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, sedangkan Asisten Riko menuju ruangan Departemen Pengembang untuk menginformasikan akan ada rapat dadakan sekarang.
Semua berfirasat ada hal buruk yang akan terjadi. Semua saling tatap dan tampak gelisah. Karena tak ingin membuat CEO Frans menunggu dan akhirnya semakin marah, Semua karyawan dari Departemen Pengembang bergegas menyiapkan file untuk bahan rapat.
Setelah selesai, mereka pergi bersama menuju ruang rapat. Sedangkan Asisten Riko pergi keruangan CEO Frans untuk memberitahu bahwa semua sudah siap untuk rapat. CEO Frans beranjak dan pergi keruang rapat.
__ADS_1
Sesampainya diruang rapat, CEO Frans masuk kedalam disambut dengan rasa takut karyawannya. Semua berdiri menyambutnya dan kembali duduk setelah CEO Frans duduk di kursinya.
CEO Frans terdiam sejenak dan melihat satu per satu wajah karyawannya. Semua tampak gelisah dan takut.
"Rapat kita mulai! Sampai mana perkembangan dari proyek kita kali ini?" Tanya CEO Frans setelah memulai rapat.
Penanggungjawab Departemen Pengembang maju ke depan untuk menjelaskan sampai mana perkembangan proyek tersebut dengan monitor. CEO Frans terkenal sangat teliti dengan matanya yang jeli. Ketika karyawannya tengah menjelaskan CEO Frans memenggal pembicaraannya.
"Berhenti!" Ucap CEO Frans menghentikan penjelasannya.
Seketika karyawannya menghentikan bicaranya dan merasa ketakutan.
"Kenapa di file tertulis angka 5. Itu seharusnya huruf S bukan angka 5." Ucap CEO Frans dan menunjuk ke angka yang salah.
"Maaf Tuan! Saya Salah 1 huruf dalam pengetikannya." Ucap penanggungjawab Departemen Pengembang.
"Dalam dunia bisnis salah 1 huruf saja bisa mengacaukan semuanya. Hanya 1 huruf bisa membuat kerugian besar untuk perusahaan." Ucap CEO Frans tegas.
"Maafkan saya Tuan! Saya akan membenainya kembali." Ucap Penanggungjawab Departemen Pengembang.
"Segera benai, setelah selesai serahkan surah pengunduran diri kamu." Ucap CEO Frans tanpa ampun dan berjalan meninggalkan ruangan rapat diikuti Asisten Riko.
CEO Frans kembali ke ruangannya dan duduk di kursinya dengan menyandarkan badannya. CEO Frans mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Tasya lagi. Tetap tidak aktif.
"Kemana dia pergi?" Gumam CEO Frans berpikir.
"Asisten Riko bagaimana orang suruhanmu? Apakah sudah menemukan Tasya?" Tanya CEO Frans menatap Asisten Riko.
"Belum ada kabar Tuan." Jawab Asisten Riko.
CEO Frans semakin gelisah.
Beberapa saat kemudian terdengar suara dering ponsel Asisten Riko.
"Maaf Tuan, saya angkat telepon sebentar." Ucap Asisten Riko menjauh dan mengangkat teleponnya.
Setelah selesai Asisten Riko kembali menghampiri CEO Frans.
"Tuan Frans, orang suruhan saya baru saja menginformasikan bahwa Nona Tasya sedang berada di rumah Nona Anggi." Ucap Asisten Riko.
"Syukurlah kalau begitu. Aku ada yang perlu aku khawatirkan lagi." Ucap CEO Frans merasa lega.
__ADS_1
"Kamu boleh pulang." Lanjut CEO Frans.
"Baik Tuan, saya permisi." Jawab Asisten Riko membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan kantor CEO Frans.